Rabu, 10 Juni 2015

Miracle In Cell No.7: "I Love My Daddy Too"


Miracle In Cell No. 7

Selain film Jepang, film korea juga menjadi favorit gue. Menurut gue, penggarapan film mereka itu selalu nampak sempurna. Para pemainnya pun selalu all out memainkan perannya. Mereka selalu terlihat ekspresif dan natural.

Miracle in Cell No. 7 adalah salah satu K-Movie favorit gue. Film besutan sutradara Lee Hwan Kyung yang rilis pada tahun 2013 ini sukses menyentuh hati para penontonnya. 

Ryu Seung-ryong yang berperan sebagai Lee Yong-Gu (Yong Goo) atau  ayah Ye-Seung kecil (YS)  yang diperankan oleh Kal So Won. Yong Goo merupakan seorang ayah yang memiliki keterbelakangan mental tetapi sangat menyayangi putrinya.

Kisah dimulai dengan Ye-Seung dewasa yang diperankan oleh Park Shin-hye (PSY). Dia datang menemui teman-teman ayahnya saat Yong Goo masih dipenjara. Lucunya mereka semua sudah taubat, eh, lebih tepatnya berubah. Ada si kepala gangster di sell no 7 yaitu So Yang-Ho atau Oh Dal-su nama aslinya, dia sekarang menjadi pendeta disebuah Gereja, Kang Man-Beom atau Kim Jung-Tae yang beralih profesi menjadi seorang peramal, dan lain-lainnya. Ye-Seung dewasa yang telah menjadi seorang pengacara muda kembali mengangkat kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada ayahnya untuk membuktikan bahwa ayahnya tidak bersalah. Di tengah sidang, Ye-Seung pun menceritakan kisahnya.

“In the name of justice, I will Punish You!”. Di akhir cerita gue baru sadar apa kenapa jargon ini disorot di awal film ini.

Februari 1997

Di depan sebuah toko tas, Ye-Seung dan ayahnya menonton soundtrack film Sailor Moon. Yong Goo ingin membelikan tas sekolah untuk Ye-Seung. Tas bergambar Sailor Moon itu limited edition, dan mereka berencana membeli tas itu esok hari karena uang mereka baru akan terkumpul  besok. Tapi ternyata tas terakhir sudah dibeli oleh keluarga seorang kepala kepolisian. Yong Goo berusaha meminta agar tas itu mau diberikan kepadanya, tapi ditolak, bahkan Yong Goo sampai dipukuli oleh ayah sang anak. Jadilah mereka pulang dengan tangan kosong, ditambah luka-luka di wajah Yong Goo.

Suatu hari, Yong Goo bertemu kembali dengan anak dari pejabat polisi yang membeli tas terakhir waktu itu. Yong Goo yang memiliki keterbelakangan mental sangat senang waktu anak itu memberitahukan bahwa ada toko lain yang menjualnya, dan dia mau mengantarkannya ke toko tersebut. Yong Goo mengangguk-angguk kemudian mengikuti gadis kecil itu berjalan. Matanya terus berbinar menatap tas yang dipakai oleh gadis kecil itu. Dengan langkah kekanak-kanakkan dia terus mengikutinya. Mereka berjalan melewati jalanan di pasar. Tiba-tiba saja adegan sampai pada saat gadis itu berteriak. Yong Goo sedang membuka celana gadis itu dan segera memberikan bantuan pernafasan. Lalu datang seorang ibu-ibu, dia salah paham, dia mengira bahwa Yong Goo sedang melakukan perbuatan asusila. Singkat cerita Yong Goo akhirnya dipenjara. 

Pokoknya Yong Goo diadili tanpa proses. Nggak adil pake banget!

Karena kepolosannya Yong Goo sering banget dipukuli, termasuk oleh chief penjara Jang Min-hwan (Jeong Jin-yeong). Pertama masuk sell no 7, ketua gangsternya So Yang-Ho (Oh Dal-su) penghuni sell yang lain kebingungan, gimana bisa orang sepolos Yong Goo melakukan kejahatan?. Perkenalannya aja kocak banget.
“Mom hurt because my head was big.” Nggak penting banget kan? Wkwkwk. Pokoknya masih lucu-lucuan diawal mereka di penjara.

Si ketua geng yang nggak bisa baca (ini ketahuan gara-gara Ye-Seung minta dibacain cerita sama dia) meminta salah satu anak buahnya membacakan catatan kejahatan Yong Goo, dan pas tahu bahwa Yong Goo adalah seorang kidnapped, rame-rame seisi sell no 7 mukulin Yong Goo sampe babak belur. Tapi semuanya berubah ketika Yong Goo menyelamatkan Ketua geng dari percobaan aksi pembunuhan yang dilakukan oleh ketua geng lain. So Yang-Ho lantas memberikan tawaran akan memberikan apa pun yang diinginkan Yong Goo.

Mission impossible penghuni sell no 7 berlangsung. Akting mereka benar-benar ok, deh. Apalagi pas adegan Ye-Seung ketemu Yong Goo. Nonton film ini bikin gue terus merapal mantra “jangan nangis jangan nangis jangan nangis.” 

Rencananya Ye-Seung hanya akan berada di sell selama dua jam, tapi karena pastornya sakit, jadi acara kebaktian dipercepat dan Ye-Seung terpaksa harus diselundupkan ke dalam sell lagi. Kekocakan demi kekocakan berlangsung. Sampai akhirnya petaka itu datang. Chief tahu kalau ada anak kecil di dalam cell no 7, dia marah besar, sampai Yong Goo diikat dan di kurung. Si chief berubah baik gara-gara Yong Goo nolongin dia waktu kebakaran terjadi di penjara. Karena melihat banyak kejanggalan, Chief Min-hwan akhirnya melakukan penyelidikan sendiri. Dibantu penghuni sell no 7 mereka menggali ingatan Yong Goo tentang kejadian hari itu, dimana gadis kecil itu meninggal.

Semuanya berjalan sempurna, sayangnya menjelang sidang berlangsung, Yong Goo yang sudah berhasil mengingat detil peristiwa demi peristiwa itu diintimidasi dan dipukuli, dia dicekoki lagi dengan hal-hal yang bukan sebenarnya terjadi, membuatnya gagal fokus dan kembali gagap. Maklum, kan dia keterbelakangan mental. Mentang-mentang ayah si gadis itu seorang komisaris kepolisian, dia membuat cerita seolah Yong Goo ini benar-benar pembunuh. Dia mengancam akan membalas perbuatan Yong Goo kepada Ye-Seung. Miris. Bahkan Yong Goo akhirnya divonis hukuman mati.

Penghuni sell no 7 berjuang keras membuat balon udara supaya Yong Goo bisa kabur bersama Ye-Seung, tapi balon itu nyangkut diperbatasan. Yong Goo tidak perduli, dia merasa bahagia karena bisa bersama Ye-Seung, melihat indahnya matahari terbenam bersama Ye-Seung nya, meskipun itu hari terakhirnya menjelang eksekusi mati.

Ye-Seung akhirnya diasuh oleh keluarga chief, hingga bisa menjadi seorang pengacara yang akhirnya membersihkan nama baik ayahnya.

Ah pokonya lebih seru nonton langsung. 

Nih gue kasih linknya di youtube https://www.youtube.com/watch?v=Of3e5htCP-Q

Jangan lupa sambil merapal mantra “Jangan nangis, Jangan nangis, Jangan nangis!” Ok?! Itu pun gue nggak yakin pada tahan. Hahaha.

Selamat menonton dan jangan lupa mengambil hikmahnya ya!

Senin, 08 Juni 2015

My Action Story: Jambret Under Attack

Hokay... Gue pingin ceritain kejadian na'as yang gue alami kemarin sore, supaya kalian (yang ngebaca tulisan ini) juga bisa mengambil hikmahnya (kalau sekiranya ada).

Ceritanya, jam setengah lima gue berenti di sebelah Toko Buku Gunung Agung Kwitang yang letaknya deket dengan kantor mualaf Tionghoa, ataunggak jauh dari lampu merah Pasar Senen arah kwitang/Tugu Tani gitu lah. Tempatnya emang agak sepi, tapi di belakang gue ada sekuriti yang standby di depan kantornya, ada beberapa pedagang juga di pinggir jalan. Pokoknya depan-belakang gue masih bisa dibilang banyak orang.

Berhubung gue tahu bahwa rawan buka hp di pinggir jalan, gue berenti dan menggiring motor gue ke depan rumah salah seorang warga. Gue parkir di trotoar, turun dari motor dan duduk di bawah sambil nunggu konfirmasi di mana tempat pertemuan yang sebenarnya antara gue dan temen-temen gue. Karena hampir setengah jam nggak ada kepastian akhirnya gue kembali naik motor dan bersiap untuk pulang. Sebelumnya gue sempet WA temen kosan, tapi belum sempet gue baca balasan WA nya, seseorang yang ngebonceng sepeda motor dengan temennya datang dan mengambil hp gue. 

Semuanya seperti slow motion. Tadinya gue pikir itu temen gue yang dateng dan lagi becanda, karena memang kadang ada dari mereka yang suka iseng begitu juga. Sesaat gue senyum ke arahnya dan dia memang sempet senyum juga ke arah gue. Tapi pas gue sadar dia bukan temen yang gue tunggu, otak gue langsung ngasih alarm bahaya. Spontan gue turun dari motor dan memegangi belakang motor mereka, sementara orang itu tergopoh-gopoh membenarkan posisi duduknya. Sejauh itu gue masih berusaha realistis dengan berteriak rampok-rampok dan mencoba menjatuhkan motor mereka. Mereka juga sempat oleng sebelum akhirnya sang pengendara yang di depan menancap gasnya membuat gue terhuyung, nyungsruk dan sepertinya sempat terseret beberapa jauh, dan akhirnya gue bener-bener nglepasin pegangan gue dari motor itu. 

Alhamdulillah gue sudah memakai helm, sehingga yang terbentur aspal adalah helm gue. Seperti yang gue bilang, gue mencoba realistis dengan tidak mengorbankan nyawa gue agar terus terseret hanya untuk sebuah hp. Dan ternyata, serealistisnya orang panik, gue telah gagal realistis, karena gue nggak sempet liat Plat motornya. Eh, lebih tepatnya, plat motornya nggak keliatan, atau memang nggak dipasang ya? 

Orang-orang baru datang pas gue udah bangkit dan membenarkan posisi jilbab dan gamis serta rok gue yang udah bolong-bolong nggak karuan. Lagi-lagi mereka nyalahin gue karena katanya gue nggak mau teriak, padahal gue berani bersumpah bahwa gue udah teriak maksimal. Yang kenal gue pasti ngertilah ya kualitas teriakan gue sekenceng  apa. Dan lebih mirisnya lagi, aksi gue melawan jambret yang tadi gue teriakan Rampok itu malah dikira aksi opera sabun di mana gue lagi berantem sama pacar gue dan gue narik-narikin motor pacar gue dengan histerisnya.

Baca ya...

Gue dikira berantem sama pacar gue!

Iyuuuhhhh... yang bener aja?, masak gue selabil itu cuma buat cowok?, sampe narik-narik motornya dan rela mengorbankan nyawa gue demi mengejarnya? 

Lagian mereka juga nggak mikir yak, Suami-Istri aja bisa kena UU KUHP tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), apalagi yang baru sebates pacaran?. Kalau gue yang ngeliat mah, pasti gue lemparin pake sendal gunung atau gue getok pake payung itu jambret (kalau sempet).

Hadeuh...

Eh, lupakan dugaan adegan opera sabun yang terlalu didramatisir oleh para penonton. Mending gue kasih tahu Kronologi jelasnya.

Pertama, Orang itu langsung datang dari arah belakang, mengambil hp gue  dan seolah ingin menghipnotis gue sejak pertama kali mereka datang. Kenapa gue bilang gitu?, karena pertama datang sang pelaku yang ngebonceng, sebut saja si A, dia langsung senyum dan menunggu respon gue, yang bodohnya gue balik senyumin karena mukanya familiar banget buat gue.

Kedua, menurut pengamatan gue mereka mau ngambil motor gue. Karena sebelum gue teriak pas mereka sudah berhasil ngambil hp gue, si A juga nyaris turun dari atas motor, tapi berhubung gue sadar dan langsung teriak Rompak-rampok sambil megangin belakang motor mereka, mereka buru-buru kabur. Alhamdulillah, posisi baru selesai tilawah pake hp itu, pikiran juga nggak lagi kosong, jadi Allah benar-benar melindungi sekali, sehingga kalau beneran si A mau menghipnotis semuanya jadi nggak mempan. 

Si A bahkan sempet ngeliatin gue lagi sebelum temannya benar-benar mempercepat laju motornya dan menjauh dari hadapan gue.

Bukan tanpa alasan ya gue megangin itu motor dan berusaha keras ngejatuhin motor itu, narik ke kiri dan ke kanan supaya ambruk.  Walaupun ternyata sia-sia karena badan mereka jelas lebih super gede dari badan gue. Bahkan sekali kibas gue mungkin bakal ambruk. Tapi demi Allah, gue nggak akan ngebiarin gitu aja barang gue diambil orang tanpa perlawanan. Seenggaknya gue perlu melakukan perlawanan, supaya DIA nggak kecewa karena gue udah ngebiarin gitu aja barang titipan-NYA diambil orang (meskipun gue yakin DIA pasti sudah melihat semuanya). 

Terakhir karena gue capek kebanyakan penonton malah nyalahin gue, sementara gue sendiri udah nggak mau ambil pusing dengan barang yang udah hilang, jadi gue memutuskan segera balik sebelum kuping gue panas dan berasap. Dengan gaya masih sama sok cool nya seperti saat pertama orang-orang ngerubungin gue, gue lajukan sepeda motor dengan sebelah tangan yang masih perih dan pegel.


Gue hafal bener muka orangnya, mirip sama Bang Surya Bunting, eh, Surya Ginting tapi lebih kurus dikit. Warna kulit dan tekstur wajahnya sama dah (Sori ye bang nyaman situ sama jambret) heheheh. 

Semaleman sampai hari ini pun gue masih berimajinasi terkait hal-hal yang seharusnya gue lakukan. Seharusnya gue nggak megangin bagian belakang motornya doang, melainkan mendorong mereka dari arah samping supaya mereka terjungkal dan kita guling-gulingan bareng di atas aspal. Seenggaknya itu lebih adil, supaya kita merasakan sakit yang sama. Setelah itu gue membayangkan gue nonjokin muka Si A dengan garangnya, kemudian orang-orang ngurusin yang B. Kemudian gue membayangkan ada adegan salah satu dari mereka mengeluarkan senjata, entah senjata tajam atau senjata api, mengambil sandra (yang jelas bukan gue), kemudian mengancam akan membunuhnya, sementara salah seorang darinya sudah babak belur dan dipegangi warga. Kemudian polisi datang, ada adegan tembak-menembak, dan byar!!!, gue sadar kalau itu terlalu mendramatisir. Cuma buat sebuah HP?, Oh please... ahaha, kebanyakan nonton dan baca action story ini mah. Tapi mungkin bisa gue praktekkan dilain waktu (dan sekali lagi, bukan gue korbannya).
 
Pokoknya buat siapa pun, jangan ngeluarin hp di jalan raya kecuali penting. Apalagi di lampu merah. BAHAYA! (padahal selama ini gue selalu ngewanti-wanti diri gue sendiri soal ini dan selama ini pun gue selalu berhati-hati)

Yang angkoters, keretaers juga sama. Di mana-mana mah sekarang rawan, jadi lebih baik hati-hati aja. Apalagi jambret, copet di jalan sekarang tambah pintar, pakaian mereka bukan baju kumal lagi, melainkan  baju necis kayak orang berduit tapi ternyata penjahat. Penampilan banyak yang menipu coi.

Jambret, begal dan penjahat jalanan sudah mulai berani beroperasi di siang bolong, bahkan di tempat yang banyak orangnya. kita nggak tahu kapan apesnya kita, jadi waspadalah! Waspadalah! *Udah mirip bu Napi belum? #ehh

Tetep ingat Allah di mana pun dan kapan pun, karena dengan begitu Allah akan menolong dan menyelamatkan kita dari mara bahaya.

Dan buat kalian yang qadarullah udah pernah atau baru mengalami kehilangan kayak gue atau justru lebih buruk, seng sabar ya. Nggak perlu nyalahin siapa pun. Nggak usah dimasukin ke hati juga kalau sampai ada yang nyinyirin dan ngatain lo kurang sedekah, kikir dan sebagainya. Jangan sampai itu membuat lo sombong dan mengatakan kalau lo selama ini sudah sedekah, Zakat, dan sebagainya. Cukup Lo dan Allah yang tahu amalan-amalan istimewa lo itu apa aja. Syukuri, nikmati, introspeksi diri, dan jadikan ini sebagai pelajaran. Anggap aja itu ongkos belajar yang belum tentu orang lain bisa dapetin, ya nggak? ^_^

*Bukan gue sok bijak ya... tapi kalau kita ikhlas lillahi ta'ala, maka barang kita yang hilang itu akan lebih bermanfaat, dan bisa jadi kita akan mendapatkan yang lebih baik, asalkan kita tetap berusaha dan terus berkhusnudzon sama Allah.

Terakhir buat temen-temen gue yang suka bengong, protes, dan mempertanyakan kenapa kok busana gue suka berlapis-lapis (celana panjang, rok, dan gamis), salah satu hikmahnya ya itu tadi. Aurat gue masih bisa terselamatkan meskipun gamis dan rok gue fix bolong sana-sini karena gesekan aspal. Dan cidera gue juga sedikit berkurang karena terlindungi oleh busana ini. 

Ya meskipun bengkaknya nggak bisa dihindari, meskipun malamnya gue mati-matian nahan sakit pada luka terbuka ditangan gue karena kena air wudhu dan obat merah, meskipun badan gue akhirnya tetep remuk dan bangun tidur udah mirip robot yang kehilangan tulang belulangnya (wah, nggak jelas banget analoginya ya?)

Tapi pakaian inilah yang menyelamatkan gue dari mengumbar aurat.

Okey guy's, itu ceritaku, mana ceritamu?

Bukan Hilang, Hanya Saja Diambil Oleh Pemiliknya

Yaks, kali ini smartphone gue yang menjadi korbannya. Padahal belum genap satu tahun dia bersama gue, memori card baru diganti dengan kapasitas yang lebih besar, soft case belum ada seminggu, screen protector juga baru diganti. Emang perihnya sip ini mah, wkwkwkwk 

Eits, tapi bukan Risti namanya kalau habis kehilangan sesuatu terus murung dan mewek-mewek, apalagi sampe nggak doyan makan. Meh, double ruginya kan kalau begitu caranya?, yang ada habis kena musibah gue harus banyak makan biar hati dan pikiran gue tetep sehat. Sebelum ini gue juga udah pernah kehilangan backpack yang berisi kamera premier, surat-surat motor, dompet, uang tunai lebih dari setengah juta plus koleksi uang kuno yang always nongkrong di dompet dan barang-barang lain yang ada di dalam tas dalam waktu satu hari. Seminggu kemudian gue juga harus mengikhlaskan hp gue yang baru berusia dua minggu jatuh dari motor dan menyebabkan layarnya pecah. 

Apa gue menangis karena kehilangan itu semua?
Jawabannya enggak!. Percaya nggak percaya sih, gue emang nggak nangis karena kehilangan itu semua. Gue cuma sebel waktu abang gue ngeluarin taringnya dan terus-terusan nyalahin gue atas kejadian itu.

Oh ya, gue sama sekali nggak bermaksud takabur, tapi kalau gue sekedar kehilangan barang doang masih bisa gue upayakan dengan kembali menabung, sementara kalau gue kehilangan orang yang gue sayang?, gue masih belum yakin siap dengan itu. Makanya gue sangat salut sama mereka yang ditinggal pergi sama orang-orang yang mereka sayangi, tapi mereka masih sanggup buat tersenyum dan terus melanjutkan hidup. Mereka ini, orang-orang yang gue bilang: Luar biasa!

Salah satu satu hal yang bikin gue sedih dari kehilangan barang-barang itu, karena semakin sering gue kehilangan barang, maka semakin jauh pula jarak antara gue dengan Masjidil Haram (*If you know what I mean). Tsaaah... kalau secara logika ya gitu, tapi gue tahu kok, nikmat Allah itu Maha Luas... jadi pasti akan selalu ada jalan dari setiap asa yang diupayakan.

Gue selo dan woles bukan karena gue orang kaya yang bisa beli ini itu dengan mudahnya, sama sekali bukan. Kamera premium gue yang waktu itu hilang di IBF juga hasil THR dan tabungan gue selama di RSPAD, buat ngedapetinnya gue bahkan harus rela nggak beli ini itu kecuali sesuatu yang penting. Hp gue yang pecah itu juga smartphone mewah pertama yang gue beli dengan harus hampir menguras seluruh isi tabungan. Kalau bukan karena kebutuhan dan tuntutan pekerjaan, demi Allah, hp nokia 3315 jadul gue, atau evercross yang awet banget itu cukuplah untuk gue. Persetan dengan mode atau gue yang sering dibilang nggak gaul dan fashionable, pokoknya yang penting buat gue hp ya bisa buat sms sama nelpon. Yang penting hp ya nggak kurang pulsa. Udah gitu aja. Tapi berhubung gue dituntut untuk selalu up to date terkait pekerjaan ya mau nggak mau gue harus punya smartphone. Jadilah gue beli hp yang lebih layak yang qadarullah dua minggu langsung rusak. Butuh beberapa bulan lamanya sampai gue bisa beli hp yang baru. Dan sekarang, belum ada sepuluh bulan hp gue udah raib (lagi). Ahahaha....nasib-nasib...

Jadi, sekali lagi, gue emang bukan orang kaya. Satu hal yang selalu coba gue tekankan pada diri gue sendiri setiap sebelum atau saat ingin memiliki sesuatu, yaitu sebuah keyakinan bahwa semua yang gue miliki ini hanyalah titipan, dan gue harus siap apabila sesuatu itu diambil lagi oleh pemiliknya sewaktu-waktu. Dan saat hal itu terjadi maka gue harus mengikhlaskannya.

Sedih pasti ya sedih, tapi harus tetap realistis. Toh mau guling-guling, kayang, maupun koprol sampai tulang pada copot juga itu barang nggak bakal barang balik lagi. Lapor polisi?, Ish... buang-buang waktu dan uang doang. Motor ilang aja belum tentu ketemu, apalagi kalau cuma hp?!. Bisa sih gue cari ke Pasar Poncol (Pasar di Senen yang biasa digunakan para maling, jambret dan sejenisnya buat ngejual hasil pekerjaannya. Waktu itu dokter gue di RS pernah hp nya di jambret dan ketemu pas dicari di Poncol, tapi ya harus beli lagi ke penjualnya).

Jadi dari pada gue melakukan hal yang sia-sia mendingan mengambil hikmah dari apa yang udah terjadi.

"Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya." (HR. Al-Askari dari Anas ra)


Gue pernah denger gitu, dan menurut gue bermuhasabah jauh lebih baik ketimbang terus meratapi nasib.

Oya, satu hal lagi yang membuat gue tetap tenang meskipun kehilangan, yaitu karena barang-barang itu Allah yang ngasih langsung ke gue, gue nggak minta ke bonyok maupun ke sodara-sodara gue. Jadi ketika barang itu hilang gue nggak punya beban moril atau rasa bersalah berlebihan ke siapa pun kecuali sama Allah karena udah lalai ngejaga titipan-NYA. Jadi ketika barang itu udah beneran ilang, gue cuma harus minta lagi sama Allah, percaya bahwa gue bakal dapet ganti dengan yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dan karena Allah memang selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, gue selalu belajar berfikir positif sama DIA. Gue nggak tahu kapan tabungan gue kumpul, tapi gue yakin, sesuatu yang lebih besar menanti gue di depan sana. #Eaaa...

Sementara ini mending gue nggak ketemu abang gue dulu sampai abis lebaran (mungkin), gue cuma mengurangi resiko bakal kena semburan api darinya lagi. 

Gue emang nggak pernah peduli dengan barang yang udah hilang, asalkan orang-orang-orang di sekitar gue pada diem, nggak komplen apalagi marahin gue. Gondog kan?, kita yang kena musibah, orang lain yang ngomel-ngomel. Ish ish ish...
Pokoknya mereka cuma harus diem, udah gitu aja!






Sabtu, 06 Juni 2015

Sajak Move On



Awalnya...
Tanpamu dulu terasa berat
Tanpamu dulu hanya rasa sakit yang kurasa
Tanpamu dulu yang ku tahu hanya ada sepi
Tanpamu dulu yang terasa hanyalah hampa
Tanpamu dulu, tiap hari kuisi dengan ratapan sia-sia
Tanpamu, aku pernah merasa bahwa hidupku tak berarti lagi
Tanpamu, aku pernah....

Tapi tidak lagi... tidak lagi...

Aku sadar bahwa rasa itu salah
Aku sadar bahwa aku salah
Aku sadar bahwa kita salah
Dan aku sadar, bahwa aku haruslah berubah
Oh bukan-bukan
Bukan hanya aku, tapi kitalah yang harusnya berubah

Aku sempat marah kepada Tuhan
Karena membiarkanmu pergi begitu saja
Aku sempat marah kepada Tuhan
Karena meski sudah meminta pada-NYA untuk membunuh rasa ini,
namun tak jua DIA kabulkan
Aku marah, dan terus membenci-NYA
Menyalahkannya dari setiap apa yang menimpaku
Aku terus membenci-NYA
Hingga aku lelah, dan merasa kalah

DIA membolak-balikkan hatiku yang tengah galau
Menjungkir balikkannya hingga semua amarah itu menguap dan pergi entah kemana
Hanya ada rasa bersalah dan penyesalan
Juga Cinta lain yang begitu mendamaikan
Cinta yang berbeda dari yang pernah kau beri
Cinta tulus tanpa pamrih
Cinta murni yang tak pernah menuntut balas
Cinta yang...
hanya ingin memberikan yang terbaik untuk ku

DIA mengusap lembut hati yang keras bagai karang di tengah laut
DIA menyiramnya menggunakan air dingin yang menyejukkan
Membersihkan hati yang menghitam karena terlalu banyak maksiat
Hati yang menghitam seperti Hajar aswad
Menyentuhnya, hingga ke bagian yang terdalam

Akhirnya aku pun sadar
Bahwa kehilanganmu adalah salah satu cara-NYA menuntunku untuk menjemput hidayah-NYA

Terimakasih untuk semuanya

Kau bisa
Pergilah jauh, sejauh yang kau bisa
Jangan lagi kau coba tawarkan janji untuk kembali
Jika janji itu hanya untuk mengajakku kembali dalam kemaksiatan

Kau hanya masalaluku,
Dan masa depanku masih menjadi rahasia-NYA
Jangan pernah hubungi aku, jika untuk memberikan harapan semu
Karena aku sudah berjanji kepada-NYA
untuk mencoba move on dan meraih cinta-NYA yang selama ini selalu ku abaikan

Kau
Berjanjilah untuk tidak kembali
Terkecuali dengan niat suci

Cukup kau tahu bahwa aku baik-baik saja
Cukup kau tahu bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi mulai saat ini
Cukup kau tahu bahwa aku
bahagia tanpamu
Cukup kau tahu, bahwa DIA akan selalu menjagaku

Kau
Move On jugalah
Dan gapai cinta-NYA yang mungkin juga kau abaikan
Karena bagaimana pun
Kita tidak akan pernah tahu, dengan siapa hati kita akan berlabuh

Cukup belajar menjadi yang terbaik, dan DIA akan memberikan yang terbaik
Karena DIA akan selalu sesuai prasangka hamba-NYA
Keep Calm and Still Positive Thinking

Jumat, 05 Juni 2015

STOP Whining, When You Know Nothin



Pernah berhubungan entah temenan, kenalan atau cuma sekedar berinteraksi sesaat sama yang namanya orang yang nggak peka?

Kalau jawabannya belum, gue kasih lo ucapan selamat, dan itu berarti lo harus banyak-banyak bersyukur nggak harus bertemu dengan salah satu species makhluk ciptaan Tuhan yang menyebalkan. 

Kalau jawabannya pernah, berarti… berarti kita senasib. Hanya mungkin kadar apes nya beda-beda. Eh, Astaghfirullah… bukan apes juga sih, cuma kadar ujiannya yang berbeda. Biar gimanapun kan mereka saudara seiman juga.

Allah itu Maha Tahu binggo ya. Gue yang suka bodo amat (cuek kelewatan) dengan tingkat kesabaran yang setebal papan triplek, ternyata harus banyak berhubungan dengan orang yang nggak peka dan memiliki kadar kesensitifan yang tinggi. Terkadang kesensitifan mereka itu melebihi babon yang abis lahiran (ya sensitive banget gitu, padahal orangnya mah asli kelewatan nggak pekanya, nggak sadar diri banget kan?, emang iya. #ehh).

Contohnya aja nih, dalam sebuah kelompok (sori, gue bukan alay yang masih suka geng-gengan). Awalnya gue masih nyaringlah apa yang mau gue omongin, mengingat gue belum terlalu akrab dengan para member. Tapi lama-lama eneg juga setiap kali ada urusan yang penting yang seharusnya mereka pada aktif ngomong tapi malah diem aja. Sekali-dua kali bisa lah ya nyabar-nyabarin diri, meskipun sebenernya udah geregetan pingin gigitin burger, eh malah beneran pada diem. Disindir secara halus…. banget, nggak mempan, udah dipancing-pancing, umpannya nggak kena. Mengingat intensitas komunikasi kita lebih sering grup WA, jadi kita sering kopdaran supaya komunikasi kita tetep seimbang, anata online dan offline. Tapi pas pada ketemuan, eh masih pada bungkam juga. Arggghhhh lama-lama bukan cuma burger sama pizza yang gue makan, tapi juga mereka!

Jadilah di grup itu gue bikin pengumuman, bahwa gue capek main kode-kodean,
Gue capek main sindir-sindiran,
Gue capek, berhubungan sama mereka yang NGGAK PEKA,
Gue capek, gue makan ati, gue…. 
Udah bingung harus menggunakan bahasa apa untuk berkomunikasi dengan mereka
Gue nggak mau ada dusta diantara kita

*nangis kejer

Jadi gue meminta ijin (ngasih pengumuman sih lebih tepatnya) untuk ngomong tanpa tedeng aling-aling. Gue nggak akan ngomong pake bahasa kodingan, bahasa tubuh, apalagi bahasa Qalbu. Gue akan ngomong straight to the poin, baik mereka suka atau enggak suka gue nggak akan peduli. Gue akan ngomong dengan cara yang bisa membuat mereka ngerti apa mau gue. Menurut gue, kalau cara baik-baik mereka nggak ngerti, berarti memang harus dengan cara yang nggak biasa.

Dan mereka pun menyadari dan mengakui bahwa mereka memang nggak peka, mereka juga sepakat, nggak keberatan dan mengijinkan gue untuk ngomong to the poin.

Alhamdulillah… gue sempet kepikiran buat sujud syukur atas diterimanya ide menyakitkan itu.

Awalnya semua berjalan seperti biasa. Karena capek harus ngingetin terus-terusan, akhirnya gue nggak peduli mereka mau ngomong atau enggak setiap kali ada masalah, toh selama ini memang mereka paling jago diem walau udah ditunggu-tunggu buat ngomong. Dan setiap kali dipaksa ngomong dengan cara yang seharusnya bisa membuat mereka ngomong, paling ujung-ujungnya mereka ngatain gue galak, mulai berani nyindir-nyindir seolah gue nggak bakal peka kayak mereka. Hell to the low- Hellowwww, kita beda ya… B-E-D-A!, cukup lo aja yang nggak peka.

Terkadang (eh sering ding), Gue suka mancing-mancing mereka dengan cara menjatuhkan mereka. Dengan harapan mereka bakal marah ke gue, atau minimal melakukan pembelaan dirilah. Tapi toh nyatanya mereka cuma diem, dan gue baru tahu kalau buat melakukan pembelaan diri aja mereka masih ogah-ogahan. Sumpah, males gila sama orang-orang pasif begini. Berasa tinggal sama patung.

Aduh... Please deh ya, STOP berlindung dari sebuah hadits yang mengatakan diam adalah emas, Innallaha ma'a shobirin, atau jargon yang mengatakan bahwa mengalah bukan berarti kalah. Anak SD juga tahu itu. Tapi semua itu ada tempatnya kali... dan sebagai orang dewasa yang nggak bisa menempatkan diri?, itu sungguh terlalu!. *Gaya bang Roma
Kalau dihitung-hitung, kayaknya udah nggak keitung, berapa kali gue merendahkan mereka. Gue berharap, dari mereka bakal ada yang tabayyun, minimal nanya tujuan gue itu apa bersikap begitu, tapi toh sepertinya sampai bumi gonjang-ganjing mereka bakal tetap diem dan lagi-lagi cuma berani ngomongin gue di belakang. Hahaha... payah payah payah.

Ada… juga, yang setiap kali ditegur,selalu berpikirnya bahwa gue sedang tersinggung. Sumpeh broh, gue suka ngomelin dia yang kebangetan polosnya, kebangetan ‘baeknya’, kebangetan… kebangetannya deh. Maksud gue sih supaya dia sadar bahwa yang dilakukannya itu salah, eh alih-alih dia sadar, malah selalu berakhir dengan dia yang meminta maaf. Bukan karena dia sadar dan mengakui kesalahannya, tapi karena dia nggak enak hati atau takut gue tersinggung. *capek deh...
Apa-apaan coba dia begituh?. Pingin duet sama Gita Gutawa sambil nyanyi: 

“Pergi kau ke ujung Dunia… hypothermia di Kutub Utara…
Hilang di… Samudra Antartika….
Dan Jangan kembali !!!
Kamu kebangetan Sip
Dasar kurang inisiatip
Dasar enggak peka sip”


#plakk, back to earth tiii!!! Malah nyanyi -_-'

Gue sempet ngerasa dikhianati sih sebenernya. Karena di awal mereka setuju-setuju aja kalau gue ngomong to the poin, eh di belakang malah pada mengungjingkan diriku, mewek-mewek nggak jelas ngomong ini itu. Lucu binggo pas tahu apa yang terjadi di balik layar. Nggak nanya nggap apa. Tapi ya sudahlah. Walaupun sebenernya aku nggak bisa diginiin.

Mungkin aku… bukan pujangga, yang pandai merangkai kata… 

*watdezing!!! (ditendang ke kutub utara)

Bodo Amat mereka mau ngomong apa, gue nggak mau terlalu peduli. Toh selama ini mereka juga nggak peduli dengan perasaan gue. #diamahgituorangnya

Eh enggak-enggak. Gue nggak bisa bodo amat. Gue nggak suka lari dari masalah dan menjadikan diri gue sendiri sebagai seorang pengecut. Gue harus meyakinkan diri bahwa gue bukanlah ababil yang suka sindir-sindiran di sosmed. Ngeladenin komentar-komentar nggak penting yang mampir supaya dibilang kece. Nggak, gue nggak akan kaya gitu, karena tanpa begitu pun semua juga tahu bahwa gue emang kece dari sononya. *halah

Kamis, 04 Juni 2015

Jodoh, Takdir dan Do'a

Halo, Nama gue Risti, Single dari lahir, dan belum pernah menjomblo. Galau pasti pernah, naksir orang juga udah berkali-kali, tapi alhamdulillah belum pernah ngerasain rasanya putus sama pacar, musuhan sama mantan, atau bermasalah sama gebetan mantan gara-gara sang mantan masih mikirin gue (elah, kasus banyak orang ini mah),  wkwk

Eits, haters, jangan bilang gue lagi promosi, tapi kalau kalian mikirnya gitu ya nggak papa juga sih. Gue boleh nulis apa yang mau gue tulis, jadi kalian juga boleh menilai dari apa yang kalian lihat dari tulisan gue ini.

Ngomong-ngomong soal single dari lahir, bukan berarti gue nggak mikirin tentang jodoh ya. Mikir ke sana (tentang masa depan) jelas boleh-boleh aja, bahkan wajib mungkin bagi sebagian orang, tapi menurut gue ya, sesuai porsinya aja.

'Maksudnya?'

Ya maksud gue, jangan nggak mikirin, tapi jangan sampai galau kebangetan gara-gara terlalu mikirin juga. Intinya, setiap fase kehidupan yang kita alami sekarang ini itu, nggak terlepas dari campur tangan ilahi, kita nggak bisa maksa atau juga mengelak. Kalau orang bilang, semua itu namanya takdir.Jadi ya, nikmati aja semua prosesnya, karena suatu saat lo pasti bakal kangen dengan masa-masa ini.

'Trus kalau gue jomblo, single atau apapun namanya selama seumur hidup, itu juga takdir?, berarti Tuhan nggak adil dong sama gue?!'

#plakkk

"Ngaca woi ngaca!"
Takdir itu bisa dirubah dengan do'a, pernah denger kan kalau senjatanya umat muslim itu adalah do'a?, lo pikir dulu 300 tentara umat muslim kenapa bisa menang waktu melawan 1000 tentara kaum kuffar Quraisy di Perang Badar?. Rasulullah berdo'a man!, berdo'a tanpa lelah sampai selendangnya terjatuh, sampai Abu Bakar juga berulang kali meminta Rasulullah menghentikan do'anya yang terlalu lama."

'oh... jadi gue cuma perlu berdo'a aja ya?'

"Ya kalau lo Rasulullah silahkan." pasang muka polos.

'Loh, maksud lo?,  katanya tadi senjatanya umat muslim dengan berdo'a.'

"Iya, tapi orang do'a juga kudu diimbangi dengan usaha keleusss."

'Oh... Gue udah usaha, tapi kok jodoh gue belum juga dateng ya?'

"Usaha yang pegimane maksud lo?, yang pedekate sama anak orang?, yang flirting-flirtingan sama temen kampus?, atau yang mana?" tersenyum penuh arti.

'ehmm, ya...  kan itu usaha juga' garuk-garuk kepala.

"Jodoh itu hak prerogatifnya Allah sayang... kalau kamu mau mendapatkan orang yang tepat ya berarti kamu juga harus belajar menjadi orang yang tepat untuk seseorang yang kelak menjadi pendamping hidup kamu."

'maksud lo?'

"Orang bilang, jodoh itu cerminan diri. Lo pasti pernah denger kan, soal laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik, pun begitu sebaliknya."

'iya sih, tapi kan gue butuh waktu untuk penjajakan. Supaya nggak kayak beli kucing dalam karung.'

*ketawa guling-guling

"Dalam Islam, sudah mengajarkan proses yang baik, jadi lo nggak bakalan kayak beli kucing dalam karung. Kalau lo beneran siap, lo bisa ta'aruf untuk mengenal dia, dan itu ada batasan-batasannya, ada aturannya, ada cara mainnya. Jadi gue jamin lo nggak bakalan kayak beli kucing dalam karung."

'Oh gitu. Gue sih pingin ta'aruf gitu, cuman kayaknya tabungan gue belum cukup deh buat nikah, menurut lo gue harus gimana?''

"Yelah, nikah itu gratis, kalau emang beneran mau nikah untuk menghindari nafsu, zina dan gidaan syaithan yang lain. Tinggal datang ke walinya, ijin nikah di KUA, beres. Tapi kalau lo emang belum siap, ya dari sekarang persiapkan semuanya. Sambil nabung, sambil sama-sama memperbaiki diri. Yang jelas kalian nggak usah ngebuat ikatan dengan jadian, tunangan, atau apa pun namanya. Ya walaupun kalian bilang nggak ngapa-ngapain, tapi setan itu selalu punya cara buat ngejerumusin manusia."

'Tapi, kalau dia disamber orang lain gimana?'

"Ya itu udah resiko. Kan gue bilang, jodoh itu hak prerogatifnya Allah. Kalau dia jodoh lo, pasti Allah bakal menyatukan kalian bagaimana pun caranya. Tugas kita hanya berusaha untuk memperbaiki diri hingga kita benar-benar siap, lahir maupun batin."

'ok deh, gue bakal mempersiapkan diri sebelum menjemput jodoh gue'

"Good boy..."

Nah kan gaes, emang nggak mudah ngejaga hati, Tapi kalau bukan kita sendiri yang menjaga, lantas siapa lagi?. Yuk sama-sama saling mengingatkan kepada sesama muslim untuk tetap berada di jalan yang lurus. Kalau ada yang salah ya di ingetin, bukan justru didukung. Sehingga kelak di yaumil akhir, kita tidak turut disalahkan atas saudara kita karena kita sudah mengingatkannya.


Happy writing, happy reading, happy studying!