Senin, 07 Desember 2015

My Sunday Short Story

Yang di depan podium itu, katanya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kalau nggak lupa sih namanya Ibu Yohana. Berdasarkan telusuran google nama lengkapnya Yohana Yambise (kalau gue nggak salah ketik).

Seperti biasa, pagi ini gue ketiban apalah namanya. Seharusnya gue dateng pagi ke kantor, ngerjain surat-surat yang diperlukan oleh direktur yang akan dibawa pagi ini juga, kemudian sedikit bersantai saat ibu direktur sudah pergi dengan membawa berkas yang diperlukannya. Beres. Gue bisa luluran, meni, pedi, creambath, ... #Plakkk!, canda ding, maksudnya gue bisa santailah.

Jadi pagi itu dengan PD nya gue memilih kaos marun panjang (oleh-oleh dari Thailand), rok hitam jaman kuliah (bayangin warnanya kayak apa sekarang), dan bergo hitam (hasil jarahan), serta sandal jepit buat ke kantor.

Saking kasualnya, sampai temen kos nanya begini:

"Ti, mau main apa kerja?"

"Main dong kak." jawab gue sok cool.

Tapi seperti biasa, ternyata bos ngasih amanah dadakan supaya gue ikut ke TKP di Sari Pan Pacific Hotel buat ngurusin berkas-berkas yang harus ditandatangani. Kalau udah begini gue cuma bisa ngelus dada. Meskipun gue belum tahu dalam rangka apa ini budir ke sana, tapi gue yakin, kami akan menghadiri acara resmi yang dihadiri oleh orang-orang penting dengan pakaian formal mereka. Akhirnya gue cuma pasrah, mengganti sandal jepit dengan flat shoes yang emang sengaja gue tinggal di kantor, kemudian bergegas menghampiri mobil budir di sebrang jalan raya.

Gue udah sempet mengeluh dalam hati karena harus ikut. Secara, semalam itu habis kena banjir lokal di kamar kosan, gara-gara saluran air samping kamar mampet, jadi air talang masuk semua ke kamar melalui celah-celah daun jendela yang menjuntai sampai ke bawah. Gue baru kelar nguras genangan air dan ngepel kamar sampai sekitar jam 12 malam, kemudian bangun tidur dalam keadaan pinggang pegel dan badan sakit nggak karuan. Tapi ketika mobil kami sampai di lampu merah kawasan salemba, gue ngerasa jadi hamba Allah paling kufur sedunia. Bayangin! di sana gue melihat seorang tukang koran di lampu merah yang tengah tersenyum tulus ketika beberapa pengemudi mobil ada yang membeli korannya. Dia menerima lembaran uang lima ribuan, memberikan kembalian, bahkan harus berlari-lari dan waspada dengan lampu lalu lintas yang siap berubah warna seketika itu masih dengan senyuman. Padahal gue juga tahu, keuntungan mereka dari menjual koran itu nggak banyak. Tapi mereka bisa tersenyum setulus itu. Sementara gue yang tinggal duduk, numpang di mobil ber-AC, nggak kecapekan, malah ngedumel nggak jelas. Mendadak gue malu sendiri demi melihatnya.

Alhamdulillah 'alla kullihal, warna langit jadi terlihat semakin biru cerah setelah itu.

Nggak lama, mobil kami sampai di loby hotel, dan kami segera masuk.

Gue pingin ketawa sebenernya ketika melewati security dan mereka memeriksa tas kami dengan alat mereka. Tas ransel foldable gue jelas barang langka menurut mereka. Ya iyalah, yang masuk sini biasanya kan orang berkantong tebel, yang nggak mungkin menggunakan Tas murahan macam ini. Hahah. *abaikan. Kami langsung naik lift ke lantai empat.

Pertama kali sampai di tempat tujuan, kami langsung menuju meja registrasi. Gue pun komat-kamit ngasih kode ke budir.

"Udah tulis aja PKS." Ucapnya santai. Oh... iya, gue cuma mengangguk takdzim, kemudian langsung masuk ke aula, setelah sebelumnya mendapatkan souvenir dan beberapa buku tenang Caleg Perempuan.

Byar...

Tuh kan bener. Yah, pulang aja dah pulang.

Pas di dalem, isinya orang-orang elit sosialita. Yah, maksud gue, seenggaknya, nggak ada satu pun dari mereka yang datang keacara semacam ini dengan kaos dan bergo.

"Forum Komunikasi Politisi Perempuan Calon Kepala Daerah/Calon Wakil Kepala Daerah" gue baca tukisan di spanduk yang terpasang di depan. Oh... Jadi kebanyakan undangan adalah Caka/Wacakada, politisi.

Gue cuma bisa berdo'a, semoga nggak ada orang yang akan iseng nanya macem-macem ke gue. Dan alhamdulillah, yang duduk di sebelah gue adalah ibu-ibu tua pejabat eselon I dari kementerian itu. Kami ngobrol beberapa hal, dan dia cukup puas dengan jawaban bahwa gue dari Rawamangun, nggak nuntut penjelasan dari Instansi/Organisasi apapun gitu. Hahah. Gue baru bisa benar-benar relax ketika Ibu Menteri sudah datang, dan acara dimulai.

Sementara Bu Yohana memberikan sambutan, gue menatap kosong piring putih kecil bekas snack coffee break. Nyesel aja, kenapa tadi ke sana nggak bawa kotak makan ya?, croissantnya itu lho, nagih!, enak banget, dan masih sisa banyaaakkk di loyangnya. Hahaha.

Setelah urusan di sana selesai, akhirnya gue bernapas lega. Langsunglah gue memesan Gojek, karena budir langsung bertandang ke Bandung.

Emang dasar sih ya. Gue lupa kalau daerah Thamrin nggak boleh buat lewat motor, jadilah gue janjian sama si abang gojeknya di jalanan lain, kasian mau cancle orderan. Setelah ketemu kami pun langsung menuju ke kantor.

Sampai di kantor, ternyata sedang mati lampu, akhirnya gue milih tilawahan di ruangan, sembari menanti adzan dzuhur.

Awalnya gue merasa ada sesuatu yang ngeganjel gitu. Tapi apa ya?

Oh iya gue baru inget. Tadi pagi, karena dari semalam hp mati, salah satu teman kosan sekaligus teman kantor yang mengabarkan bahwa gue harus nyampe kantor sebelum jam 7. Gue hanya sekilas melihat matahari udah terang, jadi gue buru-buru ke kamar mandi, gosok gigi, dan cuci muka.

"Risti cepetan mandi dulu, supaya nggak telat." Tegur Kak Mel.

"Nanti mandi di kantor aja Kak." gue pikir, yang penting surat-suratnya kelar dulu, diambil sama budir, dia pergi, gue mandi. Eh, rencana gagal.

Gue kembali mengingat-ngingat aktivitas gue dari pagi hingga sore, dan ternyata, gue emang belum mandi.

Ya Allah... Pantesan kok ya gue ngerasa ada yang aneh gitu.

Tapi nggak papa. Itu artinya gue udah turut mendukung program sehari hemat air. Entah itu programnya siapa, kalau emang nggak ada, ya udah, ada-adain aja.
#maksa

Apapun itu, gue cuma pingin bilang, bahwa kebahagiaan itu selalu bisa didapatkan dari banyak hal, bahkan hal-hal yang sederhana sekalipun. Seperti dengan melihat senyum tulus orang lain, seharian nggak mandi, diajak ngebut sama tukang ojek, bahkan mendengar kabar teman dan sahabat mau menikah pun akan menjadi sesuatu hal yang luar biasa ketika kita mampu bersyukur. #ehh
*Abaikan yang paling akhir.

Yah, begitulah my sunday short story. Kalau ada yang baik diambil, kalau banyak yang kurang baik ya diingetin.

Karena menulis adalah mengikat cerita, bukan mengejar cinta.
#plakk

Senin, 19 Oktober 2015

Episode Senja

Daun yang jatuh tak kan pernah kembali ke tempat darimana ia berasal
Dia akan pergi kemana pun angin membawanya

Dan aku rasa, aku mulai iri dengan ketaatan daun yang gugur itu.
Dia tak pernah marah
Tak pernah membenci dan mencaci
Hanya menuruti, apa suratan Ilahi

Aku pun ingin rasaku seperti daun gugur itu
Pergi dari suatu tempat, dan tak pernah kembali
Melupakan apa yang seharusnya dilupakan

Episode ini harusnya tlah berakhir semenjak hari kepergianmu dan kehilanganku

Semenjak DIA menjawab munajat dan tanyaku
Semenjak DIA menggiringku hingga sampai di titik ini
Di sebuah tempat dimana tak
seharusnya aku berada

Maka harusnya aku mulai belejar melepaskan
Bukan justru merajut rindu
Maka harusnya aku mulai belajar melupakan
Bukan terus mengukir kenangan

Tapi hatiku masih tertutup untuk menerima semua kenyataan ini
Dan aku pun tersadar, bahwa episode ini masih akan terus berlanjut, hingga aku sendiri mampu mengakhiri

Ya...
Aku masih mencarimu
Aku masih menantimu
Aku masih sangat ingin melihat senyum sempurna itu
Dan satu hal yang paling menyakitkan adalah, aku masih mengharapkanmu
Tak peduli betapapun perasaan ini menyakiti diriku sendiri

Duhai senja

Adakah dia tengah memandangmu seperti aku memandangmu?
Adakah kau melihatnya tersenyum tulus seperti ia dulu?
Adakah dia masih peduli dengan sekitarnya?
Adakah dia...?

Duhai senja,
Mengapa menyapamu selalu membuatku sendu?
Mengapa memandangmu selalu tercipta lara?

Duhai Senja,
Betapa benci dan rindu untukmu telah menyatu

Hingga aku tak lagi tahu
Apakah aku tengah terluka atau bahagia saat menantimu

Duhai senja...
Biarkan aku menikmati rona jinggamu
Hingga ia berlalu
Hingga gelap menyapa
Hingga kehangatan itu tak lagi terasa
Hingga seruan menghadap Tuhan mulai dikumandangkan

Aku akan pergi,
dan jika Tuhan menghendaki, aku akan menemuimu esok hari.

Kembali menantimu hingga ujung waktuku

Minggu, 09 Agustus 2015

Surga Yang Tak di Rindukan

Ibu: Bapakmu itu orang yang baik, dia pasti punya alasan kenapa dia menikahi wanita lain

Arini: Tapi apa Ibu nggak sakit ketika tahu Bapak menikah lagi? (Emosi)

Ibu: Awalnya Ibu sakit, marah, kecewa, dan menangis seperti kamu. Tapi Ibu memilih untuk bersabar. (Jawabnya tenang)

Arini: Arini bukan Ibu!, Arini tidak bisa seperti Ibu. (Menangis)

Ibu : Ada hal yang membuat Ibu akhirnya memilih bersabar dan menerima semuanya.

Arini: (menoleh ke Ibunya dengan berlinang air mata) Apa?

Ibu: Kamu (sembari tersenyum tulus penuh kasih sayang)

Arini semakin terisak mendengar jawaban Ibunya.

Ibu: Arini, kamu punya keputusan sendiri. Tapi apa pun keutusan kamu nanti, ibu harap kamu tabayun dulu ke Pras.

###

Dialognya mungkin nggak sama percis, tapi ini salah satu bagian yang gue suka dari Film 'Surga Yang Tak di Rindukan'. Pembawaan Ibunya itu lho. Ngademin.

Dari awal, gue nggak mau memberikan komentar apa pun, di saat banyak komentar negatif terkait film ini. Nggak kece banget, kalau hanya karena cover judul film yang menggambarkan Arini (Bella) dan Pras (Fedi Nuril) yang seolah berpelukan, trus ngejudge film ini begini atau begitu. Secara jaman udah semakin canggih, ngedit-edit gitu mah udah hal mudah. Bukan berarti gue setuju dengan editan gambar semacam itu. Seharusnya,  memang kalau bisa hal-hal semacam itu dihindari, meskipun tujuannya baik, tapi orang-orang yang tidak tahu kan juga tidak salah kalau akhirnya mereka menilai macam-macam saat melihat gambar itu pertama kali. Bagaimanapun juga, izzah seorang muslimah harus tetap dijaga. Apalagi Muslim/Muslimah itu kerap menjadi pusat perhatian. Ada orang-orang yang memperhatikannya karena benar-benar sayang atau hanya ingin mencari kesalahan, kemudian menjatuhkan. Salah sedikit saja dicela, seolah muslim itu malaikat yang tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun. *Gue ngomongin fakta*

Selain nggak kece, gue juga ngerasa nggak adil dan mendzolimi semua kru yang terlibat dalam produksi film ini. Lebih-lebih penulis bukunya (terlepas dari mba Asma ini Sunni atau Syi'ah lho ya...).

Ya kali liat buku dari covernya. Cover bagus belum tentu isinya juga bagus, begitu pun sebaliknya. Kalau mau tahu kualitas isi buku ya dibaca dulu, mau lihat film itu bagus atau enggak, juga harus nonton dulu. Belum apa-apa kok sudah heboh. Seneng banget ngomentarin hal yang belum jelas wujudnya.

Karena gue sendiri belum baca bukunya, jadi yang gue lakukan adalah menunggu sampe filmnya rilis, syukur-syukur bisa cepet ditayangin di TV (nggak mau modal banget emang).

Poligami.

Siapa sih yang nggak kenal istilah itu?. Seorang sahabat pernah bercerita tentang kenalannya. Gara-gara poligami ini ada seorang muslimah yang akhirnya murtad. Alasannya adalah, karena ayahnya menikah lagi, dia merasa tidak terima dan lebih memilih keluar dari Islam. Na'udzubillah. Gue yakin poligami hanya satu dari sekian banyak alasan yang digunakan musuh Islam untuk menyerang dan menjatuhkan Islam. Entah apa sebabnya dan bagaimana awalnya, tapi poligami memang cenderung diidentikkan dengan lelaki muslim yang mempunya istri lebih dari satu. Padahal ada juga umat agama lain yang mempunyai istri banyak, dan tidak ada yang mempermasalahkan. Tidak ada media yang meliput.

Poligami.

Pelakunya kalau Muslim biasanya bakal dibully habis-habisan, bahkan sampai dihinakan, sementara kalau pelakunya adalah non muslim tidak akan pernah dipermasalahkan, walaupun istri mereka ada yang berjumlah lebih dari lima!. *Nggak adil banget*

Gue sampe bingung, mereka ini membenci poligami atau membenci Islam. *Eaaaa. Ngaku deh ngaku, jangan cuma bisa bersembunyi atas nama hak asasi wanita aja. *halah, cut!, back to surga yang tak dirindukan.

Yak, ternyata maksud dari surga yang tidak dirindukan oleh penulis adalah poligami saudara-saudara. Gara-gara nonton film ini, gue jadi mikir, gimana ya kalau kelak suami gue berpoligami, atau yang lebih melas lagi malah gue yang dijadiin istri kedua, ketiga atau bahkan keempat. Astaghfirullah... Apa bisa gue berbagi?, atau apa bisa (tega) gue membuat dongeng di atas dongeng wanita lain? (Pinjem bahasanya Arini). Gue emang nggak akan pernah tahu gimana nasib gue ke depan, tapi kalau boleh milih, tentu gue sepemahaman dengan Arini, dan mungkin juga banyak wanita akan sependapat. Kalau semua wanita diberikan pilihan, tentu wanita akan lebih memilih menjadi seperti Khadijah di sisi Rasul, atau Fatimah di sisi 'Ali. Hanya ada aku dan kamu, serta anak-anak kita. Tidak ada dia dan ia. Hanya ada kita. *Ngomong apa sih gue ini?*

Tapi ada juga lho, wanita yang menawarkan, bahkan sampai membantu sang suami berproses dengan madunya. Yang ini, terlepas ikhlas atau enggaknya hati dia yang setulusnya, tapi gue acungi jempol atas apa yang dia lakukan. Salut!. Tapi sepertinya gue nggak kepikiran buat ngikutin jejaknya.

Intinya, menurut gue film SYTD ini bagus. Lebih bagus dibandingkan dengan Assalamu'alaikum Beijing.

Udah ah, kalau gue jabarin lagi nanti gue didemo sama aktivis anti poligami. Bukan berarti gue pro poligami, cuma kalau Allah aja nggak ngelarang atau mengharamkan, masak gue harus melakukan hal sebaliknya?, siapa gue sih?.

Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini. Kesalahan bisa jadi disengaja, bisa juga memang benar-benar disengaja. Akhirul kalam, wabilahi taufik wal hidayah, Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Senin, 03 Agustus 2015

Forgive not to Forget

Forgive not to Forget

Well, gue bukan nggak tahu kalau belakangan ini ada yang suka nyindir-nyindir gue via sosmed. Mulai dari status FB, share-share tulisan di Whatsapp, poster quote, dll. Gue bukannya ke GR-an dengan mengatakan bahwa statusnya nyindir atau ditujukan buat gue, tapi gue sudah cukup lama mengenal orang-orang itu, dan gue tahu bagaimana sikap dan sifat mereka.

Kalau mereka berfikir bahwa gue bakal terintimidasi dan akan terpengaruh oleh sindiran mereka, maka gue tegaskan bahwa mereka salah besar. Gue sama sekali tidak terintimidasi atas apa yang mereka lakukan.Kalau mereka berfikir bahwa gue pergi menjauh dan dianggap memutuskan silaturahim hanya karena sebuah masalah, itu urusan mereka. toh gue sendiri mencoba bersikap biasa saja dan tidak menutup diri untuk berhubungan dengan sesiapa.

Kalau gue nggak mau meminta maaf, jelas itu masalah gue, tapi kalau ada yang bilang gue nggak mau maafin orang dan berburuk sangka dengan sikap gue tanpa mau repot buat tabayun ya itu urusan dan masalah mereka, gue mah mau tebar senyum aja. Udah gitu aja.

Ayolah... kita ini bukan anak kecil lagi yang bisanya cuma sindir-sindiran. Kalau ada yang merasa punya masalah ya silahkan diselesaikan secara dewasa, kalau nggak mau ya nggak usah rusuh sendiri. Jangan hanya bisa melemparkan kotoran ke orang lain agar diri sendiri terlihat bersih. Lagian dalam sebuah hubungan, konflik itu pasti akan selalu terjadi, tidak perlu dilebih-lebihkan.

Adakalanya orang menarik diri. Tenggelam dari permukaan dan menepi di tempat tersunyi. Entah dalam waktu sejenak atau bahkan dalam kurun waktu yang lama. Bisa jadi kini belum tiba waktu mu. Dan percaya atau tidak, kau pun akan membutuhkannya. Sendiri.

Jika berucap hanya menimbulkan luka yang terus ditahan, maka biarkan lidah itu diam, bukan bisu. Biarkan dia kembali berucap ketika seharusnya dia berucap. Jangan biarkan ia membicarakan orang lain di belakang orang tersebut. Jangan biarkan ia menjadi pengecut. Karena sekali orang itu terluka, dia tidak akan pernah bisa melupakan kenangan itu dari memorinya.

Karena memaafkan, tidak berarti melupakan.

Jumat, 10 Juli 2015

Ramadhan ini I'tikaf di mana?

Kalau sebelum-sebelumnya gue suka ngebolang dari satu masjid ke masjid yang lain, i'tikaf secara nomaden demi menemukan tempat yang comfort buat i'tikaf, dua tahun belakangan ini gue udah nggak perlu melakukan hal itu. Karena gue udah menemukan tempat yang menurut gue nyaman banget.

Fasilitas tempat MCK yang baik adalah salah satu kriteria utama selain bacaan tartil dari Sang Imam. Meskipun nggak sekece Ahmad Thaha Al-Junayd sih bacaannya, tapi ya lebih baguslah dari pada bacaan Al-Qur'an gue.

Masjid Bea Cukai. Mungkin nggak se terkenal Masjid Istiqlal, Al-Hikmah atau At-Tin dan masjid-masjid besar lainnya. Gue lupa nama asli masjidnya, At-Taubah, At-Taqwa atau apa gitu, yang jelas lebih terkenal dengan sebutan Masjid Bea cukai karena Masjid ini terletak di dalam komplek perkantoran Bea Cukai.

Ramadhan kali ini gue sungguh melongo melihat kekecean kamar mandi yang nampaknya baru dipugar habis-habisan. Selain disediakan ember kecil untuk menampung air, juga ada fasilitas showernya!, seolah-olah ingin mengatakan; "Woi, yang i'tikaf jangan lupa mandi ya"
wkwkwk. Selain itu juga kran air untuk mengambil wudhu sangat banyak, jadi orang-orang tidak perlu mengantri untuk sekedar gosok gigi dan wudhu ba'da sahur. Bagian dindingnya juga diganti dengan cermin-cermin panjang, sehingga memudahkan ibu-ibu buat ngebenerin jilbabnya. Kekurangannya hanya saat banyak pemakainya secara otomatis airnya tidak terlalu deras mengalirnya. But it's okay lah.

Buka & Sahur 100% Gratis!

Well, baru sekali sih gue ikut buka di sana, tapi memang sudah disediakan ta'jil. Dan yang tidak membawa makanan berbuka juga ditawari nasi bungkus. Please, jangan nge judge gue pelit yang cuma nyari gretongan doang. Meskipun bagian suka gretongannya nggak salah juga, tapi buat gue fasilitas Berbuka dan Sahur gratis itu adalah bonus dari Allah buat anak kos. Sebelumnya di sini untuk berbuka tidak disediakan makanan berat, hanya ta'jil saja, dan untuk menu sahur kita harus registrasi dan membayar kurang lebih 15.000 rupiah untuk membayar makanan sahur. Tapi kali ini semua benar-benar gratis, bahkan para orang tua yang membawa anak kecil juga disediakan makanan untuk sarapan anak-anaknya oleh panitia. Setahu gue sih ini sebelumnya nggak ada juga. Selepas kajian malam (ba'da tarawih) juga disediakan camilan sehat seperti kacang rebus, singkong dan ubi rebus, pisang rebus, dan rebusan-rebusan lainnya. Tenang, kalau soal air, di sana disediakan dispenser dan air galon yang siap di ganti oleh panitia ikhwan jika sewaktu-waktu habis. Kopi, teh, gula dan susu bubuk juga disediakan. Pokoknya ini masjid Woman or family friendly bangetlah menurut gue.

Seperti kebanyakan masjid lain, biasanya masjid ini akan lebih ramai di malam-malam ganjil. Itu berarti gue harus datang lebih awal dan mengambil tempat paling pojok untuk menaruh barang-barang.

Sepertinya DKM Masjid Bea Cukai paham, bahwa kamar mandi yang nyaman dapat menarik minat para shaumin dan shauimat (eh maap kalau salah nulisnya).


Nah, itu sih cerita tentang masjid favorit gue buat i'tikaf, gue yakin kalian juga punya tempat yang seru juga :)

Rabu, 08 Juli 2015

Masuk Surga Keluarga

Peringatan malam Nuzulul Qur'an sekaligus Launching Gerakan Jakarta Mengaji oleh Badan Komunikasi  Pemuda Remaja Masjid (BKPRMI) DPW DKI Jakarta bekerjasama dengan AQL (Ar-Rahman Qur'an Learning)

Acara yang dilaksanakan pada malam 17 Ramadhan atau Jum'at, 03 Juli 2015 di Masjid Jami' Istiqlal dibuka dengan pembacaan Tilawah dan Sari tilawah QS.52:1-29, 73:20.

Turut hadir Ketua Umum BKPRMI dan staff Zukhdi Mahmudi, Dr. H. Bachtiar Natsir , Ust Deden, Ust Jamil Azzaini, Ust Drs. H.Mubarrak, dll

Usai launching gerakan mengaji, dilanjutkan dengan acara Talkshow "Masuk Surga Sekeluarga" yang dimulai pukul 22.36 WIB, dimoderatori oleh Dr. H. Bachtiar Natsir. Sebagai narasumber antara lain Astri Ivo, Ust Jamil Azzaini, Ust Deden, Dude Herlino.

Menurut Ust Jamil Azzaini prinsip dalam keluarganya ialah dengan menciptakan budaya:
1. Family Value ACI (Action, Care, Customer Focus, Integritas)
2. Mendidik anak sesuai potensinya. Tidak memaksakan kehendak sendiri kepada anak-anak.
3. Sincronize (vision, action, pasion, colboration)

Sedangkan Astri Ivo selalu berpesan kepada anak-anaknya agar mereka sayang kepada Allah, karena dg begitu mereka akan kuat tidak hanya secara spiritual, intelektual, emosional, dan fisiknya. Sehingga ia lebih memperkenalkan Allah kepada anak-anaknya.

Tips Menghafalkan Al-Qur'an menurut Ust Deden yang merupakan seorang hafidz:

1. Menghafal tak harus hafal, yang terpenting adalah waktu yang telah disiapkan, menyediakan waktu minimal satu hari satu jam khusis untuk menghafal.
2. Yang dicari bukan hafalnya, tapi perasaan tentramnya dengan menghafal. Jadi kita tidak akan terbebani dan justru merasa enjoy.
3. Senang dikangenin ayat. Maksudnya adalah jangan merasa lelah karena kesulitan menghafal, tapi berpikir positiflah dengan menganggap bahwa kita sedang dirindukan oleh ayat.
4. Target bukan khatam, tetapi setia bersama Al-Qur'an. 
 Istri dan saudara Ust Deden juga merupakan hafidz/hafidzah.

Dude Herlino yang baru menjadi seorang ayah menanyakan tips-tips dari para pembicara pain terkait cara mendidik anak.

Tugas orang tua Menurut Ustadz Bachtiar Natsir:
1. Mengajarkan/menanamkan tauhid
2. Menghindarkan/menjauhkan anak dari kemusyrikan

Yak kurang lebih seperti itu rangkuman materi acara peringatan malam Nuzulul Qur'an. Karena HP lowbat jadi kagak bisa ngerekam.


Selasa, 23 Juni 2015

Siapapun Berhak Memilih Akan Menjadi Apa Ia, dan Aku, Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim!



Udah nonton video tentang kesaksian Lukman Sardi, artis senior yang kini memilih menjadi orang yang PERCAYA kan pastinya?, beberapa hari yang lalu juga gue udah nonton. Kecewa pastilah, sebagai salah seorang muslim gue harus kecewa dan mungkin juga murka atas pilihannya. Biar bagaimana pun gue tetep yakin bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang Rahmatan lil ‘alamin. 

Katanya dia memutuskan untuk menjadi orang yang PERCAYA sudah sekitar enam tahun yang lalu, Cuma baru mendeklarasikannya sekarang. Yang bikin gue miris sih waktu dia bilang bahwa menjelang wafat Idris Sardi, ayahnya yang juga merupakan musisi senior mengatakan bahwa dia bangga dengan pilihan Lukman, dan diakhir video, Lukman menerangkan bahwa dia bangga karena sang ayah menjelang akhir hidupnya diyakini Lukman telah menjadi orang yang PERCAYA juga, sama sepertinya.

Kalau dari yang gue tangkep, maksudnya ayahnya sudah mempercayai Yesus sebagai Tuhan, hanya belum murtad secara langsung karena sudah keburu meninggal. Itu dari apa yang gue tangkep dari videonya loh ya, kalian boleh punya persepsi sendiri dari ucapan Lukman itu. Tapi gue nggak mau percaya gitu aja dengan kesaksiannya. Toh ayahnya sudah meninggal, jadi nggak bisa ditabayun bener enggaknya pernyataan si Lukman ini. Maklum ini hal yang sensitive, tentang sebuah kepercayaan, jadi gue nggak mau berburuk sangka kepada Idris sardi hanya karena pernyataan anaknya yang sepihak itu. Kalau Lukman mengatakannya ketika ayahnya masih hidup mungkin gue mau memikirkan cara untuk tabayun ke ayahnya.

Lukman bukan artis pertama kok yang memutuskan murtad, sebelumnya juga ada Asmirandah yang memutuskan murtad setelah menikah dengan Jonas Rivanno. Bahkan Asmirandah sudah aktif ‘berdakwah’ dari gereja ke gereja untuk memberikan kesaksian atas kemurtadannya. Videonya juga banyak di medsos.
Anggun juga bisa termasuk artis yang murtad. Setelah melewati masa pencarian, akhirnya dia memutuskan untuk berlabuh pada keyakinannya yang sekarang. Dan masih ada lagi yang lain.

Banyak ya ternyata artis yang murtad?, ember!. Nggak usah jauh-jauh deh ngomongin artis. Saudaranya temen gue juga ada yang murtad. Yang satu nikah sama bule, di ajak suaminya ke Eropa dan tinggal di sana, pas balik udah murtad. Padahal nikahnya dulu secara islami, suaminya sudah sempet bersyahadat karena orang tua si cewek nggak mau punya mantu non muslim. Tapi apa daya?, cewek kalau udah punya anak dan nggak kuat iman pasti berat, mau milih agama apa suami. Dan karena alasan-alasan kenikmatan duniawi akhirnya banyak yang memilih suami ketimbang mempertahankan keyakinannya. Contohnya lagi adalah saudara temen gue yang lain. Nikah sama lelaki non muslim, sampai sekarang biaya hidupnya ditanggung oleh gereja dengan syarat dia mau memberikan kesaksian dan ‘berdakwah’ dari gereja ke gereja. Atau ada juga yang murtad karena kecewa dengan orang muslim yang lain. 

Masih banyak lagi kok orang-orang yang murtad karena iming-iming harta dan kenikmatan dunia lainnya, termasuk apa yang disebut dengan cinta. Mungkin itu sebabnya, banyak orang tua yang nggak setuju anaknya menikah sama non muslim karena khawatir anaknya ini akan murtad suatu saat. Dan nggak bisa juga orang tua sembarangan mengajukan syarat agar calon mantunya itu bersyahadat hanya agar pernikahan mereka bisa disahkan. Karena banyak juga kasus, setelah menikah maka mereka akan kembali kepada keyakinan mereka yang dulu, bahkan sampai mengajak anak-istri atau sumai mereka untuk mengikuti kepercayaan mereka. Ya begitulah kalau bersyahadat bukan karena lillahi ta’ala. Agama dijadikan sebagai sebuah permainan atau ajang sandiwara belaka. 

Coba deh lihat orang-orang di sekitar kita, jangan-jangan banyak juga yang murtad tapi kita nggak tahu, atau memang kita yang nggak mau peduli dengan hal-hal semacam ini. Jangan-jangan sekarang sudah banyak yang bilang bahwa ini “Bukan urusan saya” terhadap keadaan iman saudaranya. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah…

Marah, geram, dan jijik mungkin adalah hal-hal yang gue rasakan ketika mendengar kemurtadan. Oh come on!, silahkan katakan gue fanatik atau apalah, toh gue yakin, orang-orang di sebelah sana (yang bersebrangan keyakinannya dengan gue) pasti juga akan merasakan hal yang sama seperti yang gue rasakan ketika ada pengikutnya yang murtad dan memutuskan masuk islam. Gue nggak suka dengan murtadnya mereka, tapi gue juga nggak mau menghina, menghakimi dan mencaci mereka hanya karena kini kita berbeda kepercayaan. Gue justru muak dengan orang-orang yang menghina dan menghakimi orang lain, apapun alasannya. Seringkali juga gue berfikir; ‘Oh, pantes aja mereka tambah mantep murtad, lha wong yang muslimnya aja kebangetan responnya. Bukannya membangun komentar yang positif dan membangun, malah ngatain nggak jelas.’  

Menurut gue karena kenyinyiran beberapa muslimin ketika melihat satu-dua orang yang murtadlah yang membuat mereka menjadi semakin tidak respek lagi dengan islam. Sebagai contoh ketika kasusnya Asmirandah. Media terlalu membesar-besarkan berita, sampai perseteruannya dengan sang ayah pun diberitakan dan dikomentari oleh publik. Kalau gue jadi andah pasti gue juga gerah dan muak atas segala jenis pemberitaan. Biar bagaimanapun kan dia membutuhkan privasi.
 
Ayolah… apa sih hak kita sehingga kita berani menghakimi orang lain?, siapa juga kita sehingga berani mencaci dan menghina mereka?. 'We are nothing man!, we are zero without Allah azza wajalla!'

Siapa sih yang bisa ngejamin bahwa keimanan kita ini bisa bertahan selamanya?, siapa sih yang bisa ngejamin bakalan bisa ngejaga nikmat iman dan islam yang udah Allah kasih cuma-cuma?. DIA itu Maha Pembolak-balik hati, nggak cukup kita ngomong ‘Saya Beriman’ melainkan Allah pasti bakal mengujinya terlebih dahulu dengan berbagai macam cara. 

Hari ini gue muslim, besok, lusa, siapa tahu?

Gue bukannya ngarep bakalan murtad, bukan!. Na’dzubillahi mindzalik malahan. Tapi gue cuma nggak mau aja orang-orang muslim terutama orang-orang di sekitar gue, menanggapi hal semacam ini dengan cara yang kampungan. Menghujat satu sama lain dan menganggap bahwa dirinya yang paling benar, sementara sendirinya belum tentu sudah menjadi muslim yang baik. Ini perkara hati, ini perkara iman, ini perkara hidayah, dan ini jelas-jelas hak prerogatifnya Allah, jadi nggak usah sombong karena memang kita nggak punya apa-apa untuk disombongkan.

Masih ingetkan kisah Abu Thalib?, paman nabi yang hingga ujung usianya belum juga bersyahadat atau memeluk islam meskipun beliau adalah salah satu orang yang paling membela dan mendukung nabi. Menurut lo kenapa bisa sampai kayak gitu?, apa karena Rasulullah yang kurang niat dalam berdakwah?, enggak juga. Rasulullah selalu mengajak pamannya ini untuk mengikuti jalannya. Rasulullah bahkan sedih dan terpukul ketika pamannya ini wafat sebelum memeluk islam. Kemudian Allah menyadarkan Rasulullah, bahwa hidayah itu bukan urusannya, melainkan urusan Sang Pencipta dengan ciptaannya langsung.

Jadi kalau sekelas Abu Thalib yang turut terlibat langsung dalam dakwah Rasulullah di awal kenabian saja belum tentu mendapatkan hidayah, apalagi sekelas Lukman Sardi atau orang-orang lain jaman sekarang?. Dari pada sibuk menghakimi yang di luar batas kemampuan diri, mengapa kita tidak berlelah-lelah untuk mendo’akan mereka dan orang-orang di sekitar kita saja? agar Allah memberikan hidayah-NYA kepada mereka, dan semoga Allah melenyapkan kesombongan yang ada dalam diri. Kita tidak boleh lupa untuk terus meminta agar nikmat Iman serta Islam yang kita telah miliki ini, bisa kita jaga dan mempertahankannya hingga akhir penghambaan di dunia ini.

Oya, pernah dengar pepatah gugur satu tumbuh seribu?

Ya anggap aja Dian Sastro Wardoyo, Marsha Timothy, Bella Safira, Marcel, Diego, Muhammad Ali, dan sejumlah artis lain yang memutuskan menjadi muallaf itu adalah pengganti saudara kita yang murtad itu, belum lagi dengan para muallaf dari berbagai penjuru dunia yang dikabarkan terus meningkat. Jadi kita tidak perlu berkecil hati. Dan semoga Islam tidak hanya Berjaya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas.
Tadinya gue udah mau masukin Tyrese Gibson, salah satu pemain Fast Furious. Tapi ternyata do’I sudah klarifikasi terkait isu yang beredar bahwa dia telah menjadi muallaf.
 
atau baca aja dah twitternya dia di sini https://twitter.com/Tyrese

Duh, kadang gemes ya, sama orang-orang yang hobi banget nyebarin berita viral tanpa mau klarifikasi terlebih dahulu. Padahal kan hal semacam ini bisa aja menimbulkan konflik dan merugikan orang lain atau pun diri sendiri.

Okay, at last, mungkin lo udah pernah dengar ini. Pun menurut gue juga, pada dasarnya semua orang itu terlahir sebagai muslim. Hanya saja TAKDIR lingkungan tumbuh kembang masing-masing orang itu berbeda. Ada yang tumbuh di dalam keluarga atheis, Kristiani, Budhis, dan sebagainya. Tapi untuk menjadi seorang muslim itu adalah pilihan dan hak semua orang tanpa terkecuali. Siapa pun bebas memilih dan memutuskan akan menjadi apa ia. Karena faktanya tidak semua yang terlahir dan di didik secara islami dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya bisa mencerminkan bahwa dia adalah seorang muslim. Mulai dari gaya hidup, pola pikir, dan lain-lainnya. Bahkan banyak muslim yang akhirnya mangkir dan berpaling dari Islam karena mereka belum memahami apa Islam sebenarnya. 

Wallahu a’lam bishowab

Semoga kita adalah orang yang bersyukur telah dikaruniakan nikmat Iman dan Islam ini, dan semoga Allah senantiasa menguatkan kita untuk tetap bisa Istiqamah dijalan-NYA. Aaamiiin.

Ramadhan Mubarrak, Semangat memperbaiki diri.