Jumat, 19 Juni 2015

Peduli Diri Sendiri?, No Worry Lah Yau!: About Me and Cancer



Gue segera nelpon om jutek tapi selalu menjadi yang terbaik buat gue pas denger kabar dia sakit dan harus dioperasi tapi entah karena alasan apa dia nolak untuk dioperasi. Dia lebih memilih membiarkan sakitnya memburuk. Dengan gaya orang yang paham dengan dunia kedokteran (padahal gue hanya pernah bekerja di kamar operasi dan sudah pernah melihat orang dengan berbagai penyakit di operasi di depan mata), gue berhasil meyakinkan om gue itu supaya dia mau mengikuti prosedur medis yang dokter sarankan. 

“Gue nggak mau seumur hidup gue harus buang air besar melalui lubang yang dibuat di perut gue.”

“Ayolah om!, ini nggak akan separah seperti yang om khawatirkan. Aku pernah ngeliat orang dengan sakit seperti yang om alami saat ini bahkan mungkin lebih parah. Mereka memang harus menggunakan kantong diatermi, tapi kalau lukanya sudah sembuh, om bisa BAB pake anus om lagi. Percaya deh!” ucap gue penuh percaya diri.

“Tapi dokter bilang ini akan jadi permanen. Om nggak mau!” Gue berpikir sejenak. Oke gue ngerti. Siapa pun orangnya yang nggak pernah bersentuhan dengan dunia kedokteran pasti bakal berpikiran yang enggak-enggak kalau mendengar kata ‘operasi’. Bahkan perawat yang tidak pernah bekerja di kamar operasi (meskipun waktu pendidikan keperawatan mereka pernah sedikit belajar di kamar operasi), mereka akan bertanya ini-itu dan suka ngeri membayangkan pasien mereka yang akan atau telah selesai dioperasi karena berbagai penyakitnya. Jadi gue juga nggak akan nyalahin om gue yang sudah parno duluan karena diagnosis dokter yang menyatakan bahwa dia menderita kanker anal. Apalagi anus adalah salah satu organ vital manusia, maksud gue, hampir setiap hari makhluk hidup normal harus buang air besar melalui anus, dan sudah beberapa bulan terakhir om gue menderita karena setiap BAB pasti berdarah.

“Ckk!, nggak gitu om. Sakit kanker atau tumor, kalau semakin lama didiemin maka dia akan semakin parah. Emang om mau nanti anusnya membusuk?. Gimana hasil pemeriksaannya?”

“Dokter bilang kankernya sudah membentuk lingkaran, jadi bakal ditutup permanen.” Ucapnya prustasi, ada nada ngeri dari setiap kata yang keluar dari mulutnya di sebrang sana.

“Ayolah, om tenang. Ikuti dulu prosedur yang dokter sarankan. Proses ini-itunya om jalanin aja sampai hasil labnya keluar, nggak usah panik, nggak usah setress, pokoknya nggak usah dipikirin, pasti ada jalan kok. Kita tunggu hasil medis nanti. Pokoknya jangan main supranatural-supranaturalan. Ini penyakit medis, bukan penyakit dukun.” Ancam gue

“Kalau misalkan dokter bilang masih bisa dioperasi tapi nggak harus ditutup permanen alhamdulillah, tapi kalau misalkan dokter bilang harus ditutup permanen kita nego supaya dikemo atau disinar aja. Sementara ini Kita lakukan pencegahan supaya penyakitnya nggak memburuk.”

“Om mendingan dikemo aja dari pada dioperasi.” ucapnya pelan.

“iya, kita tunggu gimana hasilnya nanti ya.”

“Kalau bisa gue cegah pake makanan mending gue cegah. Apa yang harus gue hindari dan apa yang harus gue konsumsi.”

Biji anggur kaya akan anti oksidan, dia paling bagus sebagai anti kanker, sirsak juga, terus mengkudu juga, masih banyak lagi buah yang kaya anti oksidan. Nanti aku beliin aja herbalnya.” 

Diskusi pun berlanjut dengan apakah biji anggur harus dikunyah atau ditelan?, kemudian kemungkinan lebih manjur mana makan mengkudu langsung atau meminum kapsulnya? dan permintaannya untuk mencarikan informasi tentang makanan yang baik untuk mengobati penyakitnya di internet yang dari awal memang sudah sangat ingin gue lakukan.

“Ok om, nanti aku kabarin lagi, tapi inget, jangan setress, ok?, Assalamu’alaikum.”

“Iya, Wa’alaikumussalam.”

Yah seenggaknya itu sepintas percakapan gue dengan my beloved uncle. Gue ngerti, sengeyel-ngeyelnya om gue itu, dia akan nurut sama gue kalau soal yang beginian, berbekal pengalaman gue di rumah sakit dua tahun lalu tentunya.

Kurang lebih dua tahun gue bekerja sebagai Administrasi Apotik di dalam kamar operasi. Jobdesk gue sebenarnya mengurusi administrasi pasien swasta, askes, jamsostek, SKTM, dan lain-lain. Tapi itu cuma tugas pokok gue, karena selain itu gue juga turut membantu menyediakan obat-obatan yang diperlukan oleh dokter anasthesi untuk membius pasiennya, mulai dari fentanyl, morphin, atrophin sulfas, epedhrin, epinephrine, lidocain, propofol, kliran, dan obat-obatan ampul lainnya. Juga perlengkapan dokter dan perawat bedah mulai dari handscoen steril, set betadin, alkohol, urine bag, kassa steril, jarum & benang jahit, folley catheter, dan lainnya adalah sahabat gue sehari-hari. Dan sumpah gue mencintai tugas sampingan gue ini. Gue mencintai dunia kesehatan karena dulu cita-cita kecil gue adalah menjadi Dokter, itu sebabnya gue sangat bersyukur bisa atau sempat bekerja di Rumah Sakit meskipun bukan sebagai dokter.

Gue pernah ngeliat kaki orang lagi dibor pake alat yang gede-gede, bunyinya kayak orang lagi ngebor besi atau kayu, kemudian dipasangi sekrup dan besi. Gue pernah ngeliat orang lagi di seksio (Sesar), juga pasien di curret  dan dikeluarkan janin yang tidak berkembang dari dalam rahimnya secara langsung, ngeliat anak disunat juga udah biasa. 

Keadaan seringkali membuat gue dan tim harus bolak-balik nganterin obat ke kamar operasi karena pasien kritis, sementara perawat dan dokter sibuk dengan pasiennya yang sedang berjuang antara hidup dan mati di meja kamar operasi. Seringkali juga kami membantu perawat menuangkan formalin ke dalam kantong plastik yang berisi organ tubuh manusia yang karena sakitnya seperti kanker ganas, kecelakaan, dan lain-lain sehingga harus diangkat (dioperasi), seperti payudara yang besarnya lebih besar dari bola sepak. Biasanya jaringan ini sudah tidak berbentuk lagi sehingga hanya terlihat merah darah dan lendir saja.
Atau terkadang gue menjumpai perawat yang bertugas di OK I (Oka satu-red) yang khusus menangani pasien bedah saraf, sedang mencuci batok kepala pasiennya yang pecah dan harus disimpan untuk kemudian dipasang lagi jika keadaan pasien membaik, atau dilenyapkan jika pasien akhirnya menghadap ilahi. Dan masih banyak hal yang gue dapatkan selama bekerja di sana. Pengalaman-pengalaman menakjubkan yang masih bisa gue kenang.

Gue dan TIM kalau sedang beruntung minimal sehari sekali harus menyediakan obat anasthesi dan juga perlengkapan bedah khusus untuk pasien OK VIII. OK ini biasanya merupakan OK khusus yang digunakan untuk operasi penyakit berat seperti jantung, ginjal, dll. Bisa hampir seharian buat nyiapin persiapan operasi pasien OK VIII ini, waktu itu malah pernah marathon, sehari lebih dari satu pasien. Dan selama dua tahun bekerja di sana hanya sekali gue menyiapkan set operasi untuk pasien yang operasi transplantasi ginjal. 

Kita paling ngeri setiap harus melayani pasien pengidap HIV, jangan ditanya seberapa rempongnya persiapan untuk pembedahan pasien pengidap HIV ini, rempong binggo man!. Kita harus menyiapkan perlengkapan khusus untuk digunakan sebagai alas pasien di meja operasi, baju dokter dan perawat, pokoknya perlengkapan operasi untuk pasien HIV harus extra savety than other operation, maklum, namanya juga HIV, nggak tahu kan apesnya orang itu kapan?, kalau tiba-tiba ketularan gimana?, hiiii… Na’udzubillah dah.

Oke udah ngalor-ngidulnya. Back to cancer. Gue kenal kanker ini sejak gue mengikuti PMR Wira di sekolah. Seenggaknya gue dapet sedikit bekel tentang kesehatan, sehingga ketika April 2012 gue menyadari ada benjolan di salah satu organ tubuh gue, gue segera kosultasi ke bos gue di farmasi dan meminta ijin untuk periksa ke dokter. Benar saja, setelah di USG gue positif terkena ca mamae sinistra, bahasa manusianya tumor jinak di dada sebelah kiri. 

Dari yang gue pahami, ada beberapa jenis kanker ini, ada yang berbentuk padat dan cair. Allah ngasih gue jatah yang padat. Katanya yang padat ini masih mending, bisa dioperasi benjolannya itu, sementara yang cair, kalau benjolan dalam jumlah banyak dan memenuhi seluruh bagian organ tubuhnya, maka akan sulit menyembuhkannya. Dokter pun memberikan surat untuk tes ini dan itu sebelum operasi berlangsung. Mulai dari tes darah sampai photo thorax. 

Mama Ye (bos gue di faramasi) adalah salah satu orang yang syok dan selalu berusaha menyemangati, menghibur dan menguatkan gue untuk mau dioperasi dan melarang gue untuk ke dukun (padahal gue sama sekali nggak ada kepikiran buat ke dukun). Mama Ye ini the best bos ever lah. Dia juga pernah diangkat rahimnya karena sakit mium. Teman-teman di apotik kamar operasi juga mendukung keputusan gue untuk dioperasi. Padahal tanpa mereka paksa pun gue akan dengan senang hati dioperasi ketimbang kelak, suatu saat harus mengangkat organ tubuh gue yang semakin parah karena kemalasan atau ketakutan gue untuk operasi. Gue tetap stay cool karena gue sudah sering melihat pasien dengan diagnosis yang sama atau bahkan lebih parah dari gue, dan gue tahu, operasi itu tidak semengerikan seperti apa yang orang awam pikirkan, operasi itu salah satu ikhtiar, salah satu solusi untuk menghadapi suatu penyakit aneh jaman sekarang. Jadi gue sama sekali nggak takut. 

Gue inget, hari jum’at seharusnya gue dirawat inap pra operasi, tapi gue malah mengikuti Mubes IKBM di puncak, sehingga gue merepotkan ipane-pane (temen di OK) untuk mengurus segala persiapan operasi. Dan sepulang gue dari Mubes gue harus menghadapi keganasan perawat ruangan di mana seharusnya gue bermalam, karena gue sudah melalaikan kewajiban seorang pasien untuk dirawat. Gue pun harus merepotkan mba Ciko (perawat bedah) untuk membantu mendapatkan surat ijin dari Dokter jaga di IGD (Instalasi Gawat Darurat) supaya gue diijinin masuk ruang perawatan. Gue sadar kalau kerjaan gue emang ngerepotin orang. Duh Risti….

Ketika beberapa hari kemudian gue sudah terbaring di dalam OK yang biasa gue lewatin bolak-balik, Mama Ye dan teman di dalam farmasi OK datang dan kembali menyemangati gue. Mereka masih berfikir bahwa gue takut dan tegang.

“Udah siap ya?” Tanya seorang perawat yang sudah sangat gue kenal. Gue Cuma mengangguk, membiarkannya mencari pembuluh darah, menancapkan jarum dan membuat saluran agar cairan Ringer Lactat masuk ke dalam tubuh. Perawat dan dokter yang menangani gue  terheran-heran melihat monitor yang menunjukkan detak jantung gue berdetak ‘terlalu’ normal, tidak seperti kebanyakan pasien yang akan dioperasi.

“Eh, kamu mau dioperasi kok tenang-tenang aja sih?” aku tergelak mendengar pertanyaan perawat yang lain sesaat setelah ia menempelan tiga lembar NDM di sekitar dada. 

‘Ya ampun, ini Cuma operasi kecil, jangan lebai deh dok.’ Gumam gue dalam hati.

Beberapa hari sebelum operasi nggak adasatu pun keluarga gue yang tahu bahwa gue akan dioperasi. Tapi karena gue butuh tandatangan wali, akhirnya gue menghubungi abang gue dan memintanya menandatangani surat persetujuan operasi, dia juga yang menemani gue selama beberapa hari sebelum dan sesudah operasi karena gue butuh seseorang untuk mengurus administrasi dan menebus obat di apotik. Dan karena gue juga butuh do’a bonyok, akhirnya dengan terpaksa gue menghubungi dan mengabarkan kepada mereka bahwa besok gue akan dioperasi. Gue melarang keras mereka yang waktu itu maksa untuk nyusulin gue ke Jakarta. Gue meyakinkan mereka bahwa ini hanya operasi kecil dan gue akan baik-baik saja.

Sebelum obat bius dokter bekerja, banyak perawat anasthesi dan bedah yang nggak nyangka bahwa gue adalah pasien mereka hari itu, karena jadwal pasien memang dipasang ketika sudah sore, dan qadarullah nama dan status gue yang dipasang di jadwal operasi ada yang salah. Mereka berdatangan dan turut memberikan semangat di OK IX. Gue emang udah request supaya dokter dan perawat bedah yang menangani gue adalah cewek, tapi sialnya gue lupa me-request supaya perawat anasthesinya juga cewek. Dan gue pasrah, karena sebelum gue meminta supaya perawat ini diganti gue sudah tidak sadarkan diri. Gue sadar beberapa saat di recovery room untuk kemudian tidak sadarkan diri lagi akibat pengaruh bius totalnya belum benar-benar hilang.

Oh begini rasanya nge-fly’. Gue memang dibius total menggunakan salah satu jenis narkotika. Entah berapa lama gue tidur, dan ketika gue bangun gue udah di ruangan bercat putih bertirai hijau. Gue sudah kembali di ruang rawat inap. Di sana sudah ada dua om tengil dan abang gue.

“Gue pikir lo mati Ris, nggak bangun-bangun” Gue nggak sempet menanggapi gurauannya, yang faktanya juga tersirat nada kekhawatiran di sana. Entah kapan mereka pamit, karena setahu gue, gue sudah kembali tertidur karena mata gue masih berat dimelekin.

Coass cewek yang visit menanyakan keadaan gue yang jelas terlihat sangat baik kalau saja efek obat bius itu sudah benar-benar hilang. Dan seperti yang lain dia juga berusaha menguatkan gue dan mengatakan bahwa gue baik-baik saja. Gue hanya tersenyum ramah, mendengarkannya yang bercerita bahwa dia juga pernah dioperasi karena penyakit yang sama.

“Saya juga pernah dioperasi, sempet tumbuh lagi, tapi kemudian ilang. Kemungkinannya untuk tumbuh lagi sangat mungkin terjadi, jadi lebih baik hindari saja fast food seperti burger, mie, telur, ayam, dan lain-lain.” Sarannya. Gue nggak kaget tentang kemungkinan penyakit itu tumbuh lagi, mengingat teman di OK juga ada yang pernah mengalami itu.

“Terimakasih dok.” Ucap gue sambil tersenyum. Setelah tiga hari gue pun meminta untuk pulang.

Kesalahan gue waktu itu adalah karena gue nggak ngambil hasil Pathology Anathomi dari daging tumor yang waktu itu diangkat, jadi gue nggak tahu apakah itu tumor jinak atau ganas. Makanya sampai sekarang gue belum jadi-jadi meriksain benjolan yang kembali tumbuh di sekitar bagian organ tubuh yang dulu dioperasi karena pasti bakal ditanyain hasil PA operasi yang lalu, kemudian dokter akan nyalahin gue, nyeramahin ini dan itu seperti beberapa waktu yang lalu saat gue melakukan USG di salah satu klinik swasta nomor satu di Jakarta. Gue bukannya dilayani malah diomeli. Ish….

Tapi tenang, gue udah punya rencana buat berobat pake BPJS ba’da idul fitri. Meskipun gue udah nggak kerja di rumah sakit, tapi gue masih cinta kok dengan dunia kesehatan, biarpun gue nggak pandai menjaga kesehatan. Siapa tahu aja gue bakal ketemu lagi sama dokter ganteng idaman karena penyakit yang dititipin ke gue ini, wkwkwk.

Eh, bukan itu intinya gue nulis ngalor-ngidul. Gue Cuma pingin temen-temen dan semua orang di sekitar gue itu sadar, bahwa sakit itu harus dihadapi, bukan dihindari. Jangan takut memeriksakan kesehatannya kalau memang dirasa ada sesuatu yang aneh pada diri kita. Semacam benjolan yang tidak pada tempatnya, sering kram perut, dan sebagainya. Terutama cewek, biasanya sakit semacam kanker serviks, payudara, dan lainnya ada gejalanya, tapi kebanyakan takut buat memeriksakannya. Padahal sakit kayak begini kalau didiemin bukannya sembuh lho, tapi malah semakin membuat virus di dalam tubuh kita itu menjadi sel kaker ganas. Eh tapi jangan dikira cowok enggak beresiko juga ya, cowok juga memiliki resiko terkena kanker payudara lho!, nggak percaya? Coba baca buku-buku kesehatan.

Oya, Kenapa gue bilang sakit itu adalah titipan?, karena sakit itu haknya DIA mau ngasih ke siapa. Ada orang yang udah ngejaga makanannya, diet ini-itu, rajin olah raga, tapi ternyata masih kena stroke, kanker, leukemia, dll. 

Nyokap gue contohnya. Diusianya yang sudah berkepala lima, nggak ada angin nggak ada hujan, eh, maksud gue nggak ada gejala apa-apa, tapi ternyata sudah divonis dokter terkena kanker serviks waktu berobat ke RSUD karena beberapa hari sebelumnya mengalami kram perut dan pendarahan saat menstruasi. Padahal gue tahulah kalau nyokap gue ya ngejaga makanan, selalu bangun sebelum subuh, jalan kaki ke mushola, terus kerja seharian di pasar. Boro-boro makan yang macem-macem, di kampung mana ada itu burger, nugget?. Bakso, telur, ayam potong, juga pasti jarang masak dan lebih sering masak ikan. Tapi toh buktinya nyokap gue kena serviks bahkan harus dirujuk ke rumah sakit provinsi karena dokter RSUD sudah angkat tangan. Sudah stadium berapa entah. Gue minta nyokap dioperasi pun nggak bisa karena sudah parah. Hanya bisa di kemoteraphy katanya. Ya begitulah akhirnya. Nyokap baru selesai menjalani kemo nya beberapa bulan yang lalu, dan masih menjalani berobat jalan sampai sekarang. Jadi sebulan sekali harus ke Semarang menemui dokter Edi yang baik hati.

Kita nggak perlu maki-maki dan merutuki nasib diri. Kalau kalian berpikir bahwa DIA nggak adil udah nitipin sakit ini dan itu ke kalian (baca aja kita), mungkin kita perlu mengingat kembali, bahwa sakit itu dapat menjadi penggugur dosa-dosa kita. Kita hanya perlu berharap dan berdo’a, agar disetiap sakit yang kita rasakan, maka akan gugur pula setiap dosa-demi dosa yang telah kita lakukan.

Terkadang gue merasa ke GR-an sama DIA. Gue berpikir bahwa Tuhan memang sengaja menitipkan penyakit itu khusus, spesial hanya buat gue dan orang-orang di sekitar gue. Nggak tahu pasti kenapa, tapi mungkin DIA pingin melihat bagaimana reaksi gue dan mereka nggak hanya saat kita diberi berbagai kenikmatan, tetapi juga saat kita diberi sesuatu yang mungkin awalnya menurut kita adalah hal yang menyakitkan.

Gue yakin, gue Cuma perlu bersyukur dan terus melakukan yang terbaik. Begitu pun dengan kalian. 

Be Smart, care your self and whoever around you!


Do'a Berbuka Puasa Anti Mainstream (Sesuai Sunnah)

Sob, udah tahu kan, kalau bacaan do'a berbuka puasa yang ngetrend bingit dan familiar buat kita itu ternyata belum sesuai sunnah Rasul?. Iya, bacaan yang ini nih:

"Allahumma lakasumtu wabika amantu wa'ala rizqika afthartu birahmatika ya arhmarrahimin"

Kalau menurut jumhur ulama, bacaan do'a berbuka puasa itu yang ini lho yang sesuai sunnah, kekuatan haditsnya hasan:

 

Dulu juga gue selalu membaca do'a yang mainstream itu, bahkan di sekolah dan seantro kampung gue ya do'a yang pertama itu yang diajarkan. Eh, ke sini-sini pas udah baca-baca dan dipelajari lagi, ternyata sanad hadits do'a puasa yang pertama itu lemah.

Seperti yang udah diketahui kan, hadits itu ada yang Shahih, Hasan, Dhoif. Jadi kalau ada dua hadits yang satu lemah/dhoif dan yang satu hasan, jelas hadits hasan ini lah yang harus diikuti. Terus kalau membaca hadits juga kudu diliat dulu siapa perawinya (orang yang meriwayatkan hadits). Jadi supaya kita enggak menelan mentah-mentah apa yang kita lihat, dengar, atau baca. Banyak lho, orang yang jadi saling mengkafirkan hanya karena mendengar ada hadits yang begini dan begitu, sementara dia langsung percaya tanpa mau mencari tahu siapa perawinya, bagaimana sanadnya, alhasil, sesama muslim jadi saling bermusuhan. Ah, Enggak, ilmu gue belum sampe tahap bisa menguraikan jenis-jenis hadits. Tapi kalau kata ustadz di kantor yang juga lulusan LIPIA, ada lima Imam yang meriwayatkan hadits-hadits shahih yaitu Imam Bukhori, Muslim, Ahmad, Daud, dan Imam Tirmidzi. Yang tertarik ingin memperdalam ilmu hadits mungkin bisa membeli bukunya.

Nah kemarin-kemarin karena belum tahu kan masih pake do'a mainstream tapi salah, sekarang kan udah tahu, yuk mulai baca do'a anti mainstream sesuai sunnah!. Mumpung Ramadhan, amal kebaikan sekecil apa pun di bulan suci ini, akan menjadi sebuah amal kebaikan yang bernilai besar, apalagi jika menghidupkan sunnah. 

Sudahlah, biarkan Malaikat Raqib-Atid yang mencatat, kita hanya perlu melakukan yang seharusnya kita lakukan :)



Kamis, 11 Juni 2015

Aku dan Waktu




Kau dengar itu?
Detik jam dinding terus berdetik
Saling bersahutan satu sama lain
Seirama tapi tak bersama

Mengapa begitu?
Bukankah harusnya waktu adalah satu?
Berjalan searah, berputar dari angka 12 dan kembali ke angka 12
Untuk kemudian kembali berputar dan terus berputar
Menunjukkan kepada manusia, bahwa waktu terus berjalan
Tanpa bisa menunggu
Mengingatkan kepada makhluk-NYA 
Bahwa di setiap detik waktu yang berputar
Berkuranglah kembali masa mereka di muka bumi

Lalu...
Mengapa detik waktu itu tak mau sejalan seperti seharusnya?
Mengapa mereka berbeda?
Mengapa?!
Bukankah seharusnya DIA mampu membuat mereka bersatu?
Lantas...
Samakah waktuku dengan waktumu dan mereka?
Samakah kesempatan yang DIA beri untuk tiap dari kita?
Atau justru sebaliknya?

Waktu dan Kesempatan untuk kita tak sama
Waktu dan Kesempatan kita...
Sama seperti detik waktu jam dinding yang berdetik
Seirama namun tak sejalan
Tak bersama

Aku belum siap 
Duhai Sang pemilik segala
Aku belum siap 
Duhai Sang Pengasih
Aku belum siap
Dan jika perlu akan kurapalkan 99 asma suci-MU
Agar KAU tahu, betapa tak sanggupnya aku
Menghadapi akhir waktuku

Jika harus,
Akanku bersujud , bersimpuh dihadapan-MU
dan terus memohon belas kasih-MU Rabbi
Akan kupinta
Agar aku mendapat perpanjangan waktu dari-MU
Cinta...
Belum banyak bekalku
Gundukan gunung tak sebanding dengan dosa-dosaku
Luasnya samudra dan butiran pasir juga tak kan cukup
Untuk menjelaskan, betapa hinanya aku

Cinta...
Berikan aku waktu
Berikan aku kesempatan
Beri aku kekuatan

Cinta...
Usap lembutlah jiwa-jiwa yang belum juga menyadari bahwa ternyata kami merindukan-MU
Tegurlah Kami dengan cara manis-MU
Bukakanlah pintu maaf-MU Cinta...
Untuk kami

Hamba-MU yang lalai
Hamba-MU yang belum mampu menghargai waktu

Dan sadarkan kami
Bahwa waktu, tak pernah bisa menunggu

Rabu, 10 Juni 2015

Miracle In Cell No.7: "I Love My Daddy Too"


Miracle In Cell No. 7

Selain film Jepang, film korea juga menjadi favorit gue. Menurut gue, penggarapan film mereka itu selalu nampak sempurna. Para pemainnya pun selalu all out memainkan perannya. Mereka selalu terlihat ekspresif dan natural.

Miracle in Cell No. 7 adalah salah satu K-Movie favorit gue. Film besutan sutradara Lee Hwan Kyung yang rilis pada tahun 2013 ini sukses menyentuh hati para penontonnya. 

Ryu Seung-ryong yang berperan sebagai Lee Yong-Gu (Yong Goo) atau  ayah Ye-Seung kecil (YS)  yang diperankan oleh Kal So Won. Yong Goo merupakan seorang ayah yang memiliki keterbelakangan mental tetapi sangat menyayangi putrinya.

Kisah dimulai dengan Ye-Seung dewasa yang diperankan oleh Park Shin-hye (PSY). Dia datang menemui teman-teman ayahnya saat Yong Goo masih dipenjara. Lucunya mereka semua sudah taubat, eh, lebih tepatnya berubah. Ada si kepala gangster di sell no 7 yaitu So Yang-Ho atau Oh Dal-su nama aslinya, dia sekarang menjadi pendeta disebuah Gereja, Kang Man-Beom atau Kim Jung-Tae yang beralih profesi menjadi seorang peramal, dan lain-lainnya. Ye-Seung dewasa yang telah menjadi seorang pengacara muda kembali mengangkat kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada ayahnya untuk membuktikan bahwa ayahnya tidak bersalah. Di tengah sidang, Ye-Seung pun menceritakan kisahnya.

“In the name of justice, I will Punish You!”. Di akhir cerita gue baru sadar apa kenapa jargon ini disorot di awal film ini.

Februari 1997

Di depan sebuah toko tas, Ye-Seung dan ayahnya menonton soundtrack film Sailor Moon. Yong Goo ingin membelikan tas sekolah untuk Ye-Seung. Tas bergambar Sailor Moon itu limited edition, dan mereka berencana membeli tas itu esok hari karena uang mereka baru akan terkumpul  besok. Tapi ternyata tas terakhir sudah dibeli oleh keluarga seorang kepala kepolisian. Yong Goo berusaha meminta agar tas itu mau diberikan kepadanya, tapi ditolak, bahkan Yong Goo sampai dipukuli oleh ayah sang anak. Jadilah mereka pulang dengan tangan kosong, ditambah luka-luka di wajah Yong Goo.

Suatu hari, Yong Goo bertemu kembali dengan anak dari pejabat polisi yang membeli tas terakhir waktu itu. Yong Goo yang memiliki keterbelakangan mental sangat senang waktu anak itu memberitahukan bahwa ada toko lain yang menjualnya, dan dia mau mengantarkannya ke toko tersebut. Yong Goo mengangguk-angguk kemudian mengikuti gadis kecil itu berjalan. Matanya terus berbinar menatap tas yang dipakai oleh gadis kecil itu. Dengan langkah kekanak-kanakkan dia terus mengikutinya. Mereka berjalan melewati jalanan di pasar. Tiba-tiba saja adegan sampai pada saat gadis itu berteriak. Yong Goo sedang membuka celana gadis itu dan segera memberikan bantuan pernafasan. Lalu datang seorang ibu-ibu, dia salah paham, dia mengira bahwa Yong Goo sedang melakukan perbuatan asusila. Singkat cerita Yong Goo akhirnya dipenjara. 

Pokoknya Yong Goo diadili tanpa proses. Nggak adil pake banget!

Karena kepolosannya Yong Goo sering banget dipukuli, termasuk oleh chief penjara Jang Min-hwan (Jeong Jin-yeong). Pertama masuk sell no 7, ketua gangsternya So Yang-Ho (Oh Dal-su) penghuni sell yang lain kebingungan, gimana bisa orang sepolos Yong Goo melakukan kejahatan?. Perkenalannya aja kocak banget.
“Mom hurt because my head was big.” Nggak penting banget kan? Wkwkwk. Pokoknya masih lucu-lucuan diawal mereka di penjara.

Si ketua geng yang nggak bisa baca (ini ketahuan gara-gara Ye-Seung minta dibacain cerita sama dia) meminta salah satu anak buahnya membacakan catatan kejahatan Yong Goo, dan pas tahu bahwa Yong Goo adalah seorang kidnapped, rame-rame seisi sell no 7 mukulin Yong Goo sampe babak belur. Tapi semuanya berubah ketika Yong Goo menyelamatkan Ketua geng dari percobaan aksi pembunuhan yang dilakukan oleh ketua geng lain. So Yang-Ho lantas memberikan tawaran akan memberikan apa pun yang diinginkan Yong Goo.

Mission impossible penghuni sell no 7 berlangsung. Akting mereka benar-benar ok, deh. Apalagi pas adegan Ye-Seung ketemu Yong Goo. Nonton film ini bikin gue terus merapal mantra “jangan nangis jangan nangis jangan nangis.” 

Rencananya Ye-Seung hanya akan berada di sell selama dua jam, tapi karena pastornya sakit, jadi acara kebaktian dipercepat dan Ye-Seung terpaksa harus diselundupkan ke dalam sell lagi. Kekocakan demi kekocakan berlangsung. Sampai akhirnya petaka itu datang. Chief tahu kalau ada anak kecil di dalam cell no 7, dia marah besar, sampai Yong Goo diikat dan di kurung. Si chief berubah baik gara-gara Yong Goo nolongin dia waktu kebakaran terjadi di penjara. Karena melihat banyak kejanggalan, Chief Min-hwan akhirnya melakukan penyelidikan sendiri. Dibantu penghuni sell no 7 mereka menggali ingatan Yong Goo tentang kejadian hari itu, dimana gadis kecil itu meninggal.

Semuanya berjalan sempurna, sayangnya menjelang sidang berlangsung, Yong Goo yang sudah berhasil mengingat detil peristiwa demi peristiwa itu diintimidasi dan dipukuli, dia dicekoki lagi dengan hal-hal yang bukan sebenarnya terjadi, membuatnya gagal fokus dan kembali gagap. Maklum, kan dia keterbelakangan mental. Mentang-mentang ayah si gadis itu seorang komisaris kepolisian, dia membuat cerita seolah Yong Goo ini benar-benar pembunuh. Dia mengancam akan membalas perbuatan Yong Goo kepada Ye-Seung. Miris. Bahkan Yong Goo akhirnya divonis hukuman mati.

Penghuni sell no 7 berjuang keras membuat balon udara supaya Yong Goo bisa kabur bersama Ye-Seung, tapi balon itu nyangkut diperbatasan. Yong Goo tidak perduli, dia merasa bahagia karena bisa bersama Ye-Seung, melihat indahnya matahari terbenam bersama Ye-Seung nya, meskipun itu hari terakhirnya menjelang eksekusi mati.

Ye-Seung akhirnya diasuh oleh keluarga chief, hingga bisa menjadi seorang pengacara yang akhirnya membersihkan nama baik ayahnya.

Ah pokonya lebih seru nonton langsung. 

Nih gue kasih linknya di youtube https://www.youtube.com/watch?v=Of3e5htCP-Q

Jangan lupa sambil merapal mantra “Jangan nangis, Jangan nangis, Jangan nangis!” Ok?! Itu pun gue nggak yakin pada tahan. Hahaha.

Selamat menonton dan jangan lupa mengambil hikmahnya ya!

Senin, 08 Juni 2015

My Action Story: Jambret Under Attack

Hokay... Gue pingin ceritain kejadian na'as yang gue alami kemarin sore, supaya kalian (yang ngebaca tulisan ini) juga bisa mengambil hikmahnya (kalau sekiranya ada).

Ceritanya, jam setengah lima gue berenti di sebelah Toko Buku Gunung Agung Kwitang yang letaknya deket dengan kantor mualaf Tionghoa, ataunggak jauh dari lampu merah Pasar Senen arah kwitang/Tugu Tani gitu lah. Tempatnya emang agak sepi, tapi di belakang gue ada sekuriti yang standby di depan kantornya, ada beberapa pedagang juga di pinggir jalan. Pokoknya depan-belakang gue masih bisa dibilang banyak orang.

Berhubung gue tahu bahwa rawan buka hp di pinggir jalan, gue berenti dan menggiring motor gue ke depan rumah salah seorang warga. Gue parkir di trotoar, turun dari motor dan duduk di bawah sambil nunggu konfirmasi di mana tempat pertemuan yang sebenarnya antara gue dan temen-temen gue. Karena hampir setengah jam nggak ada kepastian akhirnya gue kembali naik motor dan bersiap untuk pulang. Sebelumnya gue sempet WA temen kosan, tapi belum sempet gue baca balasan WA nya, seseorang yang ngebonceng sepeda motor dengan temennya datang dan mengambil hp gue. 

Semuanya seperti slow motion. Tadinya gue pikir itu temen gue yang dateng dan lagi becanda, karena memang kadang ada dari mereka yang suka iseng begitu juga. Sesaat gue senyum ke arahnya dan dia memang sempet senyum juga ke arah gue. Tapi pas gue sadar dia bukan temen yang gue tunggu, otak gue langsung ngasih alarm bahaya. Spontan gue turun dari motor dan memegangi belakang motor mereka, sementara orang itu tergopoh-gopoh membenarkan posisi duduknya. Sejauh itu gue masih berusaha realistis dengan berteriak rampok-rampok dan mencoba menjatuhkan motor mereka. Mereka juga sempat oleng sebelum akhirnya sang pengendara yang di depan menancap gasnya membuat gue terhuyung, nyungsruk dan sepertinya sempat terseret beberapa jauh, dan akhirnya gue bener-bener nglepasin pegangan gue dari motor itu. 

Alhamdulillah gue sudah memakai helm, sehingga yang terbentur aspal adalah helm gue. Seperti yang gue bilang, gue mencoba realistis dengan tidak mengorbankan nyawa gue agar terus terseret hanya untuk sebuah hp. Dan ternyata, serealistisnya orang panik, gue telah gagal realistis, karena gue nggak sempet liat Plat motornya. Eh, lebih tepatnya, plat motornya nggak keliatan, atau memang nggak dipasang ya? 

Orang-orang baru datang pas gue udah bangkit dan membenarkan posisi jilbab dan gamis serta rok gue yang udah bolong-bolong nggak karuan. Lagi-lagi mereka nyalahin gue karena katanya gue nggak mau teriak, padahal gue berani bersumpah bahwa gue udah teriak maksimal. Yang kenal gue pasti ngertilah ya kualitas teriakan gue sekenceng  apa. Dan lebih mirisnya lagi, aksi gue melawan jambret yang tadi gue teriakan Rampok itu malah dikira aksi opera sabun di mana gue lagi berantem sama pacar gue dan gue narik-narikin motor pacar gue dengan histerisnya.

Baca ya...

Gue dikira berantem sama pacar gue!

Iyuuuhhhh... yang bener aja?, masak gue selabil itu cuma buat cowok?, sampe narik-narik motornya dan rela mengorbankan nyawa gue demi mengejarnya? 

Lagian mereka juga nggak mikir yak, Suami-Istri aja bisa kena UU KUHP tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), apalagi yang baru sebates pacaran?. Kalau gue yang ngeliat mah, pasti gue lemparin pake sendal gunung atau gue getok pake payung itu jambret (kalau sempet).

Hadeuh...

Eh, lupakan dugaan adegan opera sabun yang terlalu didramatisir oleh para penonton. Mending gue kasih tahu Kronologi jelasnya.

Pertama, Orang itu langsung datang dari arah belakang, mengambil hp gue  dan seolah ingin menghipnotis gue sejak pertama kali mereka datang. Kenapa gue bilang gitu?, karena pertama datang sang pelaku yang ngebonceng, sebut saja si A, dia langsung senyum dan menunggu respon gue, yang bodohnya gue balik senyumin karena mukanya familiar banget buat gue.

Kedua, menurut pengamatan gue mereka mau ngambil motor gue. Karena sebelum gue teriak pas mereka sudah berhasil ngambil hp gue, si A juga nyaris turun dari atas motor, tapi berhubung gue sadar dan langsung teriak Rompak-rampok sambil megangin belakang motor mereka, mereka buru-buru kabur. Alhamdulillah, posisi baru selesai tilawah pake hp itu, pikiran juga nggak lagi kosong, jadi Allah benar-benar melindungi sekali, sehingga kalau beneran si A mau menghipnotis semuanya jadi nggak mempan. 

Si A bahkan sempet ngeliatin gue lagi sebelum temannya benar-benar mempercepat laju motornya dan menjauh dari hadapan gue.

Bukan tanpa alasan ya gue megangin itu motor dan berusaha keras ngejatuhin motor itu, narik ke kiri dan ke kanan supaya ambruk.  Walaupun ternyata sia-sia karena badan mereka jelas lebih super gede dari badan gue. Bahkan sekali kibas gue mungkin bakal ambruk. Tapi demi Allah, gue nggak akan ngebiarin gitu aja barang gue diambil orang tanpa perlawanan. Seenggaknya gue perlu melakukan perlawanan, supaya DIA nggak kecewa karena gue udah ngebiarin gitu aja barang titipan-NYA diambil orang (meskipun gue yakin DIA pasti sudah melihat semuanya). 

Terakhir karena gue capek kebanyakan penonton malah nyalahin gue, sementara gue sendiri udah nggak mau ambil pusing dengan barang yang udah hilang, jadi gue memutuskan segera balik sebelum kuping gue panas dan berasap. Dengan gaya masih sama sok cool nya seperti saat pertama orang-orang ngerubungin gue, gue lajukan sepeda motor dengan sebelah tangan yang masih perih dan pegel.


Gue hafal bener muka orangnya, mirip sama Bang Surya Bunting, eh, Surya Ginting tapi lebih kurus dikit. Warna kulit dan tekstur wajahnya sama dah (Sori ye bang nyaman situ sama jambret) heheheh. 

Semaleman sampai hari ini pun gue masih berimajinasi terkait hal-hal yang seharusnya gue lakukan. Seharusnya gue nggak megangin bagian belakang motornya doang, melainkan mendorong mereka dari arah samping supaya mereka terjungkal dan kita guling-gulingan bareng di atas aspal. Seenggaknya itu lebih adil, supaya kita merasakan sakit yang sama. Setelah itu gue membayangkan gue nonjokin muka Si A dengan garangnya, kemudian orang-orang ngurusin yang B. Kemudian gue membayangkan ada adegan salah satu dari mereka mengeluarkan senjata, entah senjata tajam atau senjata api, mengambil sandra (yang jelas bukan gue), kemudian mengancam akan membunuhnya, sementara salah seorang darinya sudah babak belur dan dipegangi warga. Kemudian polisi datang, ada adegan tembak-menembak, dan byar!!!, gue sadar kalau itu terlalu mendramatisir. Cuma buat sebuah HP?, Oh please... ahaha, kebanyakan nonton dan baca action story ini mah. Tapi mungkin bisa gue praktekkan dilain waktu (dan sekali lagi, bukan gue korbannya).
 
Pokoknya buat siapa pun, jangan ngeluarin hp di jalan raya kecuali penting. Apalagi di lampu merah. BAHAYA! (padahal selama ini gue selalu ngewanti-wanti diri gue sendiri soal ini dan selama ini pun gue selalu berhati-hati)

Yang angkoters, keretaers juga sama. Di mana-mana mah sekarang rawan, jadi lebih baik hati-hati aja. Apalagi jambret, copet di jalan sekarang tambah pintar, pakaian mereka bukan baju kumal lagi, melainkan  baju necis kayak orang berduit tapi ternyata penjahat. Penampilan banyak yang menipu coi.

Jambret, begal dan penjahat jalanan sudah mulai berani beroperasi di siang bolong, bahkan di tempat yang banyak orangnya. kita nggak tahu kapan apesnya kita, jadi waspadalah! Waspadalah! *Udah mirip bu Napi belum? #ehh

Tetep ingat Allah di mana pun dan kapan pun, karena dengan begitu Allah akan menolong dan menyelamatkan kita dari mara bahaya.

Dan buat kalian yang qadarullah udah pernah atau baru mengalami kehilangan kayak gue atau justru lebih buruk, seng sabar ya. Nggak perlu nyalahin siapa pun. Nggak usah dimasukin ke hati juga kalau sampai ada yang nyinyirin dan ngatain lo kurang sedekah, kikir dan sebagainya. Jangan sampai itu membuat lo sombong dan mengatakan kalau lo selama ini sudah sedekah, Zakat, dan sebagainya. Cukup Lo dan Allah yang tahu amalan-amalan istimewa lo itu apa aja. Syukuri, nikmati, introspeksi diri, dan jadikan ini sebagai pelajaran. Anggap aja itu ongkos belajar yang belum tentu orang lain bisa dapetin, ya nggak? ^_^

*Bukan gue sok bijak ya... tapi kalau kita ikhlas lillahi ta'ala, maka barang kita yang hilang itu akan lebih bermanfaat, dan bisa jadi kita akan mendapatkan yang lebih baik, asalkan kita tetap berusaha dan terus berkhusnudzon sama Allah.

Terakhir buat temen-temen gue yang suka bengong, protes, dan mempertanyakan kenapa kok busana gue suka berlapis-lapis (celana panjang, rok, dan gamis), salah satu hikmahnya ya itu tadi. Aurat gue masih bisa terselamatkan meskipun gamis dan rok gue fix bolong sana-sini karena gesekan aspal. Dan cidera gue juga sedikit berkurang karena terlindungi oleh busana ini. 

Ya meskipun bengkaknya nggak bisa dihindari, meskipun malamnya gue mati-matian nahan sakit pada luka terbuka ditangan gue karena kena air wudhu dan obat merah, meskipun badan gue akhirnya tetep remuk dan bangun tidur udah mirip robot yang kehilangan tulang belulangnya (wah, nggak jelas banget analoginya ya?)

Tapi pakaian inilah yang menyelamatkan gue dari mengumbar aurat.

Okey guy's, itu ceritaku, mana ceritamu?

Bukan Hilang, Hanya Saja Diambil Oleh Pemiliknya

Yaks, kali ini smartphone gue yang menjadi korbannya. Padahal belum genap satu tahun dia bersama gue, memori card baru diganti dengan kapasitas yang lebih besar, soft case belum ada seminggu, screen protector juga baru diganti. Emang perihnya sip ini mah, wkwkwkwk 

Eits, tapi bukan Risti namanya kalau habis kehilangan sesuatu terus murung dan mewek-mewek, apalagi sampe nggak doyan makan. Meh, double ruginya kan kalau begitu caranya?, yang ada habis kena musibah gue harus banyak makan biar hati dan pikiran gue tetep sehat. Sebelum ini gue juga udah pernah kehilangan backpack yang berisi kamera premier, surat-surat motor, dompet, uang tunai lebih dari setengah juta plus koleksi uang kuno yang always nongkrong di dompet dan barang-barang lain yang ada di dalam tas dalam waktu satu hari. Seminggu kemudian gue juga harus mengikhlaskan hp gue yang baru berusia dua minggu jatuh dari motor dan menyebabkan layarnya pecah. 

Apa gue menangis karena kehilangan itu semua?
Jawabannya enggak!. Percaya nggak percaya sih, gue emang nggak nangis karena kehilangan itu semua. Gue cuma sebel waktu abang gue ngeluarin taringnya dan terus-terusan nyalahin gue atas kejadian itu.

Oh ya, gue sama sekali nggak bermaksud takabur, tapi kalau gue sekedar kehilangan barang doang masih bisa gue upayakan dengan kembali menabung, sementara kalau gue kehilangan orang yang gue sayang?, gue masih belum yakin siap dengan itu. Makanya gue sangat salut sama mereka yang ditinggal pergi sama orang-orang yang mereka sayangi, tapi mereka masih sanggup buat tersenyum dan terus melanjutkan hidup. Mereka ini, orang-orang yang gue bilang: Luar biasa!

Salah satu satu hal yang bikin gue sedih dari kehilangan barang-barang itu, karena semakin sering gue kehilangan barang, maka semakin jauh pula jarak antara gue dengan Masjidil Haram (*If you know what I mean). Tsaaah... kalau secara logika ya gitu, tapi gue tahu kok, nikmat Allah itu Maha Luas... jadi pasti akan selalu ada jalan dari setiap asa yang diupayakan.

Gue selo dan woles bukan karena gue orang kaya yang bisa beli ini itu dengan mudahnya, sama sekali bukan. Kamera premium gue yang waktu itu hilang di IBF juga hasil THR dan tabungan gue selama di RSPAD, buat ngedapetinnya gue bahkan harus rela nggak beli ini itu kecuali sesuatu yang penting. Hp gue yang pecah itu juga smartphone mewah pertama yang gue beli dengan harus hampir menguras seluruh isi tabungan. Kalau bukan karena kebutuhan dan tuntutan pekerjaan, demi Allah, hp nokia 3315 jadul gue, atau evercross yang awet banget itu cukuplah untuk gue. Persetan dengan mode atau gue yang sering dibilang nggak gaul dan fashionable, pokoknya yang penting buat gue hp ya bisa buat sms sama nelpon. Yang penting hp ya nggak kurang pulsa. Udah gitu aja. Tapi berhubung gue dituntut untuk selalu up to date terkait pekerjaan ya mau nggak mau gue harus punya smartphone. Jadilah gue beli hp yang lebih layak yang qadarullah dua minggu langsung rusak. Butuh beberapa bulan lamanya sampai gue bisa beli hp yang baru. Dan sekarang, belum ada sepuluh bulan hp gue udah raib (lagi). Ahahaha....nasib-nasib...

Jadi, sekali lagi, gue emang bukan orang kaya. Satu hal yang selalu coba gue tekankan pada diri gue sendiri setiap sebelum atau saat ingin memiliki sesuatu, yaitu sebuah keyakinan bahwa semua yang gue miliki ini hanyalah titipan, dan gue harus siap apabila sesuatu itu diambil lagi oleh pemiliknya sewaktu-waktu. Dan saat hal itu terjadi maka gue harus mengikhlaskannya.

Sedih pasti ya sedih, tapi harus tetap realistis. Toh mau guling-guling, kayang, maupun koprol sampai tulang pada copot juga itu barang nggak bakal barang balik lagi. Lapor polisi?, Ish... buang-buang waktu dan uang doang. Motor ilang aja belum tentu ketemu, apalagi kalau cuma hp?!. Bisa sih gue cari ke Pasar Poncol (Pasar di Senen yang biasa digunakan para maling, jambret dan sejenisnya buat ngejual hasil pekerjaannya. Waktu itu dokter gue di RS pernah hp nya di jambret dan ketemu pas dicari di Poncol, tapi ya harus beli lagi ke penjualnya).

Jadi dari pada gue melakukan hal yang sia-sia mendingan mengambil hikmah dari apa yang udah terjadi.

"Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya." (HR. Al-Askari dari Anas ra)


Gue pernah denger gitu, dan menurut gue bermuhasabah jauh lebih baik ketimbang terus meratapi nasib.

Oya, satu hal lagi yang membuat gue tetap tenang meskipun kehilangan, yaitu karena barang-barang itu Allah yang ngasih langsung ke gue, gue nggak minta ke bonyok maupun ke sodara-sodara gue. Jadi ketika barang itu hilang gue nggak punya beban moril atau rasa bersalah berlebihan ke siapa pun kecuali sama Allah karena udah lalai ngejaga titipan-NYA. Jadi ketika barang itu udah beneran ilang, gue cuma harus minta lagi sama Allah, percaya bahwa gue bakal dapet ganti dengan yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dan karena Allah memang selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, gue selalu belajar berfikir positif sama DIA. Gue nggak tahu kapan tabungan gue kumpul, tapi gue yakin, sesuatu yang lebih besar menanti gue di depan sana. #Eaaa...

Sementara ini mending gue nggak ketemu abang gue dulu sampai abis lebaran (mungkin), gue cuma mengurangi resiko bakal kena semburan api darinya lagi. 

Gue emang nggak pernah peduli dengan barang yang udah hilang, asalkan orang-orang-orang di sekitar gue pada diem, nggak komplen apalagi marahin gue. Gondog kan?, kita yang kena musibah, orang lain yang ngomel-ngomel. Ish ish ish...
Pokoknya mereka cuma harus diem, udah gitu aja!