Kamis, 05 Maret 2015

Agar Perbedaan tetap Indah





Di kotak-kotakkan atau hanya sekedar "merasa" di kotak-kotakkan menjadi hal yang biasa dalam setiap hubungan antar individu. Yang membedakan keduanya adalah, kalau di kotak-kotakkan itu, jelas ada orang yang secara terang-terangan membedakan kita ke dalam kelompok satu dengan kelompok lain, sementara "merasa" di kotak-kotakkan adalah keadaan dimana semua orang menganggap kita biasa saja, tapi diri sendiri merasa dijauhi dan dibedakan, akhirnya diri sendiri lah yang justru menjauhi

Di suatu tempat sendiri gue di masukkan ke dalam kategori anak muda yang kurang fashionable, kalem, dan penurut, atau lebih sering dikatakan "Jadul", sementara ditempat lain orang menganggap gue ini bawel, galak, begini dan begitu.

Well, seringnya kalau ada orang yang mau ngomong begini dan begitu gue sih gak suka ambil pusing. Karena kebanyakan orang menilai dari apa yang mereka lihat, mereka belum tentu memahami apa yang kita lakukan, jadi ya whatever lah gimana orang mau nilai.

Menurut gue, orang berperilaku berbeda di suatu tempat dan tempat lain itu bukan hanya karena sekedar cari muka, munafik agar terlihat baik dimata orang lain atau sejenisnya. Contoh kecilnya, di kantor gue emang gak suka banyak ngomong karena gue menghargai orang-orang di kantor, entah itu atasan maupun teman-teman yang usianya jauh lebih tua, jadi setiap kali ngomong gue jaga nada, intonasi, bahasa, dll, gue menyebut itu sebagai cara gue bersopan dan santun. Sementara kalau lagi di kampus atau ketemu teman-teman di luar, gue jarang diem kalau bukan karena lagi laper atau bete. Nah dari sini orang terkadang salah menilai.

Gue di pernah dianggap munafik hanya karena seseorang yang menilai gue kalem itu tau gue suka naik gunung. Masalahnya adalah "anak gunung" versi pemikiran orang itu adalah sejenis orang-orang kurang kerjaan yang nyia-nyiain waktu dan tenaganya untuk hal-hal yang gak penting, juga anak gunung laki-laki dan perempuannya itu gak bisa dipercaya di gunung gak bakal "ngapa-ngapain". Pokoknya isi kepalanya hal negatiflah tentang anak gunung. Orang-orang kayak gini ini, mau dijelasin sampe bibir dan mata kedutan, bakal gak ada hasilnya. Alhasil gue cuma diem dan sering dianggap gak ada sama itu orang meskipun kita bernafas di tempat yang sama. Nunggu waktu Allah yang kasih jalan aja. Ngotot gak ada gunanya.

Memaknai perbedaan emang gak mudah kalau kita masih menganggapnya sulit. Di kantor, gue juga ketemu orang dengan karakter yang berbeda. Berbedaan pendapat juga pasti pernah ada, tapi kaita juga punya beberapa persamaan. Seperti bakal segera napsu setiap ngeliat air bahkan kuat berendem bersama selama berjam-jam di kolam renang, kita juga suka gak suka ngeliat potograper nganggur, heheh. Alhamdulillah kita bisa hidup beriringan.

Tinggal dilingkungan dengan berbagai macam perbedaan itu sesuatu banget. Kudu bener-bener saling ngertiin, saling ngehargain, saling ngejaga, dan kudu-kudu yang lainnya.

Sesuatu itu indah ketika kita menganggapnya indah, dan sesuatu itu buruk ketika kita menganggapnya buruk

Perbedaan itu rahmat, anugrah, berkah. Buat apa saling sikut, tendang, mencaci, berprasangka buruk, dan melakukan hal-hal negatif lain?

Toh setiap perbuatan bakal balik lagi ke diri sendiri, ye kan?



Jumat, 13 Februari 2015

Bukan Patah Hati

Jangankan melihatnya, mendengar suaranya saja, hatiku sudah ngilu, sakit

padahal untuk mendapatkannya aku harus berkorban besar,
tapi baru beberapa waktu berlalu, hatiku sudah dibuatnya hancur
dua minggu!  dan kita harus berpisah

aku tahu ini salahku
karena lupa dan ceroboh
tak menjaganya

berpisah dengannya selama tiga bulan, hanya membuatku frustasi

aku ingin menunggunya kembali disini, tapi orang-orang sekitarku seakan tak peduli dengan perasaanku, mereka mencibir dan memojokkanku

akhirnya aku "terpaksa" mencari penggantinya

aku sudah nyaman dengannya, dia sudah menemaniku ke tempat-tempat indah

hatiku mencelos mengingatnya lagi

Tujuh bulan berlalu, dan akhirnya dia benar-benar kembali

tapi aku gamang

tak mungkin aku memiliki keduanya, terlalu berlebihan. Aku hanya boleh memilih salah satu, dia atau yang sekarang kumiliki

Mungkin dia lebih bagus dan famous, tapi aku tak bisa kembali memilihnya
aku harus belajar setia

akan kubiarkan dia bersama yang lain, meski sakit dan ngilu itu masih ada

aku akan belajar, menjaga apa yang aku miliki sekarang

belajar untuk bersyukur


Xiaomi vs Lenovo

maaf aku pilih Xiaomi
selamat tinggal Lenovo kuh

#purapurategar

Senin, 09 Februari 2015

Dear my Lovely Bro...

Harus mengatupkan gigi ini rapat-rapat dan berusaha untuk tidak mendongakkan kepala, tidak memandang lelaki disebelah yang tengah menunaikan shalat maghrib (kau tahu?, ini sangat susah!)

teringat beberapa waktu silam, bertahun-tahun yang lalu tepatnya, ketika kami masih sama-sama usil

dia akan tertawa terbahak dan membatalkan shalatnya hanya karna ku dongakkan kepalaku, memandang kearahnya dengan puppy eyes dan senyum devil,  menggodanya saat shalat. Dia akan tertawa, mengusirku atau pindah ke kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.

Lelaki yang dulu suka marah-marah ketika adik perempuannya ini bertingkah seperti layaknya laki-laki. Memanjat pohon, masih keluyuran menjelang maghrib, tertawa terbahak dan menyanyi dengan suara keras di pinggir jalan, main di sawah, menunggang kerbau, memanen tebu dan singkong di kebun orang, ikut mencari uang tambahan dengan memanen melinjo dikebun simbah bahkan nyaris sekarat karna terjatuh dari pohon setinggi dua-sampai tiga meter sampai membuat waiyem pucat-pasi, ketakutan setengah mati, dan seketika itu juga dia mijitin aku yang sesak nafas (ini rahasia aku dan waiyem sebenarnya)

adiknya yang selalu menjadi kepala suku bagi anak-anak kecil dan memimpin petualangan-petualangan kecil ketengah kebun yang tak pernah kami lewati, dan bersusah-payah mencari jalan pulang!

Dia akan marah, menyuruhku diam dan menjadi anak perempuan baik-baik, meskipun dia tahu dia gagal. Karena aku hanya akan bungkam ketika dia sudah memandangku dengan mata merahnya, tak marah dengan memaki

Dia, keras hanya di luar, tapi lembut dan penuh perhatian di dalam.

Dia pernah menyogok ku dengan fried chicken pinggir jalan (waktu itu makanan ini sangat istimewa), ketika dia tak menjemputku yang pulang kesorean lantaran mengikuti mencari jejak ketika SMP (lebih tepatnya dia sudah menjemputku, hanya tak mau sedikit menunggu lebih lama karena dia sudah punya janji dengan kawannya). Aku mendiamkannya, tapi dia terus tersenyum dan meminta maaf, berulangkali mencoba menjelaskan semuanya

sudah lama ya mas, kita  tak lagi naik sepeda bersama (aku duduk di stang sepeda, sementara kau mengemudi kencang dengan adikmu yang lain membonceng dibelakang. Dan saat melewati  jundalan atau jalan tak rata, bahkan tanah becek, kita akan berteriak bersama, atau jika beruntung, terjungkal dari sepeda entah dengan posisi bagaimana, dan kemudian akan disambut dengan tawa yang tak dapat diartikan. antara sakit dan bahagia

terimakasih mas, abang, kakak, atau apapun namanya

terimakasih pernah mengantarku ke sekolah dengan motor butut, bahkan sampai kuliah disini pun tak jarang aku menyusahkanmu. Menembus hujan lebat, ban motor bocor, dan kedinginan di bawah halte saat mengantarku untuk mengejar dosen pembimbing.

Terimakasih atas curahan kasih sayang yang meski tak pernah kau tunjukkan, namun selalu membuatku merasa wajib untuk selalu bersyukur. Bersyukur karena Allah mentakdirkanmu menjadi keluargaku, kakakku.

Meskipun ku tak tahu, kau entah kapan akan membaca ini, tapi aku ingin mengatakan ini,
"Aku Menyayangimu"

meskipun kasih sayangku tak sebesar kasih sayang yang kau miliki dan berikan kepadaku.

Semoga sampai kelak, kau tak akan pernah kecewa padaku, apapun yang terjadi.

tak peduli rendahnya pendidikanmu, apa pekerjaanmu

Aku ingin selalu menyayangimu

Mas,
Jadilah suami dan ayah yang shalih lagi men shalihkan anak dan istrimu suatu saat nanti

Minggu, 01 Februari 2015

Pagi ini bahkan dimulai terlalu pagi dari jadwal biasa.
Pukul 06.00 sudah berangkat ke kantor. Bukan, gue bukan pegawai rajin yang rela masuk dihari libur. Meskipun faktanya tak jarang juga ke kantor hari sabtu atau ahad. Pagi ini gue ke kantor untuk menitipkan motor, dan selanjutnya gue naik metromini ke lampu merah Matraman, janjian sama sama temen untuk mengikuti pelatihan memanah di Pasar Rebo.

"grek.. ng..  grek" gue menoleh ke belakang dan mendapati bibir sebuah mobil sport silver nempel dibelakang si Ojan (Fauzan;motor bokap).

Dengan pelan gue majuin motor, sementara si empunya mobil memundurkan mobilnya. Segera gue pinggirin motor buat "ngobrol" dengan bapak atau kakek dalem mobil, karena Qadarullah spakboard  (maaf kalo salah sebut) motor sama plat-platnya masuk kedalem (mblesep)  ke atas ban.  Ibarat hidung mancung berubah pesek gara-gara kena bogem keras. Tapi baru gue turun dan mendekati mobil, dia malah komat-kamit baca mantra sambil tancap gas.

Astagfirullah...

beberapa orang sampe ngeliatin, untung masih sepi, jadi belum banyak orang dan gak mengundang keramaian. Gue hanya dapat memandangi mobil itu berlalu, sampai benar-benar menghilang (mirip orang yang lagi patah hati melepas kekasihnya pergi) #korbanfilm

Kejadian pagi itu sudah menghilangkan sebagian mood gue. Dengan pelan gue lanjut jalan ke kantor. Sesuai rencana gue langsung nitipin motor dan balik ke jalan raya buat nunggu metromini.

Di tengah perjalanan...

"Bawa helm kan, ane cuma bawa satu?"

Yassalam, kenapa gue malah lupa sama helm ya?

"gak." sambil liat jam
"ya udah duluan aja deh, ane ikut next time aje." langsung tutup hape dan balik ke kantor.

"Bagus, beneran ilang mood gue!" ngomong sama aspal

Gue abaikan beberapa sms berikutnya dari temen gue itu, karena kalau diterusin percuma, kepala gue masih berasep, mending nanti dibicarakan pas ketemu.

Sambil nunggu siang dateng, gue pun asik ngurusin dagangan di kantor. Rencana besar ke dua gue hari ini adalah, besuk ibu temen gue di RS Serang.

Setelah beberapa hari sebelumnya mendiskusikan "waktu yang tepat" menurut kita, akhirnya diputuskan kumpul  sabtu, 31 Januari 2015 pukul 16.00 WIB di Stasiun Manggarai.
Jam empat lewat gue ketemu sama Nadbee di peron lima. aturan kita pergi berempat, ade akan menunggu di Stasiun Tanah Abang, sementara yang satu cowok mendadak ngebatalin karena ada urusan "Penting" dengan orang "Penting" nya juga. (padahal tadi dia sendiri yang bilang udah di Stasiun Depok mau beli tiket)
ah sudahlah, mungkin dia lelah.

Cukup lama menunggu, keretapun datang. Setelah sebelumnya menguping pertanyaan ibu-ibu ke petugas di dalam gerbong, dengan mantap kami yakin bahwa ini adalah kereta yang tepat, menuju Tanah Abang (sebelumnya ibu-ibu yang duduk disebelah kami dengan tujuan yang sama pun terlihat cukup antusias dan langsung menuju kereta yang kami naiki ini).
Ketika di dalam, seorang cewek manis bersikap ramah dan mencoba membuka pembicaraan. Lebih tepatnya dia sedang bingung.

"ini ke tanah abang kan?"
"iya" jawab nadbee
"emang lewat cikini ya?" tanyanya lagi
"emang lewat cikini?" giliran nadbee nanya ke gue
"hmm?, ehm..." gue liat gambar rute di atas pintu
"kayaknya iya deh" jawab gue dengan senyum tak kalah manis
*ueeggg

setelah melewati beberapa stasiun, gue mulai curiga.

"Stasiun Juanda, Jayakarta, kok kayak mau ke...., apa mungkin kita...?, tapi kok petugas tadi?. Ah mungkin gue salah. Liat nanti aja." batin gue.

Ternyata cewek tadi juga terlihat curiga. Pas gue beradu pandang sama dia, akhirnya kita berdua tertawa, sementara si nadbee masih bengong.

"Tuh kan bener, makanya kok tadi gak ngelewatin Stasiun Sudimara, Kebayoran." ucap cewek tadi

"Iya sama, tadi juga mikir kok gak sampe stasiun yang biasa ya?"

Kami bertiga pun berbagi tawa. Kami segera mencari kereta ke Manggarai, namun malang tak dapat ditolak. Kereta harus antri untuk bisa masuk Manggarai, karena di perlintasan Stasiun UI terdapat pohon tumbang. terjadilah antrian sampai di stasiun juanda (kereta kami berhenti disana. Padahal jika normal, Jakarta Kota-manggarai tak sampai 30 menit, begitu juga sebaliknya.

Ya Allah, kasian si Ade udah lama nunggu di Tanah Abang. Mana sandalnya putus. (bukan cuma pasangan manusia aja yah yang putus, sandal gak mau kalah)

Dua jam kemudian (19.00 WIB) barulah kita sampai kembali di Manggarai, dan disambut oleh rintik gerimis yang semakin lebat.

Hujan!
*Super Girang

"Allahumma Shayyiban Nafi'an"

Kita (gue dan nadbee) berpisah dengan cewek tadi, karena dia langsung menunggu kereta yang ke Tanah Abang, sementara kita mengejar waktu Shalat Maghrib.

Ade masih aktif bertanya via WhatsApp Messenger, sementara kita berdua sesekali membalas karena terkendala signal.

"Kereta sore ke Serang lewat jam empat tadi, ada lagi jam sebelas malem." kabar "baik  dari ade kami terima usai shalat maghrib.

"gimana nih?" tanyanya lagi.
"coba tanyain, lama perjalanan berapa?, trus kereta paling pagi Serang-Tanah abang jam berapa?"

"2-3 jam, besok 07.15" balasnya

"wah, gue gak keburu mbe. kumpul di kantor jam setengah sepuluh pagi besok."

"iya gue juga."

"jadi gimana?" kami belum balas chatt ade

"kata gue sih lanjut" komentar nadbee

"gue juga pinginnya iya. Gini, kita tanya jadwal keretanya lagi, kalau petugas bilang terpagi jam enem, malam ini kita jalan." gue mencoba menawarkan pilihan

"ok." nadbee segera memberitahu ade. Tapi ade gak bisa karena sudah banyak agenda ahad nya

"Ba'da Isya kita tanya ke Informasi."

***
"Disini gak ada jadwal, kalau mau tahu harus ke Tanah Abang." nadbee menjelaskan jawaban dari petugas stasiun

"jadi?"

"Ke tanah abang sekarang"

"hayuklah kita malam mingguan"

Entah kenapa kereta Tanah abang muncul di peron dua, padahal biasanya di peron lima.

Kereta ini baru berhenti di satu stasiun, dan tidak ada informasi apapun dari petugas melalui pengeras suara, anehnya, kami sudah tiba di Stasiun Duri!

"Astagfirullah mbe......., Tanah abang udah kelewat." kami sama-sama terkekeh, mengikuti penumpang yang sudah turun terlebih dahulu.

"asem banget tiap pergi ame lo ris"

"heh, nyalahin aja. Ada juga gue yang apes mulu jalan sama lo"

"eh gue coba tanya petugas dulu"

"sekalian tanya arah balik ke Manggarai ys mbe"

"iye" nadbee segera berbicara dengan petugas peron

"Kereta adanya berangkat jam enem pagi, sama jam enem sore ke serang. kalo dari serang paling pagi jam 7.15"
*lemes

"ya sudah balik?"

"balik" nadbee mengangguk mantap

kami tak bisa segera pulang, harus cukup lumutan baru kereta arah Bogor datang.

"kok palangnya gak mau kebuka ya?"
"pinalti lebih dari satu jam" gue baca keterangan di layar tempelan kartu tiket kereta.
"oh iya, tiket gue harusnya sampai Tanah abang, tapi tadi sampai Stasiun Duri." Batin gue lagi

"Mas-mas, ini tiket saya kenapa ya?"
*pasang muka polos
"wah ini pinalti mba, kartunya ditahan ya?" ucapnya sambil membukakan pintu dengan kartunya. Gue liat nadbee yang cekikikan. Dasar!

karena sudah malam, nadbee akhirnya nginep di kosan.

"kenapa sih lo senyum-senyum" tanya gue ngeliat nadbee yang dari tadi makan nasi goreng sambil cengengesan sendiri
"tadi bilang laper."

"nggak papa. Hihihi" jawabnya

Gue lirik Abang Nasi goreng, cuma mastiin dia gak curiga. khawatir gue dikira bawa orang gila.

"Ini kesekian kalinya gue nyasar karna ada lo. pas ini, pas itu, pas itu juga. "

" ish ish ish. pulang lo, jangan tidur di kosan!"

"wkwkwk"

kami tertawa, menikmati malam minggu seru.
Tawa itu seketika berubah menjadi beban seketika. Ngilu-ngilu ditubuh akibat kecelakaan kecil tadi pagi juga turut terabaikan.
Kami  membaca pesan dari teman-teman yang sudah mempercayakan kami untuk membesuk.
Untaian do'a-do'a tulus yang mereka berikan untuk kami yang nyatanya batal melaksanakan misi mulia, menjalankan salah satu Sunnah Rasul "mengunjungi saudara yang sakit."

"Maaf untuk semua"

Semoga Allah angkat sakitnya, menjadikannya penggugur dosa, dan penguat keimanan.

Syafahallahu syifa'an

dan butiran-butiran hikmah dari perjalanan hari ini, biarkan kami yang merasakan. Karena besar nikmat-NYA tak mampu di tuliskan.











Kamis, 08 Januari 2015

Emang Susah Kalau Beramal Tanpa Ilmu atau Berilmu Tanpa Amal, Bikin Dosa Iya!




Kemarin pagi gue dikejutkan oleh  pesan Whatsapp yang masuk. Seorang teman yang belum lama kita deket minta di traktir. Usut punya usut, ternyata dia tulis dikalender meja kantornya tanggal temen-temen yang milad bulan ini.
*betapa niatnya dia 
 
haish... gara-gara dia gue jadi inget umur. Gak nyangka Allah udah kasih waktu yang lama buat gue hidup di bumi sebelum nanti, gak tau kapan gue bakal balik ke kehidupan yang kekal abadi. 24 tahun sudah berlalu sejak nyungsangya gue diperut emak dan bikin dia kesakitan pas ngelahirin gue. 

Makasih ya mak, maapin anakmu ini yang masih belum bisa bahagiain dirimu.

*woi ngomong langsung ke orangnya, bukan disini!

Eh iya

Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Well, walaupun telat sehari, Qadarullah momen berkurangnya usia kali ini pas gue lagi rajin belajar nulis. Jadi gue pingin ngebahas sedikit tentang kebiasan yang banyak dilakuin kalau ada orang yang lagi milad. Bukan apa-apa, tapi dalam islam sendirikan tidak pernah diajarkan tentang perayaan milad.
  1.  Do’a
    Pasti gak sedikit kan yang ngucapin selamat pas lo lagi milad?. Apalagi sosmed jaman sekarang yang suka nge-remind kita kalau ada temen yang mau milad. Alhasil wall kita dibanjiri dengan berbagai ucapan selamat dan do’a.

    Tapi, coba deh lo setting privasi akun sosmed lo dan privasi tanggal lahir lo, dan liat seberapa banyak orang yang akan ngucapin dan ngedo’ain pas lo milad. Ada satu-dua orang aja udah untung. Nah. Dari situ lo bakal liat, mana yang sahabat beneran, mana yang cuma temen.

    Eh tapi itu gak penting menurut gue. Buat gue sendiri, lebih seneng kalau ada yang ngedo’ain gue disetiap sujud akhir shalat mereka. Karena disaat itulah salah satu waktu mustajab untuk berdo’a

    ah... How nice… semoga banyak ya temen model begini.

    *woi ngaca woi, lo udah rajin do’ain temen-temen lo belum?!

  2.  Lempar tepung, air, dan telor
    Tradisi temen-temen jaman sekolah dulu adalah saling lempar tepung, telur,  air bekas cucian piring, air pake pewarna, dll. pokoknya apa aja yang bisa buat ngerjain, ya manfaatin!.

    Sekarang sudah mulai meninggalkan hal-hal begituan (meskipun beberapa waktu yang lalu sempet ikut ngelemparin telur yang disiapin temen buat ngelemparin temen yang baru diwisuda sih).

    Setelah gue pikir-pikir itu mubadzir banget. Padahal kalau mau disedekahin itu telur sama tepung bisa buat makan fakir miskin. Jadi gue punya ide, kalau mau lempar-lemparan pake kerikil atau batu aja biar gak mubadzir. Terus kalau mau siram-siraman gue sarankan pake air bekas cucian piring, soalnya kalau pake air kembang dikira mau siraman mantenan lagi. *ehh
  3.   Tukar Kado/Saling Menghadiahi

       “Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, lihat Shahihul Jami’ [3004] dan Al Irwa’ [1601])
            
    Wah, dalam islam pun Rasulullah menganjurkan agar sesama muslim saling memberikan hadiah loh.  Supaya terjalin hubungan yang lebih baik tentunya.

    Tuh, saling memberi hadiah itu bagus,tapi, alangkah baiknya saling berbagi hadiah ini tidak dilakukan di momen khusus seperti milad. Tentu saja karena hal tersebut tidak diajarkan oleh Rasulullah.

    Islam mengajarkan agar kita tidak menolak hadiah/pemberian orang. 

    Di dalam Ash Shahihain (Al Bukhari dan Muslim -pent.) dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku sebuah bingkisan, lalu aku katakan, ‘Berikan ia kepada orang yang lebih fakir dariku’, maka beliau menjawab, ‘Ambillah, apabila datang kepadamu sesuatu dari harta ini, sedangkan engkau tidak tamak dan tidak pula memintanya, maka ambillah dan simpan untuk dirimu, jikalau engkau menghendakinya, maka makanlah. Dan bila engkau tidak menginginkannya, bershadaqahlah dengannya’.”

    Salim bin Abdillah berkata, “Oleh karena itu, Abdullah (bin Umar -pent.) tidak pernah meminta kepada orang lain sedikitpun, dan tidak pula menolak bingkisan yang diberikan kepadanya sedikitpun.” (Shahih At Targhib No. 835) 

    Please ya… jangan jadiin ini sebagai alasan supaya antara (Ikhwan (laki-laki) – Akhwat (perempuan)-red) agar bisa saling menghadiahi atas nama ukhuwah. Kalau sampe kejadian, ini mah disebutnya Bonus, eh salah MODUS!
  4. Makan-makan
    Nah paling seneng kalau ngomongin makanan. Momen milad sering dijadikan sebagai senjata buat malakin temen deket. Tapi lo tau gak, terkadang karena saking gak enaknya nolak desakan temen-temennya, seseorang sampe dibela-belain ngutang sana-sini?

    “emang ada?"  

    “Ada!”

    Gue pernah nemu temen yang kayak gini. Dan ketika gue bilang gak usah dipaksain, dia tetep maksa. Ah sumpah gak tega. Sementara gue mau bilang ke orang-orang yan maksa itu juga gak mungkin, bisa ngejatuhin temen gue kan?

    So sejak saat itu gue gak pernah nyinggung-nyinggung soal traktiran milad atau lain-lain. Yah masih suka nimbrung dan ngebecandain sih, tapi gue sendiri gak pernah berharap. *tapi gak nolak kalau beneran di traktir, hallah 

    Gue sendiri punya kebiasaan sama sohib gue makan bareng diluar. Jadi gak harus nunggu milad buat saling berbagi. Hehe

    Satu lagi nih hal yang biasanya banyak dilakuin orang-orang jaman sekarang.
  5. Pesta
Dari dulu gue emang gak pernah ngerayain hari lahir dengan pesta atau macem-macem. Harap maklum, pemenuhan kebutuhan primer lebih penting dari pada hal gak penting semacem pesta. wkwk
Selain tidak dianjurkan, kalo gue renungin, ngapain ya, kita seneng-seneng di saat usia berkurang?, bukannya harusnya kita sedih ya? Atau minimal bersyukur dengan cara yang lebih baiklah ketimbang pesta.

Lagian masak merayakan kelahiran Rasulullah aja banyak yang bilang bid'ah, tapi ngerayain milad manusia dianggap biasa? #mikir

Kurang lebih itu si menurut gue. kalian mungkin punya kebiasaan-kebiasaan lain yang dilakuin pas milad? 

 
Sekarang gue memaknai milad sebagai salah satu momen untuk muhasabah. Meskipun harusnya muhasabah itu dilakukan setiap hari, agar kita tau, berapa banyak dosa yang kita kumpulkan setiap saat.

Ah, hamba belum bisa sekeren para sahabat ya Allah. Belum bisa seperti Khalifah Umar Ibn Khattab dan yang lain. 

Terimakasih karena tak KAU jadikan bau busuk, dalam setiap dosa yang hamba perbuat. 

Ampuni kami yang sering melakukan ini-itu tanpa berilmu.

Selasa, 06 Januari 2015

Gara-gara Mueeza!

Pernah kepikiran gak, kenapa di film-film western kucing suka dijadikan sebagai pemeran antagonis, sementara anjing sebaliknya, mereka dijadikan sebagai pemeran utama yang terdzolimi, dan biasanya sih, setelah pertarungan sengit anjingpun menang dan hidup damai dengan manusia.

Mungkinkah ada misi terselubung dibalik film-film itu?

“sok tau lo ti. Itu Cuma kebetulan keleusss. Fanatik banget sih lo jadi orang. Semua-muanya disangkut pautin sama konspirasi mbah yudi”
*eaaa

Sabar sob, sabar. Gue cuma bisa bilang,

“gak ada yang gak mungkin, dan gak ada yang kebetulan. Betul ga?”

Percaya gak percaya, terkadang dari hal-hal sepele yang sering kita abaikan itulah sesuatu hal bisa terjadi. seperti jodoh misalnya terkadang kita menyepelekan kode-kode yang udah Allah tunjukin, alhasil kita masih muter-muter aja dengan kejombloan yang hakiki.

*eh apasi? kidding ya mblo 

okay back to KUCING

Saat masih duduk dibangku SMA gue udah pernah nyoba buat sayang dengan binatang satu itu, tapi gagal total, karena kucing kampung yang suka kelayapan dirumah emak gue galaknya na’udzubillah, jangankan dipangku, baru mau di elus aja udah main nyakar aja.

Bukan tanpa alasan, tapi gue punya pengalaman di uber-uber anak kucing tanpa alasan yang jelas waktu jaman ngaji di TPQ. Alhasil gue jadi parno setiap kali deket-deket kucing. Eh jangankan deket, denger suaranya aja sebel. gimana nggak parno, waktu itu gue sampe muterin tempat  ngaji yang cukup luas, anak kucing itu masih tetap ngejar nyusulin gue, gue udah ngumpet itu anak kucing juga berhasil menemukan tempat persembunyian gue. Sampe akhirnya gue nangis kejer dan gak tau kemana dia dibawa pergi. Yang penting gue selamet.

Karena hal itulah gue hampir nggak pernah temenan sama kucing. 

Sampe suatu ketika gue baca tentang kisah Rasulullah dan kucingnya, si Mueeza. 
Ah, kadang gue iri sama dia. Rasulullah begitu sayangnya sama Mueeza. Bahkan pernah saat Mueeza tengah terlelap tidur di jubah Rasulullah saw, sang Nabi lebih memilih untuk memotong jubahnya agar tak mengganggu tidur Mueeza. 

Ooohhhh, so sweet

*kedip-kedipin mata
karena kisah Mueeza ini, hampir setiap ketemu kucing selalu gue panggil Mueeza, wkwkwk

Setahu gue Rasulullah tidak akan pernah mengajarkan sesuatu jika sesuatu itu tidak bermanfaat!

Gue pernah baca, ternyata zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi. Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan, dan mengelus kucing  juga bisa nurunin tingkat stress loh. Bahkan kalau dijelaskan secara ilmiah, kucing itu binatang paling bersih dan memiliki banyak manfaat!

Masih gak percaya?, kayaknya perlu di ruwat nih.

Eh wait-wait!

Tahu gak, ada beberapa hadits yang menegaskan bahwa kucing itu tidak najis, satu diantaranya:

Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),”
(H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Ma sha Allah….
Ada hadits-hadits lain juga yang ngejelasin tentang larangan menganiaya kucing, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori:

Dari Ibnu Umar dari Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi.” (HR.Bukhori)

Beuh!
Na’udzubillah dah ya’. Sebagai muslim yang baik mah kudu belajar buat ngelaksanain apa yang Rasulullah ajarkan. Bukan malah sebaliknya.

Anyway, udah dua-tiga tahun belakangan gue berjuang keras buat mencintai kucing. Mulai dari berani deketin, berani ngelus, sampai akhirnya, gue berani nyium kucing. Heheheh

Dan Alhamdulillah lagi-lagi Alhamdulillah, gue sudah berhasil “akur” sama kucing tertentu (yang nurut dan gak main cakar-cakaran)

Semoga nanti kalau punya rumah sendiri bisa  miara banyak kucing ya sob. terserah nantinya mau kalian namain apa tuh kucing, biar gak mainstream, gue mau namain anak kucing gue Mueeza #ehh

Yeayyyy

Selalu ada jalan kok, kalau itu sebuah kebaikan, yakin deh


Selamat mencoba!

 
nah kan

pertama kalinya

Bobok





Senin, 05 Januari 2015

Manusiawikah?, atau memang lebih hina dari seekor keledai?

“Andai gue bisa memutar waktu” 

#Plakkk, woi! Lo muslim ti, gak boleh berandai-andai kayak orang yang kagak tau bersyukur! 

Eh iya. Tapi kalau Allah kasih gue kesempatan buat ngelakuin hal itu, ada banyak hal sebenernya yang pingin gue perbaiki. Dan salah satu kejadian yang masih bikin nyeseg dihati gue itu adalah suatu kejadian di sekitar pertengahan tahun 2010.

Setelah beberapa bulan di Jakarta, gue baru bisa memisahkan diri dari kontrakan om gue (macem amoeba aja yaks?), meskipun pindahnya masih deket-deket kontrakannya juga sih di daerah Stasiun Juanda (Bukan di kolongnya ya, catet!). Kosan gue berada pas di sebelah stasiun juanda. 

Seperti biasa setiap ba’da subuh gue jalan kaki melewati Masjid Istiqlal untuk ke tempat kerja gue di RSPAD. Jalanan masih sangat lengang. Ada beberapa tukang ojek dan satu-dua orang yang lewat. Tepat ketika gue berada di jalan raya depan stasiun juanda, mata gue tertuju pada sosok lelaki tua dengan tongkatnya. Iya, sudah dipastikan kakek itu seorang tuna netra. Posisinya ada di deket halte busway juanda. Gue gak ngerti dari mana arah kakek itu jalan, yang pasti kakek itu sudah berada tepat di tengah-tengah antara Stasiun Juanda-Masjid Istiqlal. Sang kakek tengah berusaha keras menemukan jalan agar bisa nyebrang ke Masjid Istiqlal. Beberapa kali dia jalan-nabrak badan halte, terpental, mundur, dia tetap maju lagi, nabrak, mundur lagi, maju lagi. Begitu terus selama beberapa saat. 

Jahatnya gue, gue sempet tersenyum ngeliat kejadian itu. Kaki gue berasa berat dan ikutan maju-mundur buat nolongin kakek itu nyebrang. Karena jalanan masih sangat sepi.Berbagai pertanyaan berseliweran dikepala. 

“gimana kalau ternyata dia Cuma pura-pura?, gimana kalau ternyata dia orang jahat?, lagian mana mungkin dia beneran buta tapi bisa sampai disini? Trus tadi dia jalan kesininya gimana? Trus gimana kalau…” 

Ah… shit! Cuma pertanyaan-pertanyaan buruk aja yang ada dikepala gue ini! Hingga akhirnya ada seorang bapak-bapak (tukang ojek kalau ga salah), ngebantuin kakek itu nyebrang.

Cesss… 

Aaaaaaakkkkkkkkkk!!!!!!!!

Disitu, gak tau kenapa, ada penyesalan yang dalemmmmm banget. Rasa sakit dan entah sesuatu apa yang gak bisa gue ungkapin dengan kata-kata. Antara pingin nangis, dan….entahlah, satu hal yang pasti, gue... Nyesel!

“tuh kan ti, emang enak? Aturan itu pahala buat lo tau gak?. Lagian sih, su’udzon mulu jadi orang, rasain!” 

Gue cuma nangis, dalam hati. rasanya sejauh itu, perasaan itu lebih sakit dari patah hati.
*mulai deh ngaco

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS: Al-Maidah: 2)

Hiks hiks hiks

Sampai saat ini gue masih kepikiran tentang kejadian itu. Gue gak mau nyalahin setan yang ngebekuin hati gue, juga gak mau terus-terusan menyesal. Gue bertekad untuk gak menunda-nunda berbuat suatu kebaikan.

yah, tapi…. Apa daya?, itu hanyalah tekad seorang manusia yang terkadang atau seringnya masih lalai. 

Dari Abu Hurairah ra.: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama. (Shahih Muslim No.5317) 

Beberapa waktu yang lalu disiang hari, seharusnya gue berenti, turun dari motor, dan ngebantu nenek-nenek nyebrang jalan di sekitar PGC (Pusat grosir Cililitan), tapi toh seperti kejadian sebelumnya, Qorin (Jin yang pasti dimiliki setiap manusia) gue tarik-tarikan. Hingga gue memilih untuk tetep melaju disertai dengan penyesalan. 

Manusiawikah?!
Sepertinya gue lebih buruk dari seekor keledai. 

Hiks hiks hiks 

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam biasa berdoa: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, menyia-nyiakan usia dan dari sifat kikir. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian” (Shahih Muslim No. 4878)


Ampuni ya Allah, ampun. Semoga hamba-MU yang pengecut, naïf, dan penuh kehinaan ini bisa belajar dari pengalaman dan dapat berguna dijalan-MU. Meskipun hanya menyingkirkan kerikil dari tengah jalan. 

perjalanan ke muara gembong