Sabtu, 06 Juni 2015

Sajak Move On



Awalnya...
Tanpamu dulu terasa berat
Tanpamu dulu hanya rasa sakit yang kurasa
Tanpamu dulu yang ku tahu hanya ada sepi
Tanpamu dulu yang terasa hanyalah hampa
Tanpamu dulu, tiap hari kuisi dengan ratapan sia-sia
Tanpamu, aku pernah merasa bahwa hidupku tak berarti lagi
Tanpamu, aku pernah....

Tapi tidak lagi... tidak lagi...

Aku sadar bahwa rasa itu salah
Aku sadar bahwa aku salah
Aku sadar bahwa kita salah
Dan aku sadar, bahwa aku haruslah berubah
Oh bukan-bukan
Bukan hanya aku, tapi kitalah yang harusnya berubah

Aku sempat marah kepada Tuhan
Karena membiarkanmu pergi begitu saja
Aku sempat marah kepada Tuhan
Karena meski sudah meminta pada-NYA untuk membunuh rasa ini,
namun tak jua DIA kabulkan
Aku marah, dan terus membenci-NYA
Menyalahkannya dari setiap apa yang menimpaku
Aku terus membenci-NYA
Hingga aku lelah, dan merasa kalah

DIA membolak-balikkan hatiku yang tengah galau
Menjungkir balikkannya hingga semua amarah itu menguap dan pergi entah kemana
Hanya ada rasa bersalah dan penyesalan
Juga Cinta lain yang begitu mendamaikan
Cinta yang berbeda dari yang pernah kau beri
Cinta tulus tanpa pamrih
Cinta murni yang tak pernah menuntut balas
Cinta yang...
hanya ingin memberikan yang terbaik untuk ku

DIA mengusap lembut hati yang keras bagai karang di tengah laut
DIA menyiramnya menggunakan air dingin yang menyejukkan
Membersihkan hati yang menghitam karena terlalu banyak maksiat
Hati yang menghitam seperti Hajar aswad
Menyentuhnya, hingga ke bagian yang terdalam

Akhirnya aku pun sadar
Bahwa kehilanganmu adalah salah satu cara-NYA menuntunku untuk menjemput hidayah-NYA

Terimakasih untuk semuanya

Kau bisa
Pergilah jauh, sejauh yang kau bisa
Jangan lagi kau coba tawarkan janji untuk kembali
Jika janji itu hanya untuk mengajakku kembali dalam kemaksiatan

Kau hanya masalaluku,
Dan masa depanku masih menjadi rahasia-NYA
Jangan pernah hubungi aku, jika untuk memberikan harapan semu
Karena aku sudah berjanji kepada-NYA
untuk mencoba move on dan meraih cinta-NYA yang selama ini selalu ku abaikan

Kau
Berjanjilah untuk tidak kembali
Terkecuali dengan niat suci

Cukup kau tahu bahwa aku baik-baik saja
Cukup kau tahu bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi mulai saat ini
Cukup kau tahu bahwa aku
bahagia tanpamu
Cukup kau tahu, bahwa DIA akan selalu menjagaku

Kau
Move On jugalah
Dan gapai cinta-NYA yang mungkin juga kau abaikan
Karena bagaimana pun
Kita tidak akan pernah tahu, dengan siapa hati kita akan berlabuh

Cukup belajar menjadi yang terbaik, dan DIA akan memberikan yang terbaik
Karena DIA akan selalu sesuai prasangka hamba-NYA
Keep Calm and Still Positive Thinking

Jumat, 05 Juni 2015

STOP Whining, When You Know Nothin



Pernah berhubungan entah temenan, kenalan atau cuma sekedar berinteraksi sesaat sama yang namanya orang yang nggak peka?

Kalau jawabannya belum, gue kasih lo ucapan selamat, dan itu berarti lo harus banyak-banyak bersyukur nggak harus bertemu dengan salah satu species makhluk ciptaan Tuhan yang menyebalkan. 

Kalau jawabannya pernah, berarti… berarti kita senasib. Hanya mungkin kadar apes nya beda-beda. Eh, Astaghfirullah… bukan apes juga sih, cuma kadar ujiannya yang berbeda. Biar gimanapun kan mereka saudara seiman juga.

Allah itu Maha Tahu binggo ya. Gue yang suka bodo amat (cuek kelewatan) dengan tingkat kesabaran yang setebal papan triplek, ternyata harus banyak berhubungan dengan orang yang nggak peka dan memiliki kadar kesensitifan yang tinggi. Terkadang kesensitifan mereka itu melebihi babon yang abis lahiran (ya sensitive banget gitu, padahal orangnya mah asli kelewatan nggak pekanya, nggak sadar diri banget kan?, emang iya. #ehh).

Contohnya aja nih, dalam sebuah kelompok (sori, gue bukan alay yang masih suka geng-gengan). Awalnya gue masih nyaringlah apa yang mau gue omongin, mengingat gue belum terlalu akrab dengan para member. Tapi lama-lama eneg juga setiap kali ada urusan yang penting yang seharusnya mereka pada aktif ngomong tapi malah diem aja. Sekali-dua kali bisa lah ya nyabar-nyabarin diri, meskipun sebenernya udah geregetan pingin gigitin burger, eh malah beneran pada diem. Disindir secara halus…. banget, nggak mempan, udah dipancing-pancing, umpannya nggak kena. Mengingat intensitas komunikasi kita lebih sering grup WA, jadi kita sering kopdaran supaya komunikasi kita tetep seimbang, anata online dan offline. Tapi pas pada ketemuan, eh masih pada bungkam juga. Arggghhhh lama-lama bukan cuma burger sama pizza yang gue makan, tapi juga mereka!

Jadilah di grup itu gue bikin pengumuman, bahwa gue capek main kode-kodean,
Gue capek main sindir-sindiran,
Gue capek, berhubungan sama mereka yang NGGAK PEKA,
Gue capek, gue makan ati, gue…. 
Udah bingung harus menggunakan bahasa apa untuk berkomunikasi dengan mereka
Gue nggak mau ada dusta diantara kita

*nangis kejer

Jadi gue meminta ijin (ngasih pengumuman sih lebih tepatnya) untuk ngomong tanpa tedeng aling-aling. Gue nggak akan ngomong pake bahasa kodingan, bahasa tubuh, apalagi bahasa Qalbu. Gue akan ngomong straight to the poin, baik mereka suka atau enggak suka gue nggak akan peduli. Gue akan ngomong dengan cara yang bisa membuat mereka ngerti apa mau gue. Menurut gue, kalau cara baik-baik mereka nggak ngerti, berarti memang harus dengan cara yang nggak biasa.

Dan mereka pun menyadari dan mengakui bahwa mereka memang nggak peka, mereka juga sepakat, nggak keberatan dan mengijinkan gue untuk ngomong to the poin.

Alhamdulillah… gue sempet kepikiran buat sujud syukur atas diterimanya ide menyakitkan itu.

Awalnya semua berjalan seperti biasa. Karena capek harus ngingetin terus-terusan, akhirnya gue nggak peduli mereka mau ngomong atau enggak setiap kali ada masalah, toh selama ini memang mereka paling jago diem walau udah ditunggu-tunggu buat ngomong. Dan setiap kali dipaksa ngomong dengan cara yang seharusnya bisa membuat mereka ngomong, paling ujung-ujungnya mereka ngatain gue galak, mulai berani nyindir-nyindir seolah gue nggak bakal peka kayak mereka. Hell to the low- Hellowwww, kita beda ya… B-E-D-A!, cukup lo aja yang nggak peka.

Terkadang (eh sering ding), Gue suka mancing-mancing mereka dengan cara menjatuhkan mereka. Dengan harapan mereka bakal marah ke gue, atau minimal melakukan pembelaan dirilah. Tapi toh nyatanya mereka cuma diem, dan gue baru tahu kalau buat melakukan pembelaan diri aja mereka masih ogah-ogahan. Sumpah, males gila sama orang-orang pasif begini. Berasa tinggal sama patung.

Aduh... Please deh ya, STOP berlindung dari sebuah hadits yang mengatakan diam adalah emas, Innallaha ma'a shobirin, atau jargon yang mengatakan bahwa mengalah bukan berarti kalah. Anak SD juga tahu itu. Tapi semua itu ada tempatnya kali... dan sebagai orang dewasa yang nggak bisa menempatkan diri?, itu sungguh terlalu!. *Gaya bang Roma
Kalau dihitung-hitung, kayaknya udah nggak keitung, berapa kali gue merendahkan mereka. Gue berharap, dari mereka bakal ada yang tabayyun, minimal nanya tujuan gue itu apa bersikap begitu, tapi toh sepertinya sampai bumi gonjang-ganjing mereka bakal tetap diem dan lagi-lagi cuma berani ngomongin gue di belakang. Hahaha... payah payah payah.

Ada… juga, yang setiap kali ditegur,selalu berpikirnya bahwa gue sedang tersinggung. Sumpeh broh, gue suka ngomelin dia yang kebangetan polosnya, kebangetan ‘baeknya’, kebangetan… kebangetannya deh. Maksud gue sih supaya dia sadar bahwa yang dilakukannya itu salah, eh alih-alih dia sadar, malah selalu berakhir dengan dia yang meminta maaf. Bukan karena dia sadar dan mengakui kesalahannya, tapi karena dia nggak enak hati atau takut gue tersinggung. *capek deh...
Apa-apaan coba dia begituh?. Pingin duet sama Gita Gutawa sambil nyanyi: 

“Pergi kau ke ujung Dunia… hypothermia di Kutub Utara…
Hilang di… Samudra Antartika….
Dan Jangan kembali !!!
Kamu kebangetan Sip
Dasar kurang inisiatip
Dasar enggak peka sip”


#plakk, back to earth tiii!!! Malah nyanyi -_-'

Gue sempet ngerasa dikhianati sih sebenernya. Karena di awal mereka setuju-setuju aja kalau gue ngomong to the poin, eh di belakang malah pada mengungjingkan diriku, mewek-mewek nggak jelas ngomong ini itu. Lucu binggo pas tahu apa yang terjadi di balik layar. Nggak nanya nggap apa. Tapi ya sudahlah. Walaupun sebenernya aku nggak bisa diginiin.

Mungkin aku… bukan pujangga, yang pandai merangkai kata… 

*watdezing!!! (ditendang ke kutub utara)

Bodo Amat mereka mau ngomong apa, gue nggak mau terlalu peduli. Toh selama ini mereka juga nggak peduli dengan perasaan gue. #diamahgituorangnya

Eh enggak-enggak. Gue nggak bisa bodo amat. Gue nggak suka lari dari masalah dan menjadikan diri gue sendiri sebagai seorang pengecut. Gue harus meyakinkan diri bahwa gue bukanlah ababil yang suka sindir-sindiran di sosmed. Ngeladenin komentar-komentar nggak penting yang mampir supaya dibilang kece. Nggak, gue nggak akan kaya gitu, karena tanpa begitu pun semua juga tahu bahwa gue emang kece dari sononya. *halah

Kamis, 04 Juni 2015

Jodoh, Takdir dan Do'a

Halo, Nama gue Risti, Single dari lahir, dan belum pernah menjomblo. Galau pasti pernah, naksir orang juga udah berkali-kali, tapi alhamdulillah belum pernah ngerasain rasanya putus sama pacar, musuhan sama mantan, atau bermasalah sama gebetan mantan gara-gara sang mantan masih mikirin gue (elah, kasus banyak orang ini mah),  wkwk

Eits, haters, jangan bilang gue lagi promosi, tapi kalau kalian mikirnya gitu ya nggak papa juga sih. Gue boleh nulis apa yang mau gue tulis, jadi kalian juga boleh menilai dari apa yang kalian lihat dari tulisan gue ini.

Ngomong-ngomong soal single dari lahir, bukan berarti gue nggak mikirin tentang jodoh ya. Mikir ke sana (tentang masa depan) jelas boleh-boleh aja, bahkan wajib mungkin bagi sebagian orang, tapi menurut gue ya, sesuai porsinya aja.

'Maksudnya?'

Ya maksud gue, jangan nggak mikirin, tapi jangan sampai galau kebangetan gara-gara terlalu mikirin juga. Intinya, setiap fase kehidupan yang kita alami sekarang ini itu, nggak terlepas dari campur tangan ilahi, kita nggak bisa maksa atau juga mengelak. Kalau orang bilang, semua itu namanya takdir.Jadi ya, nikmati aja semua prosesnya, karena suatu saat lo pasti bakal kangen dengan masa-masa ini.

'Trus kalau gue jomblo, single atau apapun namanya selama seumur hidup, itu juga takdir?, berarti Tuhan nggak adil dong sama gue?!'

#plakkk

"Ngaca woi ngaca!"
Takdir itu bisa dirubah dengan do'a, pernah denger kan kalau senjatanya umat muslim itu adalah do'a?, lo pikir dulu 300 tentara umat muslim kenapa bisa menang waktu melawan 1000 tentara kaum kuffar Quraisy di Perang Badar?. Rasulullah berdo'a man!, berdo'a tanpa lelah sampai selendangnya terjatuh, sampai Abu Bakar juga berulang kali meminta Rasulullah menghentikan do'anya yang terlalu lama."

'oh... jadi gue cuma perlu berdo'a aja ya?'

"Ya kalau lo Rasulullah silahkan." pasang muka polos.

'Loh, maksud lo?,  katanya tadi senjatanya umat muslim dengan berdo'a.'

"Iya, tapi orang do'a juga kudu diimbangi dengan usaha keleusss."

'Oh... Gue udah usaha, tapi kok jodoh gue belum juga dateng ya?'

"Usaha yang pegimane maksud lo?, yang pedekate sama anak orang?, yang flirting-flirtingan sama temen kampus?, atau yang mana?" tersenyum penuh arti.

'ehmm, ya...  kan itu usaha juga' garuk-garuk kepala.

"Jodoh itu hak prerogatifnya Allah sayang... kalau kamu mau mendapatkan orang yang tepat ya berarti kamu juga harus belajar menjadi orang yang tepat untuk seseorang yang kelak menjadi pendamping hidup kamu."

'maksud lo?'

"Orang bilang, jodoh itu cerminan diri. Lo pasti pernah denger kan, soal laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik, pun begitu sebaliknya."

'iya sih, tapi kan gue butuh waktu untuk penjajakan. Supaya nggak kayak beli kucing dalam karung.'

*ketawa guling-guling

"Dalam Islam, sudah mengajarkan proses yang baik, jadi lo nggak bakalan kayak beli kucing dalam karung. Kalau lo beneran siap, lo bisa ta'aruf untuk mengenal dia, dan itu ada batasan-batasannya, ada aturannya, ada cara mainnya. Jadi gue jamin lo nggak bakalan kayak beli kucing dalam karung."

'Oh gitu. Gue sih pingin ta'aruf gitu, cuman kayaknya tabungan gue belum cukup deh buat nikah, menurut lo gue harus gimana?''

"Yelah, nikah itu gratis, kalau emang beneran mau nikah untuk menghindari nafsu, zina dan gidaan syaithan yang lain. Tinggal datang ke walinya, ijin nikah di KUA, beres. Tapi kalau lo emang belum siap, ya dari sekarang persiapkan semuanya. Sambil nabung, sambil sama-sama memperbaiki diri. Yang jelas kalian nggak usah ngebuat ikatan dengan jadian, tunangan, atau apa pun namanya. Ya walaupun kalian bilang nggak ngapa-ngapain, tapi setan itu selalu punya cara buat ngejerumusin manusia."

'Tapi, kalau dia disamber orang lain gimana?'

"Ya itu udah resiko. Kan gue bilang, jodoh itu hak prerogatifnya Allah. Kalau dia jodoh lo, pasti Allah bakal menyatukan kalian bagaimana pun caranya. Tugas kita hanya berusaha untuk memperbaiki diri hingga kita benar-benar siap, lahir maupun batin."

'ok deh, gue bakal mempersiapkan diri sebelum menjemput jodoh gue'

"Good boy..."

Nah kan gaes, emang nggak mudah ngejaga hati, Tapi kalau bukan kita sendiri yang menjaga, lantas siapa lagi?. Yuk sama-sama saling mengingatkan kepada sesama muslim untuk tetap berada di jalan yang lurus. Kalau ada yang salah ya di ingetin, bukan justru didukung. Sehingga kelak di yaumil akhir, kita tidak turut disalahkan atas saudara kita karena kita sudah mengingatkannya.


Happy writing, happy reading, happy studying! 

Rabu, 03 Juni 2015

Sirah Nabawiyah: Perang Uhud Part II

Masih tentang Perang Uhud

Setelah berpalingnya kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, pasukan kaum muslimin kembali melanjutkan perjalanan, mereka berhenti disebuah lembah yang membelakangi Uhud dan menghadap ke Madinah. Rasulullah menempatkan 50 pasukan memanah untuk bersiaga di atas bukit dan menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pemimpin mereka. Rasulullah Salallhu ‘alaihi wasallam bersabda kepada pasukan pemanah;Jangan tinggalkan posisi kalian dalam kondisi apapun! Lindungi punggung-punggung kami dengan panah-panah kalian! Jangan bantu kami sekalipun kami terbunuh! Dan jangan bergabung bersama kami sekalipun kami mendapat rampasan perang!

Dalam riwayat Bukhari : “Jangan tinggalkan posisi kalian sekalipun kalian melihat burung-burung telah menyambar kami sampai datang utusanku kepada kalian”

Menjelang perang, Rasululah berdiri di hadapan umatnya sambil membawa pedangnya. Beliau bersabda: “Siapa diantara kalian yang mampu memenuhi fungsi pedang ini?” dan dengan lantang Abu Dujanah menjawab: “Aku Ya Rasulullah! Aku yang akan memenuhi fungsi pedangmu.” Rasulullah pun menyerahkan pedang itu kepada Abu Dujanah. Abu Dujanah menerimanya, ia segera mengeluarkan ikat kepala berwarna merah dan mengikatkannya di kepalanya, kemudian ia berjalan mengelilingi barisan pasukan kaum muslimin dengan langkah angkuhnya. Melihat itu Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya cara jalan seperti itulah yang dimurkai Allah, kecuali di tempat ini (perang).”

Ya, Allah dan Rasul-NYA tidak menyukai dan juga tidak mengajarkan kesombongan, tapi untuk di medan jihad, Allah dan Rasul-NYA mengijinkan. Semua orang tahu, bahwa ketika Abu Dujanah sudah memakai ikat kepala berwarna merahnya, berarti dia siap berjihad hingga menjemput syahid.

Peperangan dimulai dengan duel antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin. Dari kaum muslimin diwakili Hamzah bin Abdul Muthalib, Hanzhalah bin Abu Amir dan Ali ibn Abi Thalib. Setelah itu perang pun berkecamuk. Hamzah, Ali dan para sahabat menyerang kaum musyrikin secara membabi buta. 700 Pasukan Muslimin melawan 3000 Pasukan Kuffar!, sungguh mustahil bagi orang-orang yang tidak beriman, tapi tidak bagi umat yang beriman. Kaum Kuffar kocar-kacir, bahkan banyak dari mereka yang melarikan diri. Tak dihiraukannya teriakan dan makian kaum wanita mereka. Melihat itu, pasukan pemanah yang berada di atas bukit menjadi gelap mata, dan mereka pun berselisih.
 
“Kita diamanahkan untuk tetap tinggal saat peperangan berlangsung, sementara sekarang perang sudah usai. Lihatlah, para kaum kafir Quraisy sudah melarikan diri.” Ucap salah satu diantara mereka.

“Lupakah kalian dengan wasiat Rasullulah?” Abdullah bin Jubair, komandan pasukan pemanah mengingatkan pasukannya, namun sayang mereka tak menghiraukan perintah Abdullah bin Jubair untuk tetap tinggal. Mereka turun ke medan pertempuran dan turut mengambil ghanimah (harta rampasan perang), dan saat itulah petaka terjadi, sesuatu yang tidak diinginkan oleh Rasulullah dan kaum muslimin. 

Pasukan berkuda kaum musyrikin yang bersembunyi di balik bukit, dipimpin oleh Khalid bin Walid (ketika itu masih belum memeluk islam) yang melihat pasukan pemanah kaum muslimin telah turun ke medan pertempuran dan meninggalkan persenjataan mereka, tak mau membuang waktu. Dia segera menyerukan pasukannya untuk menyerang kaum muslimin.

Secepat kilat, kemenangan yang tadi hampir diraih pun lenyap digantikan dengan kekalahan dan luka jasmani serta ruhani. Pasukan kaum muslimin yang tidak siap atas serangan kaum musyrikin pun mulai tercerai berai. Perang kembali berkecamuk. Para sahabat mencoba melindungi Nabi, mereka menghalau anak panah dengan tubuh mereka. Rasulullah Jatuh ke dalam lubang yang digali kaum muslimin untuk memperangkap musuh, Ali bin Abi Thalib memegang tangannya dan Thalhah bin Ubaidilah membantu Rasulullah berdiri. Abu Sufyan bin Harb mencoba mendekati Nabi dengan kudanya, lalu Hanzhalah menghalaunya. Dia memukul tulang kering kuda Abu sufyan sehingga Abu Sufyan tersungkur, namun sebelum ia sempat membunuh Abu Sufyan, seorang kafir Quraisy yang bernama Syadad bin Syaub membunuhnya terlebih dahulu. Hanzhalah pun menjemput syahidnya saat sedang melindungi Nabi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat para malaikat memandikan Hanzhalah bin Abu Amir di antara langit dan bumi dengan embun di dalam bejana-bejana perak.”

Menurut penuturan sang istri, ternyata Hanzhalah berangkat ke medan jihad dalam keadaan junub. Mereka adalah pasangan pengantin baru. Dan ketika seruan jihad itu dikumandangkan, tanpa tapi dan tanpa alasan, Hanzhalah langsung bangkit dan bergegas memenuhi seruan itu.

Kaum Kafir masih belum puas karena Nabi belum terbunuh. Lima pemuda muslimin turut menghalau serangan, satu demi satu dari mereka berguguran, dan yang terakhir pemuda bernama ‘Atikah. Menjelang kematiannya Rasulullah meminta salah seorang sahabat untuk membawa ‘Atikah kepadanya, dan ‘Atikah meninggal di pangkuan Rasulullah.

Wahsyi, seorang budak Habasyah yang sejak awal memang mengemban misi khusus untuk membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, memperhatikan Hamzah. Dia menimbang-nimbang tombaknya, kemudian mengarahkannya kepada Hamzah hingga tombak itu tembus diantara kedua kakinya. Dan setelah memastikan Hamzah mati, Wahsyi mengambil tombaknya dan kembali ke Madinah.

Ketika Islam telah Berjaya, Wahsyi  ditanya oleh Rasulullah, tentang bagaimana ia membunuh Hamzah, Wahsyi pun menceritakannya:, “Dahulu aku adalah budak Jubair bin Muth`im. Pamannya yang bernama Thuaimah bin Adi terbunuh di perang Badar (dibunuh oleh Hamzah Radhiyallahu anhu). Majikanku (Jubair) berkata kepadaku : “Jika engkau berhasil membunuh Hamzah Radhiyallahu anhu , maka engkau akan bebas.” Wahsyi berkata : “Aku dahulu adalah ahli tombak, sedikit sekali lemparan tombakku yang tidak mengenai sasaran. Aku keluar bersama beberapa orang. Ketika mereka telah bertemu, akupun mengambil tombakku dan keluar hingga melihat Hamzah Radhiyallahu anhu ada di antara orang banyak. Ia seperti unta yang berwarna keabu-abuan. Ia mengancam orang-orang dengan pedangnya dan tidak pernah melepaskan pedangnya. Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya aku telah bersiap-siap (bertarung) dengannya, dan tiba-tiba aku didahului as-Siba` bin `Abdul Uzza al-Khuzai. Tatkala Hamzah Radhiyallahu anhu melihatnya, Hamzah berkata : “Kemarilah wahai anak wanita tukang khitan.” Kemudian dia dipenggal oleh Hamzah Radhiyallahu anhu . Demi Allah Azza wa Jalla, tidak luput sabetan pada kepalanya. Aku tidak melihat sesuatu yang lebih cepat dari jatuhnya kepalanya. Kemudian akupun menggerakkan tombakku, dan ketika telah benar-benar yakin, akupun melemparkannya. Lemparanku tepat mengenai perut bagian bawahnya, hingga tembus ke antara kedua kakinya. Ia pun pergi untuk bangkit, akan tetapi tidak kuat. Kemudian aku menunggunya hingga mati, setelah itu aku berdiri di hadapannya. Aku ambil tombakku dan kemudian kembali ke pasukan dan duduk.”

Tidak ada yang lebih bahagia mendengar kematian Hamzah selain Hindun bin Utbah. Bahkan ketika peperangan usai, Hindun memotong hidung dan telinga Hamzah, kemudian dijadikan sebagai kalung dan gelang. Lebih parahnya lagi, Hindun membelah dada Hamzah dan mengunyah hatinya, sayangya karena tidak mampu menelan, jadi hati itu dimuntahkannya lagi.

Mushab bin Umair syahid di tangan Ibnu Qumai-ah al-Laitsi seorang pasukan berkuda kaum Kafir Quraisy yang saat itu mengira bahwa Mushab bin Umair adalah Rasulullah. Mushab yang ketika itu memegang panji kaum muslimin di tebas tangan kanannya, kemudian ia memegang panji itu dengan tangan kirinya, tapi Ibnu Qumai kembali menebas tangan kirinya, lalu Mushab mendekap bendera tersebut, hingga anak panah menumbangkannya. Rasulullah kemudian menyerahkan panji pasukan muslimin kepada Ali bin Abi Thalib. Dan dengan bangga Ibnu Qumai-ah Al-Laitsi kembali kepada kaum musyrikin dan berteriak: “Aku telah membunuh Muhammad!.”

Kaum muslim yang mendengar kabar bahwa nabinya telah syahid menjadi down, mereka seolah-olah kehilangan pijakan. Sebagian dari mereka melarikan diri. Bisikan setan yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati masuk ke hati mereka. Anas bin Nadhar yang melihat beberapa kaum muslimin tengah duduk disaat perang tengah berkecamuk menghampiri mereka dan bertanya: “Apa yang kalian lakukan di sini?!”

“Duhai Anas, Rasulullah telah mati. Lalu apalagi yang bisa kita lakukan?” Tanya salah seorang diantara mereka

“Demi Allah! Jika benar Rasulullah telah mati, maka matilah kalian sebagaimana beliau mati!” bentak Anas bin Nadhar. Kemudian ia kembali ke dalam pertempuran hingga ia pun syahid ditangan pasukan kuffar.

Karena Hal ini Allah menurunkan ayat: "Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan berbalik ke belakang (murtad)?, Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun." (QS.Al-Imran: 144)

Pasukan kaum muslimin mundur. Rasulullah dibantu para sahabat memasuki sebuah celah dibukit itu. Gigi seri bagian kanan bawah Rasulullah retak, pelipis dan pipinya berdarah. Pecahan-pecahan logam sebesar cincin menancap di dagingnya. Maka, mereka berhenti sebentar dan Abu Ubaydah mengeluarkan pecahan logam itu satu-persatu dengan giginya. Luka-luka itu kembali berdarah. Malik dari Khazraj menyedotnya dan kemudian menelannya. Nabi bersabda: “Barangsiapa darahnya menyentuh darahku, api neraka tak akan menyentuhnya.”

Fatimah membersihkan luka Rasulullah, namun darahnya tak juga berhenti, akhirnya dia membakar pelepah dan menggunakan abunya untuk menghentikan darah yang mengalir.

"Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung sedang mereka memperlakukan nabinya seperti ini, padahal ia menyeru mereka ke jalan Allah." ucap Nabi sambil mengelap darah di wajahnya.


Lalu Allah menegur Rasulullah dengan ayat: Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim." (QS.Ali Imran: 128)
 
Saat pasukan Kuffar meninggalkan medan perang, Rasulullah dan para sahabat mendatangi  medan perang untuk mencari jasad kaum muslim. Dan betapa teriris hatinya, melihat jasad para sahabat yang sudah tak lagi lengkap. Sebagian besar telinga dan hidung mereka telah dipotong. Dan ketika melihat Jenazah pamannya, beliapun menangis.

Ya!, kaum muslimin memang kalah di Perang Uhud. Ketidak tsiqohan (taat) para pasukan pemanah untuk tetap tinggal di atas bukit dan justru ikut turun mengambil ghanimah menjadi titik tolak kehancuran. Kemenangan di depan mata raib berganti luka yang mendalam tidak hanya bagi Rasulullah, tetapi juga kaum muslimin. Di Uhud, mereka kehilangan orang-orang terbaiknya. 

“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Allah mempunyai karunia kepada orang-orang yang beriman.” (QS.Al-Imran: 152)

Para Kaum Munafiqin menyalahkan Rasulullah atas peristiwa ini. Lalu Allah menurunkan ayat tentang mereka: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka Bumi atau berperang: "Seandainya mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak akan mati dan tidak akan terbunuh." Allah akan menimbulkan rasa penyesalan di dalam hati mereka karena sikap yang demikian itu. Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS.Al-Imran: 156.)

Betapa banyak ‘ibrah yang dapat diambil dari kisah Perang Uhud ini. Tentang sikap, sifat kaum munafik, tentang ke tsiqohan kepada pemimpin, tentang kesabaran dalam menghadapi musibah. Karena perang Uhud pula, aum muslimin mengalami kemenangan-kemenangan pada perang selanjutnya, dan banyak hal lain yang seharusnya bisa kita dapatkan dengan mempelajari Sirah Nabi.

Wallahu a’lam bishowab


Perang Uhud Part I

Perang Uhud terjadi pada bulan sya'ban tahun ke 3 Hijriah. Dilatarbelakangi atas kekalahan kaum kuffar Quraisy pada Perang Badar Kubra. Dibantu dengan harta yang besar kafilah dagang Abu Sufyan, dan didukung oleh Al-Habisy (suku-suku di sekitar mekah yang terlibat perjanjian dengan kaum Quraisy) mereka membentuk pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wasallam. Dalam Perang Uhud, tidak hanya kaum laki-laki saja yang turut berperang, melainkan kaum wanita pun juga ikut, mereka di pimpin oleh Hindun bin Utbah untuk memberi semangat pasukan kuffar, dan juga bertugas menghalau apabila ada pasukan kuffar akan melarikan diri. Saking dendamnya kepada kaum muslimin, Hindun bahkan sengaja menyuruh Habsyi (budak Habasyah yang terkenal pandai menombak) untuk membunuh Hamzah, paman Nabi untuk mwmbalas dendam kematian pamannya, Thu'aimah bin Adi.

Mendengar kabar itu, Rasulullah segera melakukan musyawarah dengan kaumnya. Rasulullah bersabda:
"Jika kalian mau, tetaplah tinggal di Madinah dan biarkan mereka di tempat mereka kini berada. Jika mereka di tempat itu, maka ia menjadi tempat yang paling buruk bagi mereka. Jika mereka menyerang balik kita, maka kita akan menyerangnya dari dalamnya."

Ya, Rasulullah memang lebih condong agar kaum muslimin tetap tinggal di Madinah, menunggu kaum kuffar datang menyerang, dan hal ini didukung oleh golongan tua, yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul, salah satu pemuka/pemimpin kaum yahudi pada masanya. Tapi golongan muda dan mereka yang waktu itu tidak berkesempatan untuk mengikuti Perang Badar, mereka protes dan mendesak agar mereka lebih baik menyerang kaum kuffar di tempat mereka berada, agar kaum muslimin tidak cap sebagai orang yang pengecut. Mendengar itu Rasulullah masuk ke dalam rumah dan memakai rompi perangnya. Menurut Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq syarah Ibnu Hisyam, waktu itu adalah hari jum'at, dan ada seorang kaum Anshar yang bernama Malik bin Amr wafat, beliau keluar setelah menshalatinya.

Melihat Rasulullah keluar dari rumah dengan rompi perangnya, para golongan muda yang tadi meminta untuk keluar dari Madinah dan menyerang pasukan musuh yang berjumlah 3000 orang, mereka menyesali apa yang mereka lakukan. Mereka berkata: "Kita telah lancang memaksamu untuk keluar, dan itu tidak sepatutnya kami lakukan. Bila mau silahkan duduk kembali, mudah-mudahan Allah mencurahkan shalawat kepadamu."

Kemudian Rasulullah Salallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Apabila seorang Nabi telah mengenakan rompi perang, maka tidak patut baginya melepaskannya kembali, hingga ia berperang." (HR. Bukhari)
Rasulullah pun berangkat dengan 1000 kaum muslimin. Ketika mereka sudah sampai di sebuah lembah antara Madinah dan Uhud, kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul yang berjumlah 300 orang berpaling/melarikan diri dan kembali ke Madinah. Abdullah bin Amr bin Haram menyuruh agar Pasukan  munafik itu kembali, tapi tidak dihiraukan oleh mereka. Abdullah bin Ubay bin Salul berpaling dengan alasan karena Rasulullah tidak mau mendengarkan usulnya untuk tetap tinggal dan lebih memilih usulan golongan muda. Akhirnya, dengan 700 pasukan yang tersisa, termasuk diantaranya adalah 50 pasukan pemanah, mereka melanjutkan perjalanan untuk berperang di Gunung Uhud.


to be continued

Senin, 01 Juni 2015

Tentang Menasihati Saudara Kita

Ahad sore, ditengah hutan, ditemani rintik hujan. 

Sedang santai-santainya jalan sembari menggandeng tangan teman yang tengah kesakitan, kami bertemu segerombolan anak cowok sesama pendaki yang sedang jongkok mengerubungi carriernya. Mereka membelakangi jalan setapak yang akan kami lalui. 

Niatnya mau sekedar basa-basi negur atau numpang permisi seperti yang biasa dilakukan oleh umumnya pendaki ketika saling mendahului, eh kami malah dihadapkan dengan 'pemandangan' yang kurang menyenangkan. 

Sorry to say, tapi emang kebanyakan cowok suka kali ya make celana diplorotin ke bawah -_-". 

Dan dengan bodohnya, bukannya diem aja trus langsung permisi dari situ, ini mulut malah berkhianat dengan menggelontorkan kata;
"Mas celananya"
*sambil nyelonong dan nyaris membekap mulut sendiri. 

Krik krik krik

Mereka diam, tidak melanjutkan aktivitas mereka, dan kita berdua pun berusaha pergi menjauh secepat mungkin, meskipun itu sia-sia karena orang di sebelah hanya bisa tertatih, berjalan pelan menapaki setiap anak tangga. 

Tak lama tawa mereka pun pecah

"Celengan." Ujar salah seorang dari mereka

"Dia mah orangnya gitu teh"

Ish Ish Ish... entah apalagi yang mereka ucapkan. 

"Gue salah ya ngebilangin?" tanyaku ke teman di sebelah. Dia cuma cengar-cengir nahan sakit kakinya, sementara gue pingin nyari cangkul dan ngumpet dalam tanah saat itu juga, sampe mereka pergi. 

Yah, silahkan salahin atau benerin kakak gue. Karena kelakuan gue yang begini ini ya karena dia juga. Dulu setiap pergi sama dia, dan ngeliat cewek pakai celananya melorot dan memamerkan 'perhiasannya' (entah di motor, di pantai, atau dimana pun) biasanya dengan sok polosnya akan disamperin dan dikasih tahu secara langsung olehnya. 

Pernah suatu ketika gue dan dia naik motor, kami melihat celana seorang wanita melorot, sementara kaos ketat yang terbungkus jaket mininya naik, sehingga auratnya terbuka, kakak langsung mensejajarkan motornya dan memberitahukan hal itu kepada orangnya langsung. 
"Mbak, celananya melorot." Orang itu dan pasangannya pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

"Ya jujur kan lebih baik, dari pada dia malah malu sendiri." begitu menurutnya.

Gue rasa dia benar, dan selagi bisa, gue juga mencoba untuk mengingatkan tentang hal-hal sepele semacam itu jika Allah beri kesempatan. Melihat situasi dan kondisi juga tentunya, nggak mungkin juga kan di depan umum negor orang?. Nggak sopan namanya. Menegur atau mengingatkan orang kan juga ada adab-adabnya, dan salah satunya adalah tidak di depan umum, agar orang itu tidak tersinggung dan merasa terhina atas teguran kita. 

Iya lho, sehalus apapun kita mengingatkan orang, tapi kalau dilakukan di depan umum, itu sama artunya dengan melempari dia dengan sebuah kotoran, tapi kalau dilakukan face to face, pasti lebih mak jleb! 

Meskipun awalnya gue juga sempet protes sama kakak gue, dan awalnya juga gue ragu-ragu buat negor orang yang begitu, pokoknya serba nggak enaklah. Tapi setelah dipikirkan lagi dengan seksama, kalau setiap kali ada orang yang salah di jalan, dan kebetulan kita yang ngeliat tapi kita nggak negor atau ngingetin, kok jadi kayak gimana gitu. Padahal bisa jadi orang itu mengulangi kesalahan yang sama bukan karena sengaja, melainkan karena selama ini nggak ada yang ngingetin atau ngasih tahu dia bahwa yang sedang dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan.

Sebagai contoh lagi, sesuatu yang sering gue alami di sekitar gue. Ada ibu-ibu atau mba-mba yang berjilbab tapi pakaiannya alamak jang. Secara naluriah pasti gue pribadi ikutan melotot dan beristighfar, pingin ngingetin orang itu segera. Tapi sayangnya orang-orang begini ketemunya di tempat ramai seperti halte, pasar, dan stasiun. Gue sendiri karena ngerasa nggak bisa ngingetin akhirnya memilih diam dan mencoba mencari pemandangan lain, tapi nggak jarang juga yang malah bisik-biaik membicarakan penampilan ibu tersebut. 

Mengingat seringnya momen untuk mengingatkan saudara seiman di tempat umum sering terlewat, sekarang gue pun selalu membawa alat tulis di dalam tas, jadi nggak ada alesan untuk tidak mengingatkan saudara kita yang mungkin khilaf. Dengan begitu juga, berharap semoga Allah juga akan selalu mengingatkan gue sebagai hamba-NYA yang dhoif yang sering banget khilaf ini dengan berbagai cara. 

"Eh itu jangan-jangan orang yang tadi gue tegur ya mbe?" tanyaku kepada teman yang sakit tadi. 

"Lah iya, emang lo baru sadar?."

"Iya, gue mana tahu kalau itu mereka, ngeliat mukanya juga kagak, pantes dari tadi mereka pada senyam-senyum nggak jelas setiap mereka lewat duluan atau kita gantian melewati mereka."

Kami pun melanjutkan perjalanan. Langit sudah semakin gelap. Tidak ada cahaya rembulan, tidak ada gemerlap gemintang, hanya ada cahaya headlamp yang talinya sudah copot, dan senter yang sinarnya semakin lama semakin meredup, pertanda bahwa batrenya tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi. Tidak ada yang tersisa di dalam tas, kecuali bersachet-sachet madu rasa jeruk. 

Masih tentang Mt. Gede via Cibodas kala itu.