Senin, 05 Januari 2015

Manusiawikah?, atau memang lebih hina dari seekor keledai?

“Andai gue bisa memutar waktu” 

#Plakkk, woi! Lo muslim ti, gak boleh berandai-andai kayak orang yang kagak tau bersyukur! 

Eh iya. Tapi kalau Allah kasih gue kesempatan buat ngelakuin hal itu, ada banyak hal sebenernya yang pingin gue perbaiki. Dan salah satu kejadian yang masih bikin nyeseg dihati gue itu adalah suatu kejadian di sekitar pertengahan tahun 2010.

Setelah beberapa bulan di Jakarta, gue baru bisa memisahkan diri dari kontrakan om gue (macem amoeba aja yaks?), meskipun pindahnya masih deket-deket kontrakannya juga sih di daerah Stasiun Juanda (Bukan di kolongnya ya, catet!). Kosan gue berada pas di sebelah stasiun juanda. 

Seperti biasa setiap ba’da subuh gue jalan kaki melewati Masjid Istiqlal untuk ke tempat kerja gue di RSPAD. Jalanan masih sangat lengang. Ada beberapa tukang ojek dan satu-dua orang yang lewat. Tepat ketika gue berada di jalan raya depan stasiun juanda, mata gue tertuju pada sosok lelaki tua dengan tongkatnya. Iya, sudah dipastikan kakek itu seorang tuna netra. Posisinya ada di deket halte busway juanda. Gue gak ngerti dari mana arah kakek itu jalan, yang pasti kakek itu sudah berada tepat di tengah-tengah antara Stasiun Juanda-Masjid Istiqlal. Sang kakek tengah berusaha keras menemukan jalan agar bisa nyebrang ke Masjid Istiqlal. Beberapa kali dia jalan-nabrak badan halte, terpental, mundur, dia tetap maju lagi, nabrak, mundur lagi, maju lagi. Begitu terus selama beberapa saat. 

Jahatnya gue, gue sempet tersenyum ngeliat kejadian itu. Kaki gue berasa berat dan ikutan maju-mundur buat nolongin kakek itu nyebrang. Karena jalanan masih sangat sepi.Berbagai pertanyaan berseliweran dikepala. 

“gimana kalau ternyata dia Cuma pura-pura?, gimana kalau ternyata dia orang jahat?, lagian mana mungkin dia beneran buta tapi bisa sampai disini? Trus tadi dia jalan kesininya gimana? Trus gimana kalau…” 

Ah… shit! Cuma pertanyaan-pertanyaan buruk aja yang ada dikepala gue ini! Hingga akhirnya ada seorang bapak-bapak (tukang ojek kalau ga salah), ngebantuin kakek itu nyebrang.

Cesss… 

Aaaaaaakkkkkkkkkk!!!!!!!!

Disitu, gak tau kenapa, ada penyesalan yang dalemmmmm banget. Rasa sakit dan entah sesuatu apa yang gak bisa gue ungkapin dengan kata-kata. Antara pingin nangis, dan….entahlah, satu hal yang pasti, gue... Nyesel!

“tuh kan ti, emang enak? Aturan itu pahala buat lo tau gak?. Lagian sih, su’udzon mulu jadi orang, rasain!” 

Gue cuma nangis, dalam hati. rasanya sejauh itu, perasaan itu lebih sakit dari patah hati.
*mulai deh ngaco

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS: Al-Maidah: 2)

Hiks hiks hiks

Sampai saat ini gue masih kepikiran tentang kejadian itu. Gue gak mau nyalahin setan yang ngebekuin hati gue, juga gak mau terus-terusan menyesal. Gue bertekad untuk gak menunda-nunda berbuat suatu kebaikan.

yah, tapi…. Apa daya?, itu hanyalah tekad seorang manusia yang terkadang atau seringnya masih lalai. 

Dari Abu Hurairah ra.: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama. (Shahih Muslim No.5317) 

Beberapa waktu yang lalu disiang hari, seharusnya gue berenti, turun dari motor, dan ngebantu nenek-nenek nyebrang jalan di sekitar PGC (Pusat grosir Cililitan), tapi toh seperti kejadian sebelumnya, Qorin (Jin yang pasti dimiliki setiap manusia) gue tarik-tarikan. Hingga gue memilih untuk tetep melaju disertai dengan penyesalan. 

Manusiawikah?!
Sepertinya gue lebih buruk dari seekor keledai. 

Hiks hiks hiks 

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam biasa berdoa: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, menyia-nyiakan usia dan dari sifat kikir. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian” (Shahih Muslim No. 4878)


Ampuni ya Allah, ampun. Semoga hamba-MU yang pengecut, naïf, dan penuh kehinaan ini bisa belajar dari pengalaman dan dapat berguna dijalan-MU. Meskipun hanya menyingkirkan kerikil dari tengah jalan. 

perjalanan ke muara gembong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar