Senin, 14 Desember 2015

Masihkah Kita Merasa?

Suatu ketika gue membaca broadcast-an tentang HTI yang menjelekkan Erdogan, lalu kemudian fans Erdogan pun bereaksi dan memberikan tanggapan, entah berupa komentar sederhana, sampai tulisan tandingan lainnya.

Gue pun bertanya-tanya, kenapa HTI begitu?, toh dunia juga melihat, bahwa Erdogan banyak melakukan hal-hal positif. Tak lama, berita itu berlalu.

Kemudian di lain waktu gue membaca tentang kenyinyiran golongan tertentu terhadap apapun yang dilakukan oleh FPI, hanya karena FPI sering frontal terhadap kemaksiatan, berani turun lapangan dan melakukan razia di berbagai macam tempat maksiat, nahi munkar melalui tangan-tangan mereka.

Oh please, gue jelas nggak akan pernah mendukung bagian anarkis mereka, tapi harus gue akui bahwa FPI jelas jauh lebih baik dari gue, dan gue nggak punya alasan buat nyinyirin mereka. Toh selama ini, dari berita yang gue dapet, FPI juga sering turun ke lapangan ketika terjadi bencana di berbagai tempat (meskipun aksi mereka minim pemberitaan). Yang pasti, jelas mereka lebih baik kemana-mana dibanding orang yang suka nyinyirin mereka.

Terakhir gue baca lagi artikel di medsos soal "Pepesan Kosong Pilkada."

Yang beginian juga pasti heboh, dan memunculkan berbagai macam reaksi publik. Artikel tandingan pun banyak berkeliaran. Orang-orang berlomba men-share, broadcast, copa terkait isu ini ke medsos yang mereka miliki. Masing-masing kubu merasa dirinya paling benar dan berjusng keras bmempertahankan argumentasi mereka. Antara yang pro dengan yang kontra dengan demokrasi.

Sampai di sini, gue merasa sedih.

Kenapa?

Karena mereka yang bertikai ini, kebanyakan adalah saudara-saudara seiman gue juga.

Agama di KTP nya gue yakin masih Islam. Shalat wajibnya masih sama, lima waktu. Arah kiblatnya juga masih sama, Ka'bah. Syahadatnya nggak beda, sama persis, antara satu golongan dengan golongan yang lain. Rukun Iman dan Islamnya juga sama lho ya. Pokoknya aqidahnya masih sama.

Tapi, mereka yang katanya sama-sama mau memperjuangkan agama Allah (Islam), malah saling serang dan menganggap golongan sendiri paling benar.
*Perjuangan macam apa itu? 😢

Buat apa sih debat?. Memang ada untungnya saling debat kusir?, bukannya hal ini justru menimbulkan perpecahan?

Disaat musuh saling bersatu padu, eh umat muslim saling bertikai. *nggak boleh capek.

Begitulah...

Kalau bukan karena gue pernah baca, bahwa kelak Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, mungkin juga gue akan bertanya-tanya, kenapa mereka nggak bersatu aja sih?, tapi ya inilah bagian dari sunnatullah yang harus umat muslim hadapi.

Gue termenung, ketika membaca komentar seseorang di dalam sebuah grup WA, saat ada beberapa orang saling sahut-menyahut, menanggapi tentang artikel Pepesan Kosong Pilkada.

"Tidak ada kejayaan dan kebesaran pada umat yg bertikai. Wa' tashimuu bihabblillahi jami'a wala tafarroquu..."

Nggak akan pernah berjaya, nggak akan pernah besar kalau masih bertikai. Jangan pernah muluk-muluk ngarepin Islam berjaya seperti di jaman Muhammad Al Fatih, apalagi ngarep Islam bakalan seperti di masa kepemimpinan Muhammad bin Abdullah.

Nggak boleh ngarep kalau masih pada saling menghujat, menganggap diri paling benar, dan masih saling menebar kebencian.

Karena dulu, Rasulullah mensyiarkan Islam dengan cara yang ahsan.

Wallahua'lam bishawab.

Gue jadi inget, ketika dulu pertama Hijrah banyak yang nanya, "kamu ini aliran apa?", atau tiba-tiba ada supir taksi yang bertanya, "Mba PKS ya?.", ada juga yang ragu-ragu bertanya begini, "Risti maaf mau nanya, kamu HTI bukan?", dan masih banyak lagi pertanyaan yang sejenis yang mampir di kuping gue.

Kalau sudah begitu, gue cuma tersenyum sambil bilang,

"Saya Islam."

Semoga masing-masing dari kita mau belajar memperbaiki diri, dan belajar untuk menjadi agen muslim yang baik.

Ristiati Izzumi Hirata

Senin, 07 Desember 2015

My Sunday Short Story

Yang di depan podium itu, katanya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kalau nggak lupa sih namanya Ibu Yohana. Berdasarkan telusuran google nama lengkapnya Yohana Yambise (kalau gue nggak salah ketik).

Seperti biasa, pagi ini gue ketiban apalah namanya. Seharusnya gue dateng pagi ke kantor, ngerjain surat-surat yang diperlukan oleh direktur yang akan dibawa pagi ini juga, kemudian sedikit bersantai saat ibu direktur sudah pergi dengan membawa berkas yang diperlukannya. Beres. Gue bisa luluran, meni, pedi, creambath, ... #Plakkk!, canda ding, maksudnya gue bisa santailah.

Jadi pagi itu dengan PD nya gue memilih kaos marun panjang (oleh-oleh dari Thailand), rok hitam jaman kuliah (bayangin warnanya kayak apa sekarang), dan bergo hitam (hasil jarahan), serta sandal jepit buat ke kantor.

Saking kasualnya, sampai temen kos nanya begini:

"Ti, mau main apa kerja?"

"Main dong kak." jawab gue sok cool.

Tapi seperti biasa, ternyata bos ngasih amanah dadakan supaya gue ikut ke TKP di Sari Pan Pacific Hotel buat ngurusin berkas-berkas yang harus ditandatangani. Kalau udah begini gue cuma bisa ngelus dada. Meskipun gue belum tahu dalam rangka apa ini budir ke sana, tapi gue yakin, kami akan menghadiri acara resmi yang dihadiri oleh orang-orang penting dengan pakaian formal mereka. Akhirnya gue cuma pasrah, mengganti sandal jepit dengan flat shoes yang emang sengaja gue tinggal di kantor, kemudian bergegas menghampiri mobil budir di sebrang jalan raya.

Gue udah sempet mengeluh dalam hati karena harus ikut. Secara, semalam itu habis kena banjir lokal di kamar kosan, gara-gara saluran air samping kamar mampet, jadi air talang masuk semua ke kamar melalui celah-celah daun jendela yang menjuntai sampai ke bawah. Gue baru kelar nguras genangan air dan ngepel kamar sampai sekitar jam 12 malam, kemudian bangun tidur dalam keadaan pinggang pegel dan badan sakit nggak karuan. Tapi ketika mobil kami sampai di lampu merah kawasan salemba, gue ngerasa jadi hamba Allah paling kufur sedunia. Bayangin! di sana gue melihat seorang tukang koran di lampu merah yang tengah tersenyum tulus ketika beberapa pengemudi mobil ada yang membeli korannya. Dia menerima lembaran uang lima ribuan, memberikan kembalian, bahkan harus berlari-lari dan waspada dengan lampu lalu lintas yang siap berubah warna seketika itu masih dengan senyuman. Padahal gue juga tahu, keuntungan mereka dari menjual koran itu nggak banyak. Tapi mereka bisa tersenyum setulus itu. Sementara gue yang tinggal duduk, numpang di mobil ber-AC, nggak kecapekan, malah ngedumel nggak jelas. Mendadak gue malu sendiri demi melihatnya.

Alhamdulillah 'alla kullihal, warna langit jadi terlihat semakin biru cerah setelah itu.

Nggak lama, mobil kami sampai di loby hotel, dan kami segera masuk.

Gue pingin ketawa sebenernya ketika melewati security dan mereka memeriksa tas kami dengan alat mereka. Tas ransel foldable gue jelas barang langka menurut mereka. Ya iyalah, yang masuk sini biasanya kan orang berkantong tebel, yang nggak mungkin menggunakan Tas murahan macam ini. Hahah. *abaikan. Kami langsung naik lift ke lantai empat.

Pertama kali sampai di tempat tujuan, kami langsung menuju meja registrasi. Gue pun komat-kamit ngasih kode ke budir.

"Udah tulis aja PKS." Ucapnya santai. Oh... iya, gue cuma mengangguk takdzim, kemudian langsung masuk ke aula, setelah sebelumnya mendapatkan souvenir dan beberapa buku tenang Caleg Perempuan.

Byar...

Tuh kan bener. Yah, pulang aja dah pulang.

Pas di dalem, isinya orang-orang elit sosialita. Yah, maksud gue, seenggaknya, nggak ada satu pun dari mereka yang datang keacara semacam ini dengan kaos dan bergo.

"Forum Komunikasi Politisi Perempuan Calon Kepala Daerah/Calon Wakil Kepala Daerah" gue baca tukisan di spanduk yang terpasang di depan. Oh... Jadi kebanyakan undangan adalah Caka/Wacakada, politisi.

Gue cuma bisa berdo'a, semoga nggak ada orang yang akan iseng nanya macem-macem ke gue. Dan alhamdulillah, yang duduk di sebelah gue adalah ibu-ibu tua pejabat eselon I dari kementerian itu. Kami ngobrol beberapa hal, dan dia cukup puas dengan jawaban bahwa gue dari Rawamangun, nggak nuntut penjelasan dari Instansi/Organisasi apapun gitu. Hahah. Gue baru bisa benar-benar relax ketika Ibu Menteri sudah datang, dan acara dimulai.

Sementara Bu Yohana memberikan sambutan, gue menatap kosong piring putih kecil bekas snack coffee break. Nyesel aja, kenapa tadi ke sana nggak bawa kotak makan ya?, croissantnya itu lho, nagih!, enak banget, dan masih sisa banyaaakkk di loyangnya. Hahaha.

Setelah urusan di sana selesai, akhirnya gue bernapas lega. Langsunglah gue memesan Gojek, karena budir langsung bertandang ke Bandung.

Emang dasar sih ya. Gue lupa kalau daerah Thamrin nggak boleh buat lewat motor, jadilah gue janjian sama si abang gojeknya di jalanan lain, kasian mau cancle orderan. Setelah ketemu kami pun langsung menuju ke kantor.

Sampai di kantor, ternyata sedang mati lampu, akhirnya gue milih tilawahan di ruangan, sembari menanti adzan dzuhur.

Awalnya gue merasa ada sesuatu yang ngeganjel gitu. Tapi apa ya?

Oh iya gue baru inget. Tadi pagi, karena dari semalam hp mati, salah satu teman kosan sekaligus teman kantor yang mengabarkan bahwa gue harus nyampe kantor sebelum jam 7. Gue hanya sekilas melihat matahari udah terang, jadi gue buru-buru ke kamar mandi, gosok gigi, dan cuci muka.

"Risti cepetan mandi dulu, supaya nggak telat." Tegur Kak Mel.

"Nanti mandi di kantor aja Kak." gue pikir, yang penting surat-suratnya kelar dulu, diambil sama budir, dia pergi, gue mandi. Eh, rencana gagal.

Gue kembali mengingat-ngingat aktivitas gue dari pagi hingga sore, dan ternyata, gue emang belum mandi.

Ya Allah... Pantesan kok ya gue ngerasa ada yang aneh gitu.

Tapi nggak papa. Itu artinya gue udah turut mendukung program sehari hemat air. Entah itu programnya siapa, kalau emang nggak ada, ya udah, ada-adain aja.
#maksa

Apapun itu, gue cuma pingin bilang, bahwa kebahagiaan itu selalu bisa didapatkan dari banyak hal, bahkan hal-hal yang sederhana sekalipun. Seperti dengan melihat senyum tulus orang lain, seharian nggak mandi, diajak ngebut sama tukang ojek, bahkan mendengar kabar teman dan sahabat mau menikah pun akan menjadi sesuatu hal yang luar biasa ketika kita mampu bersyukur. #ehh
*Abaikan yang paling akhir.

Yah, begitulah my sunday short story. Kalau ada yang baik diambil, kalau banyak yang kurang baik ya diingetin.

Karena menulis adalah mengikat cerita, bukan mengejar cinta.
#plakk

Senin, 19 Oktober 2015

Episode Senja

Daun yang jatuh tak kan pernah kembali ke tempat darimana ia berasal
Dia akan pergi kemana pun angin membawanya

Dan aku rasa, aku mulai iri dengan ketaatan daun yang gugur itu.
Dia tak pernah marah
Tak pernah membenci dan mencaci
Hanya menuruti, apa suratan Ilahi

Aku pun ingin rasaku seperti daun gugur itu
Pergi dari suatu tempat, dan tak pernah kembali
Melupakan apa yang seharusnya dilupakan

Episode ini harusnya tlah berakhir semenjak hari kepergianmu dan kehilanganku

Semenjak DIA menjawab munajat dan tanyaku
Semenjak DIA menggiringku hingga sampai di titik ini
Di sebuah tempat dimana tak
seharusnya aku berada

Maka harusnya aku mulai belejar melepaskan
Bukan justru merajut rindu
Maka harusnya aku mulai belajar melupakan
Bukan terus mengukir kenangan

Tapi hatiku masih tertutup untuk menerima semua kenyataan ini
Dan aku pun tersadar, bahwa episode ini masih akan terus berlanjut, hingga aku sendiri mampu mengakhiri

Ya...
Aku masih mencarimu
Aku masih menantimu
Aku masih sangat ingin melihat senyum sempurna itu
Dan satu hal yang paling menyakitkan adalah, aku masih mengharapkanmu
Tak peduli betapapun perasaan ini menyakiti diriku sendiri

Duhai senja

Adakah dia tengah memandangmu seperti aku memandangmu?
Adakah kau melihatnya tersenyum tulus seperti ia dulu?
Adakah dia masih peduli dengan sekitarnya?
Adakah dia...?

Duhai senja,
Mengapa menyapamu selalu membuatku sendu?
Mengapa memandangmu selalu tercipta lara?

Duhai Senja,
Betapa benci dan rindu untukmu telah menyatu

Hingga aku tak lagi tahu
Apakah aku tengah terluka atau bahagia saat menantimu

Duhai senja...
Biarkan aku menikmati rona jinggamu
Hingga ia berlalu
Hingga gelap menyapa
Hingga kehangatan itu tak lagi terasa
Hingga seruan menghadap Tuhan mulai dikumandangkan

Aku akan pergi,
dan jika Tuhan menghendaki, aku akan menemuimu esok hari.

Kembali menantimu hingga ujung waktuku

Minggu, 09 Agustus 2015

Surga Yang Tak di Rindukan

Ibu: Bapakmu itu orang yang baik, dia pasti punya alasan kenapa dia menikahi wanita lain

Arini: Tapi apa Ibu nggak sakit ketika tahu Bapak menikah lagi? (Emosi)

Ibu: Awalnya Ibu sakit, marah, kecewa, dan menangis seperti kamu. Tapi Ibu memilih untuk bersabar. (Jawabnya tenang)

Arini: Arini bukan Ibu!, Arini tidak bisa seperti Ibu. (Menangis)

Ibu : Ada hal yang membuat Ibu akhirnya memilih bersabar dan menerima semuanya.

Arini: (menoleh ke Ibunya dengan berlinang air mata) Apa?

Ibu: Kamu (sembari tersenyum tulus penuh kasih sayang)

Arini semakin terisak mendengar jawaban Ibunya.

Ibu: Arini, kamu punya keputusan sendiri. Tapi apa pun keutusan kamu nanti, ibu harap kamu tabayun dulu ke Pras.

###

Dialognya mungkin nggak sama percis, tapi ini salah satu bagian yang gue suka dari Film 'Surga Yang Tak di Rindukan'. Pembawaan Ibunya itu lho. Ngademin.

Dari awal, gue nggak mau memberikan komentar apa pun, di saat banyak komentar negatif terkait film ini. Nggak kece banget, kalau hanya karena cover judul film yang menggambarkan Arini (Bella) dan Pras (Fedi Nuril) yang seolah berpelukan, trus ngejudge film ini begini atau begitu. Secara jaman udah semakin canggih, ngedit-edit gitu mah udah hal mudah. Bukan berarti gue setuju dengan editan gambar semacam itu. Seharusnya,  memang kalau bisa hal-hal semacam itu dihindari, meskipun tujuannya baik, tapi orang-orang yang tidak tahu kan juga tidak salah kalau akhirnya mereka menilai macam-macam saat melihat gambar itu pertama kali. Bagaimanapun juga, izzah seorang muslimah harus tetap dijaga. Apalagi Muslim/Muslimah itu kerap menjadi pusat perhatian. Ada orang-orang yang memperhatikannya karena benar-benar sayang atau hanya ingin mencari kesalahan, kemudian menjatuhkan. Salah sedikit saja dicela, seolah muslim itu malaikat yang tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun. *Gue ngomongin fakta*

Selain nggak kece, gue juga ngerasa nggak adil dan mendzolimi semua kru yang terlibat dalam produksi film ini. Lebih-lebih penulis bukunya (terlepas dari mba Asma ini Sunni atau Syi'ah lho ya...).

Ya kali liat buku dari covernya. Cover bagus belum tentu isinya juga bagus, begitu pun sebaliknya. Kalau mau tahu kualitas isi buku ya dibaca dulu, mau lihat film itu bagus atau enggak, juga harus nonton dulu. Belum apa-apa kok sudah heboh. Seneng banget ngomentarin hal yang belum jelas wujudnya.

Karena gue sendiri belum baca bukunya, jadi yang gue lakukan adalah menunggu sampe filmnya rilis, syukur-syukur bisa cepet ditayangin di TV (nggak mau modal banget emang).

Poligami.

Siapa sih yang nggak kenal istilah itu?. Seorang sahabat pernah bercerita tentang kenalannya. Gara-gara poligami ini ada seorang muslimah yang akhirnya murtad. Alasannya adalah, karena ayahnya menikah lagi, dia merasa tidak terima dan lebih memilih keluar dari Islam. Na'udzubillah. Gue yakin poligami hanya satu dari sekian banyak alasan yang digunakan musuh Islam untuk menyerang dan menjatuhkan Islam. Entah apa sebabnya dan bagaimana awalnya, tapi poligami memang cenderung diidentikkan dengan lelaki muslim yang mempunya istri lebih dari satu. Padahal ada juga umat agama lain yang mempunyai istri banyak, dan tidak ada yang mempermasalahkan. Tidak ada media yang meliput.

Poligami.

Pelakunya kalau Muslim biasanya bakal dibully habis-habisan, bahkan sampai dihinakan, sementara kalau pelakunya adalah non muslim tidak akan pernah dipermasalahkan, walaupun istri mereka ada yang berjumlah lebih dari lima!. *Nggak adil banget*

Gue sampe bingung, mereka ini membenci poligami atau membenci Islam. *Eaaaa. Ngaku deh ngaku, jangan cuma bisa bersembunyi atas nama hak asasi wanita aja. *halah, cut!, back to surga yang tak dirindukan.

Yak, ternyata maksud dari surga yang tidak dirindukan oleh penulis adalah poligami saudara-saudara. Gara-gara nonton film ini, gue jadi mikir, gimana ya kalau kelak suami gue berpoligami, atau yang lebih melas lagi malah gue yang dijadiin istri kedua, ketiga atau bahkan keempat. Astaghfirullah... Apa bisa gue berbagi?, atau apa bisa (tega) gue membuat dongeng di atas dongeng wanita lain? (Pinjem bahasanya Arini). Gue emang nggak akan pernah tahu gimana nasib gue ke depan, tapi kalau boleh milih, tentu gue sepemahaman dengan Arini, dan mungkin juga banyak wanita akan sependapat. Kalau semua wanita diberikan pilihan, tentu wanita akan lebih memilih menjadi seperti Khadijah di sisi Rasul, atau Fatimah di sisi 'Ali. Hanya ada aku dan kamu, serta anak-anak kita. Tidak ada dia dan ia. Hanya ada kita. *Ngomong apa sih gue ini?*

Tapi ada juga lho, wanita yang menawarkan, bahkan sampai membantu sang suami berproses dengan madunya. Yang ini, terlepas ikhlas atau enggaknya hati dia yang setulusnya, tapi gue acungi jempol atas apa yang dia lakukan. Salut!. Tapi sepertinya gue nggak kepikiran buat ngikutin jejaknya.

Intinya, menurut gue film SYTD ini bagus. Lebih bagus dibandingkan dengan Assalamu'alaikum Beijing.

Udah ah, kalau gue jabarin lagi nanti gue didemo sama aktivis anti poligami. Bukan berarti gue pro poligami, cuma kalau Allah aja nggak ngelarang atau mengharamkan, masak gue harus melakukan hal sebaliknya?, siapa gue sih?.

Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini. Kesalahan bisa jadi disengaja, bisa juga memang benar-benar disengaja. Akhirul kalam, wabilahi taufik wal hidayah, Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Senin, 03 Agustus 2015

Forgive not to Forget

Forgive not to Forget

Well, gue bukan nggak tahu kalau belakangan ini ada yang suka nyindir-nyindir gue via sosmed. Mulai dari status FB, share-share tulisan di Whatsapp, poster quote, dll. Gue bukannya ke GR-an dengan mengatakan bahwa statusnya nyindir atau ditujukan buat gue, tapi gue sudah cukup lama mengenal orang-orang itu, dan gue tahu bagaimana sikap dan sifat mereka.

Kalau mereka berfikir bahwa gue bakal terintimidasi dan akan terpengaruh oleh sindiran mereka, maka gue tegaskan bahwa mereka salah besar. Gue sama sekali tidak terintimidasi atas apa yang mereka lakukan.Kalau mereka berfikir bahwa gue pergi menjauh dan dianggap memutuskan silaturahim hanya karena sebuah masalah, itu urusan mereka. toh gue sendiri mencoba bersikap biasa saja dan tidak menutup diri untuk berhubungan dengan sesiapa.

Kalau gue nggak mau meminta maaf, jelas itu masalah gue, tapi kalau ada yang bilang gue nggak mau maafin orang dan berburuk sangka dengan sikap gue tanpa mau repot buat tabayun ya itu urusan dan masalah mereka, gue mah mau tebar senyum aja. Udah gitu aja.

Ayolah... kita ini bukan anak kecil lagi yang bisanya cuma sindir-sindiran. Kalau ada yang merasa punya masalah ya silahkan diselesaikan secara dewasa, kalau nggak mau ya nggak usah rusuh sendiri. Jangan hanya bisa melemparkan kotoran ke orang lain agar diri sendiri terlihat bersih. Lagian dalam sebuah hubungan, konflik itu pasti akan selalu terjadi, tidak perlu dilebih-lebihkan.

Adakalanya orang menarik diri. Tenggelam dari permukaan dan menepi di tempat tersunyi. Entah dalam waktu sejenak atau bahkan dalam kurun waktu yang lama. Bisa jadi kini belum tiba waktu mu. Dan percaya atau tidak, kau pun akan membutuhkannya. Sendiri.

Jika berucap hanya menimbulkan luka yang terus ditahan, maka biarkan lidah itu diam, bukan bisu. Biarkan dia kembali berucap ketika seharusnya dia berucap. Jangan biarkan ia membicarakan orang lain di belakang orang tersebut. Jangan biarkan ia menjadi pengecut. Karena sekali orang itu terluka, dia tidak akan pernah bisa melupakan kenangan itu dari memorinya.

Karena memaafkan, tidak berarti melupakan.

Jumat, 10 Juli 2015

Ramadhan ini I'tikaf di mana?

Kalau sebelum-sebelumnya gue suka ngebolang dari satu masjid ke masjid yang lain, i'tikaf secara nomaden demi menemukan tempat yang comfort buat i'tikaf, dua tahun belakangan ini gue udah nggak perlu melakukan hal itu. Karena gue udah menemukan tempat yang menurut gue nyaman banget.

Fasilitas tempat MCK yang baik adalah salah satu kriteria utama selain bacaan tartil dari Sang Imam. Meskipun nggak sekece Ahmad Thaha Al-Junayd sih bacaannya, tapi ya lebih baguslah dari pada bacaan Al-Qur'an gue.

Masjid Bea Cukai. Mungkin nggak se terkenal Masjid Istiqlal, Al-Hikmah atau At-Tin dan masjid-masjid besar lainnya. Gue lupa nama asli masjidnya, At-Taubah, At-Taqwa atau apa gitu, yang jelas lebih terkenal dengan sebutan Masjid Bea cukai karena Masjid ini terletak di dalam komplek perkantoran Bea Cukai.

Ramadhan kali ini gue sungguh melongo melihat kekecean kamar mandi yang nampaknya baru dipugar habis-habisan. Selain disediakan ember kecil untuk menampung air, juga ada fasilitas showernya!, seolah-olah ingin mengatakan; "Woi, yang i'tikaf jangan lupa mandi ya"
wkwkwk. Selain itu juga kran air untuk mengambil wudhu sangat banyak, jadi orang-orang tidak perlu mengantri untuk sekedar gosok gigi dan wudhu ba'da sahur. Bagian dindingnya juga diganti dengan cermin-cermin panjang, sehingga memudahkan ibu-ibu buat ngebenerin jilbabnya. Kekurangannya hanya saat banyak pemakainya secara otomatis airnya tidak terlalu deras mengalirnya. But it's okay lah.

Buka & Sahur 100% Gratis!

Well, baru sekali sih gue ikut buka di sana, tapi memang sudah disediakan ta'jil. Dan yang tidak membawa makanan berbuka juga ditawari nasi bungkus. Please, jangan nge judge gue pelit yang cuma nyari gretongan doang. Meskipun bagian suka gretongannya nggak salah juga, tapi buat gue fasilitas Berbuka dan Sahur gratis itu adalah bonus dari Allah buat anak kos. Sebelumnya di sini untuk berbuka tidak disediakan makanan berat, hanya ta'jil saja, dan untuk menu sahur kita harus registrasi dan membayar kurang lebih 15.000 rupiah untuk membayar makanan sahur. Tapi kali ini semua benar-benar gratis, bahkan para orang tua yang membawa anak kecil juga disediakan makanan untuk sarapan anak-anaknya oleh panitia. Setahu gue sih ini sebelumnya nggak ada juga. Selepas kajian malam (ba'da tarawih) juga disediakan camilan sehat seperti kacang rebus, singkong dan ubi rebus, pisang rebus, dan rebusan-rebusan lainnya. Tenang, kalau soal air, di sana disediakan dispenser dan air galon yang siap di ganti oleh panitia ikhwan jika sewaktu-waktu habis. Kopi, teh, gula dan susu bubuk juga disediakan. Pokoknya ini masjid Woman or family friendly bangetlah menurut gue.

Seperti kebanyakan masjid lain, biasanya masjid ini akan lebih ramai di malam-malam ganjil. Itu berarti gue harus datang lebih awal dan mengambil tempat paling pojok untuk menaruh barang-barang.

Sepertinya DKM Masjid Bea Cukai paham, bahwa kamar mandi yang nyaman dapat menarik minat para shaumin dan shauimat (eh maap kalau salah nulisnya).


Nah, itu sih cerita tentang masjid favorit gue buat i'tikaf, gue yakin kalian juga punya tempat yang seru juga :)

Rabu, 08 Juli 2015

Masuk Surga Keluarga

Peringatan malam Nuzulul Qur'an sekaligus Launching Gerakan Jakarta Mengaji oleh Badan Komunikasi  Pemuda Remaja Masjid (BKPRMI) DPW DKI Jakarta bekerjasama dengan AQL (Ar-Rahman Qur'an Learning)

Acara yang dilaksanakan pada malam 17 Ramadhan atau Jum'at, 03 Juli 2015 di Masjid Jami' Istiqlal dibuka dengan pembacaan Tilawah dan Sari tilawah QS.52:1-29, 73:20.

Turut hadir Ketua Umum BKPRMI dan staff Zukhdi Mahmudi, Dr. H. Bachtiar Natsir , Ust Deden, Ust Jamil Azzaini, Ust Drs. H.Mubarrak, dll

Usai launching gerakan mengaji, dilanjutkan dengan acara Talkshow "Masuk Surga Sekeluarga" yang dimulai pukul 22.36 WIB, dimoderatori oleh Dr. H. Bachtiar Natsir. Sebagai narasumber antara lain Astri Ivo, Ust Jamil Azzaini, Ust Deden, Dude Herlino.

Menurut Ust Jamil Azzaini prinsip dalam keluarganya ialah dengan menciptakan budaya:
1. Family Value ACI (Action, Care, Customer Focus, Integritas)
2. Mendidik anak sesuai potensinya. Tidak memaksakan kehendak sendiri kepada anak-anak.
3. Sincronize (vision, action, pasion, colboration)

Sedangkan Astri Ivo selalu berpesan kepada anak-anaknya agar mereka sayang kepada Allah, karena dg begitu mereka akan kuat tidak hanya secara spiritual, intelektual, emosional, dan fisiknya. Sehingga ia lebih memperkenalkan Allah kepada anak-anaknya.

Tips Menghafalkan Al-Qur'an menurut Ust Deden yang merupakan seorang hafidz:

1. Menghafal tak harus hafal, yang terpenting adalah waktu yang telah disiapkan, menyediakan waktu minimal satu hari satu jam khusis untuk menghafal.
2. Yang dicari bukan hafalnya, tapi perasaan tentramnya dengan menghafal. Jadi kita tidak akan terbebani dan justru merasa enjoy.
3. Senang dikangenin ayat. Maksudnya adalah jangan merasa lelah karena kesulitan menghafal, tapi berpikir positiflah dengan menganggap bahwa kita sedang dirindukan oleh ayat.
4. Target bukan khatam, tetapi setia bersama Al-Qur'an. 
 Istri dan saudara Ust Deden juga merupakan hafidz/hafidzah.

Dude Herlino yang baru menjadi seorang ayah menanyakan tips-tips dari para pembicara pain terkait cara mendidik anak.

Tugas orang tua Menurut Ustadz Bachtiar Natsir:
1. Mengajarkan/menanamkan tauhid
2. Menghindarkan/menjauhkan anak dari kemusyrikan

Yak kurang lebih seperti itu rangkuman materi acara peringatan malam Nuzulul Qur'an. Karena HP lowbat jadi kagak bisa ngerekam.