Kamis, 04 Juni 2015

Jodoh, Takdir dan Do'a

Halo, Nama gue Risti, Single dari lahir, dan belum pernah menjomblo. Galau pasti pernah, naksir orang juga udah berkali-kali, tapi alhamdulillah belum pernah ngerasain rasanya putus sama pacar, musuhan sama mantan, atau bermasalah sama gebetan mantan gara-gara sang mantan masih mikirin gue (elah, kasus banyak orang ini mah),  wkwk

Eits, haters, jangan bilang gue lagi promosi, tapi kalau kalian mikirnya gitu ya nggak papa juga sih. Gue boleh nulis apa yang mau gue tulis, jadi kalian juga boleh menilai dari apa yang kalian lihat dari tulisan gue ini.

Ngomong-ngomong soal single dari lahir, bukan berarti gue nggak mikirin tentang jodoh ya. Mikir ke sana (tentang masa depan) jelas boleh-boleh aja, bahkan wajib mungkin bagi sebagian orang, tapi menurut gue ya, sesuai porsinya aja.

'Maksudnya?'

Ya maksud gue, jangan nggak mikirin, tapi jangan sampai galau kebangetan gara-gara terlalu mikirin juga. Intinya, setiap fase kehidupan yang kita alami sekarang ini itu, nggak terlepas dari campur tangan ilahi, kita nggak bisa maksa atau juga mengelak. Kalau orang bilang, semua itu namanya takdir.Jadi ya, nikmati aja semua prosesnya, karena suatu saat lo pasti bakal kangen dengan masa-masa ini.

'Trus kalau gue jomblo, single atau apapun namanya selama seumur hidup, itu juga takdir?, berarti Tuhan nggak adil dong sama gue?!'

#plakkk

"Ngaca woi ngaca!"
Takdir itu bisa dirubah dengan do'a, pernah denger kan kalau senjatanya umat muslim itu adalah do'a?, lo pikir dulu 300 tentara umat muslim kenapa bisa menang waktu melawan 1000 tentara kaum kuffar Quraisy di Perang Badar?. Rasulullah berdo'a man!, berdo'a tanpa lelah sampai selendangnya terjatuh, sampai Abu Bakar juga berulang kali meminta Rasulullah menghentikan do'anya yang terlalu lama."

'oh... jadi gue cuma perlu berdo'a aja ya?'

"Ya kalau lo Rasulullah silahkan." pasang muka polos.

'Loh, maksud lo?,  katanya tadi senjatanya umat muslim dengan berdo'a.'

"Iya, tapi orang do'a juga kudu diimbangi dengan usaha keleusss."

'Oh... Gue udah usaha, tapi kok jodoh gue belum juga dateng ya?'

"Usaha yang pegimane maksud lo?, yang pedekate sama anak orang?, yang flirting-flirtingan sama temen kampus?, atau yang mana?" tersenyum penuh arti.

'ehmm, ya...  kan itu usaha juga' garuk-garuk kepala.

"Jodoh itu hak prerogatifnya Allah sayang... kalau kamu mau mendapatkan orang yang tepat ya berarti kamu juga harus belajar menjadi orang yang tepat untuk seseorang yang kelak menjadi pendamping hidup kamu."

'maksud lo?'

"Orang bilang, jodoh itu cerminan diri. Lo pasti pernah denger kan, soal laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik, pun begitu sebaliknya."

'iya sih, tapi kan gue butuh waktu untuk penjajakan. Supaya nggak kayak beli kucing dalam karung.'

*ketawa guling-guling

"Dalam Islam, sudah mengajarkan proses yang baik, jadi lo nggak bakalan kayak beli kucing dalam karung. Kalau lo beneran siap, lo bisa ta'aruf untuk mengenal dia, dan itu ada batasan-batasannya, ada aturannya, ada cara mainnya. Jadi gue jamin lo nggak bakalan kayak beli kucing dalam karung."

'Oh gitu. Gue sih pingin ta'aruf gitu, cuman kayaknya tabungan gue belum cukup deh buat nikah, menurut lo gue harus gimana?''

"Yelah, nikah itu gratis, kalau emang beneran mau nikah untuk menghindari nafsu, zina dan gidaan syaithan yang lain. Tinggal datang ke walinya, ijin nikah di KUA, beres. Tapi kalau lo emang belum siap, ya dari sekarang persiapkan semuanya. Sambil nabung, sambil sama-sama memperbaiki diri. Yang jelas kalian nggak usah ngebuat ikatan dengan jadian, tunangan, atau apa pun namanya. Ya walaupun kalian bilang nggak ngapa-ngapain, tapi setan itu selalu punya cara buat ngejerumusin manusia."

'Tapi, kalau dia disamber orang lain gimana?'

"Ya itu udah resiko. Kan gue bilang, jodoh itu hak prerogatifnya Allah. Kalau dia jodoh lo, pasti Allah bakal menyatukan kalian bagaimana pun caranya. Tugas kita hanya berusaha untuk memperbaiki diri hingga kita benar-benar siap, lahir maupun batin."

'ok deh, gue bakal mempersiapkan diri sebelum menjemput jodoh gue'

"Good boy..."

Nah kan gaes, emang nggak mudah ngejaga hati, Tapi kalau bukan kita sendiri yang menjaga, lantas siapa lagi?. Yuk sama-sama saling mengingatkan kepada sesama muslim untuk tetap berada di jalan yang lurus. Kalau ada yang salah ya di ingetin, bukan justru didukung. Sehingga kelak di yaumil akhir, kita tidak turut disalahkan atas saudara kita karena kita sudah mengingatkannya.


Happy writing, happy reading, happy studying! 

Rabu, 03 Juni 2015

Sirah Nabawiyah: Perang Uhud Part II

Masih tentang Perang Uhud

Setelah berpalingnya kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, pasukan kaum muslimin kembali melanjutkan perjalanan, mereka berhenti disebuah lembah yang membelakangi Uhud dan menghadap ke Madinah. Rasulullah menempatkan 50 pasukan memanah untuk bersiaga di atas bukit dan menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pemimpin mereka. Rasulullah Salallhu ‘alaihi wasallam bersabda kepada pasukan pemanah;Jangan tinggalkan posisi kalian dalam kondisi apapun! Lindungi punggung-punggung kami dengan panah-panah kalian! Jangan bantu kami sekalipun kami terbunuh! Dan jangan bergabung bersama kami sekalipun kami mendapat rampasan perang!

Dalam riwayat Bukhari : “Jangan tinggalkan posisi kalian sekalipun kalian melihat burung-burung telah menyambar kami sampai datang utusanku kepada kalian”

Menjelang perang, Rasululah berdiri di hadapan umatnya sambil membawa pedangnya. Beliau bersabda: “Siapa diantara kalian yang mampu memenuhi fungsi pedang ini?” dan dengan lantang Abu Dujanah menjawab: “Aku Ya Rasulullah! Aku yang akan memenuhi fungsi pedangmu.” Rasulullah pun menyerahkan pedang itu kepada Abu Dujanah. Abu Dujanah menerimanya, ia segera mengeluarkan ikat kepala berwarna merah dan mengikatkannya di kepalanya, kemudian ia berjalan mengelilingi barisan pasukan kaum muslimin dengan langkah angkuhnya. Melihat itu Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya cara jalan seperti itulah yang dimurkai Allah, kecuali di tempat ini (perang).”

Ya, Allah dan Rasul-NYA tidak menyukai dan juga tidak mengajarkan kesombongan, tapi untuk di medan jihad, Allah dan Rasul-NYA mengijinkan. Semua orang tahu, bahwa ketika Abu Dujanah sudah memakai ikat kepala berwarna merahnya, berarti dia siap berjihad hingga menjemput syahid.

Peperangan dimulai dengan duel antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin. Dari kaum muslimin diwakili Hamzah bin Abdul Muthalib, Hanzhalah bin Abu Amir dan Ali ibn Abi Thalib. Setelah itu perang pun berkecamuk. Hamzah, Ali dan para sahabat menyerang kaum musyrikin secara membabi buta. 700 Pasukan Muslimin melawan 3000 Pasukan Kuffar!, sungguh mustahil bagi orang-orang yang tidak beriman, tapi tidak bagi umat yang beriman. Kaum Kuffar kocar-kacir, bahkan banyak dari mereka yang melarikan diri. Tak dihiraukannya teriakan dan makian kaum wanita mereka. Melihat itu, pasukan pemanah yang berada di atas bukit menjadi gelap mata, dan mereka pun berselisih.
 
“Kita diamanahkan untuk tetap tinggal saat peperangan berlangsung, sementara sekarang perang sudah usai. Lihatlah, para kaum kafir Quraisy sudah melarikan diri.” Ucap salah satu diantara mereka.

“Lupakah kalian dengan wasiat Rasullulah?” Abdullah bin Jubair, komandan pasukan pemanah mengingatkan pasukannya, namun sayang mereka tak menghiraukan perintah Abdullah bin Jubair untuk tetap tinggal. Mereka turun ke medan pertempuran dan turut mengambil ghanimah (harta rampasan perang), dan saat itulah petaka terjadi, sesuatu yang tidak diinginkan oleh Rasulullah dan kaum muslimin. 

Pasukan berkuda kaum musyrikin yang bersembunyi di balik bukit, dipimpin oleh Khalid bin Walid (ketika itu masih belum memeluk islam) yang melihat pasukan pemanah kaum muslimin telah turun ke medan pertempuran dan meninggalkan persenjataan mereka, tak mau membuang waktu. Dia segera menyerukan pasukannya untuk menyerang kaum muslimin.

Secepat kilat, kemenangan yang tadi hampir diraih pun lenyap digantikan dengan kekalahan dan luka jasmani serta ruhani. Pasukan kaum muslimin yang tidak siap atas serangan kaum musyrikin pun mulai tercerai berai. Perang kembali berkecamuk. Para sahabat mencoba melindungi Nabi, mereka menghalau anak panah dengan tubuh mereka. Rasulullah Jatuh ke dalam lubang yang digali kaum muslimin untuk memperangkap musuh, Ali bin Abi Thalib memegang tangannya dan Thalhah bin Ubaidilah membantu Rasulullah berdiri. Abu Sufyan bin Harb mencoba mendekati Nabi dengan kudanya, lalu Hanzhalah menghalaunya. Dia memukul tulang kering kuda Abu sufyan sehingga Abu Sufyan tersungkur, namun sebelum ia sempat membunuh Abu Sufyan, seorang kafir Quraisy yang bernama Syadad bin Syaub membunuhnya terlebih dahulu. Hanzhalah pun menjemput syahidnya saat sedang melindungi Nabi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat para malaikat memandikan Hanzhalah bin Abu Amir di antara langit dan bumi dengan embun di dalam bejana-bejana perak.”

Menurut penuturan sang istri, ternyata Hanzhalah berangkat ke medan jihad dalam keadaan junub. Mereka adalah pasangan pengantin baru. Dan ketika seruan jihad itu dikumandangkan, tanpa tapi dan tanpa alasan, Hanzhalah langsung bangkit dan bergegas memenuhi seruan itu.

Kaum Kafir masih belum puas karena Nabi belum terbunuh. Lima pemuda muslimin turut menghalau serangan, satu demi satu dari mereka berguguran, dan yang terakhir pemuda bernama ‘Atikah. Menjelang kematiannya Rasulullah meminta salah seorang sahabat untuk membawa ‘Atikah kepadanya, dan ‘Atikah meninggal di pangkuan Rasulullah.

Wahsyi, seorang budak Habasyah yang sejak awal memang mengemban misi khusus untuk membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, memperhatikan Hamzah. Dia menimbang-nimbang tombaknya, kemudian mengarahkannya kepada Hamzah hingga tombak itu tembus diantara kedua kakinya. Dan setelah memastikan Hamzah mati, Wahsyi mengambil tombaknya dan kembali ke Madinah.

Ketika Islam telah Berjaya, Wahsyi  ditanya oleh Rasulullah, tentang bagaimana ia membunuh Hamzah, Wahsyi pun menceritakannya:, “Dahulu aku adalah budak Jubair bin Muth`im. Pamannya yang bernama Thuaimah bin Adi terbunuh di perang Badar (dibunuh oleh Hamzah Radhiyallahu anhu). Majikanku (Jubair) berkata kepadaku : “Jika engkau berhasil membunuh Hamzah Radhiyallahu anhu , maka engkau akan bebas.” Wahsyi berkata : “Aku dahulu adalah ahli tombak, sedikit sekali lemparan tombakku yang tidak mengenai sasaran. Aku keluar bersama beberapa orang. Ketika mereka telah bertemu, akupun mengambil tombakku dan keluar hingga melihat Hamzah Radhiyallahu anhu ada di antara orang banyak. Ia seperti unta yang berwarna keabu-abuan. Ia mengancam orang-orang dengan pedangnya dan tidak pernah melepaskan pedangnya. Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya aku telah bersiap-siap (bertarung) dengannya, dan tiba-tiba aku didahului as-Siba` bin `Abdul Uzza al-Khuzai. Tatkala Hamzah Radhiyallahu anhu melihatnya, Hamzah berkata : “Kemarilah wahai anak wanita tukang khitan.” Kemudian dia dipenggal oleh Hamzah Radhiyallahu anhu . Demi Allah Azza wa Jalla, tidak luput sabetan pada kepalanya. Aku tidak melihat sesuatu yang lebih cepat dari jatuhnya kepalanya. Kemudian akupun menggerakkan tombakku, dan ketika telah benar-benar yakin, akupun melemparkannya. Lemparanku tepat mengenai perut bagian bawahnya, hingga tembus ke antara kedua kakinya. Ia pun pergi untuk bangkit, akan tetapi tidak kuat. Kemudian aku menunggunya hingga mati, setelah itu aku berdiri di hadapannya. Aku ambil tombakku dan kemudian kembali ke pasukan dan duduk.”

Tidak ada yang lebih bahagia mendengar kematian Hamzah selain Hindun bin Utbah. Bahkan ketika peperangan usai, Hindun memotong hidung dan telinga Hamzah, kemudian dijadikan sebagai kalung dan gelang. Lebih parahnya lagi, Hindun membelah dada Hamzah dan mengunyah hatinya, sayangya karena tidak mampu menelan, jadi hati itu dimuntahkannya lagi.

Mushab bin Umair syahid di tangan Ibnu Qumai-ah al-Laitsi seorang pasukan berkuda kaum Kafir Quraisy yang saat itu mengira bahwa Mushab bin Umair adalah Rasulullah. Mushab yang ketika itu memegang panji kaum muslimin di tebas tangan kanannya, kemudian ia memegang panji itu dengan tangan kirinya, tapi Ibnu Qumai kembali menebas tangan kirinya, lalu Mushab mendekap bendera tersebut, hingga anak panah menumbangkannya. Rasulullah kemudian menyerahkan panji pasukan muslimin kepada Ali bin Abi Thalib. Dan dengan bangga Ibnu Qumai-ah Al-Laitsi kembali kepada kaum musyrikin dan berteriak: “Aku telah membunuh Muhammad!.”

Kaum muslim yang mendengar kabar bahwa nabinya telah syahid menjadi down, mereka seolah-olah kehilangan pijakan. Sebagian dari mereka melarikan diri. Bisikan setan yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati masuk ke hati mereka. Anas bin Nadhar yang melihat beberapa kaum muslimin tengah duduk disaat perang tengah berkecamuk menghampiri mereka dan bertanya: “Apa yang kalian lakukan di sini?!”

“Duhai Anas, Rasulullah telah mati. Lalu apalagi yang bisa kita lakukan?” Tanya salah seorang diantara mereka

“Demi Allah! Jika benar Rasulullah telah mati, maka matilah kalian sebagaimana beliau mati!” bentak Anas bin Nadhar. Kemudian ia kembali ke dalam pertempuran hingga ia pun syahid ditangan pasukan kuffar.

Karena Hal ini Allah menurunkan ayat: "Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan berbalik ke belakang (murtad)?, Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun." (QS.Al-Imran: 144)

Pasukan kaum muslimin mundur. Rasulullah dibantu para sahabat memasuki sebuah celah dibukit itu. Gigi seri bagian kanan bawah Rasulullah retak, pelipis dan pipinya berdarah. Pecahan-pecahan logam sebesar cincin menancap di dagingnya. Maka, mereka berhenti sebentar dan Abu Ubaydah mengeluarkan pecahan logam itu satu-persatu dengan giginya. Luka-luka itu kembali berdarah. Malik dari Khazraj menyedotnya dan kemudian menelannya. Nabi bersabda: “Barangsiapa darahnya menyentuh darahku, api neraka tak akan menyentuhnya.”

Fatimah membersihkan luka Rasulullah, namun darahnya tak juga berhenti, akhirnya dia membakar pelepah dan menggunakan abunya untuk menghentikan darah yang mengalir.

"Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung sedang mereka memperlakukan nabinya seperti ini, padahal ia menyeru mereka ke jalan Allah." ucap Nabi sambil mengelap darah di wajahnya.


Lalu Allah menegur Rasulullah dengan ayat: Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim." (QS.Ali Imran: 128)
 
Saat pasukan Kuffar meninggalkan medan perang, Rasulullah dan para sahabat mendatangi  medan perang untuk mencari jasad kaum muslim. Dan betapa teriris hatinya, melihat jasad para sahabat yang sudah tak lagi lengkap. Sebagian besar telinga dan hidung mereka telah dipotong. Dan ketika melihat Jenazah pamannya, beliapun menangis.

Ya!, kaum muslimin memang kalah di Perang Uhud. Ketidak tsiqohan (taat) para pasukan pemanah untuk tetap tinggal di atas bukit dan justru ikut turun mengambil ghanimah menjadi titik tolak kehancuran. Kemenangan di depan mata raib berganti luka yang mendalam tidak hanya bagi Rasulullah, tetapi juga kaum muslimin. Di Uhud, mereka kehilangan orang-orang terbaiknya. 

“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Allah mempunyai karunia kepada orang-orang yang beriman.” (QS.Al-Imran: 152)

Para Kaum Munafiqin menyalahkan Rasulullah atas peristiwa ini. Lalu Allah menurunkan ayat tentang mereka: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka Bumi atau berperang: "Seandainya mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak akan mati dan tidak akan terbunuh." Allah akan menimbulkan rasa penyesalan di dalam hati mereka karena sikap yang demikian itu. Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS.Al-Imran: 156.)

Betapa banyak ‘ibrah yang dapat diambil dari kisah Perang Uhud ini. Tentang sikap, sifat kaum munafik, tentang ke tsiqohan kepada pemimpin, tentang kesabaran dalam menghadapi musibah. Karena perang Uhud pula, aum muslimin mengalami kemenangan-kemenangan pada perang selanjutnya, dan banyak hal lain yang seharusnya bisa kita dapatkan dengan mempelajari Sirah Nabi.

Wallahu a’lam bishowab


Perang Uhud Part I

Perang Uhud terjadi pada bulan sya'ban tahun ke 3 Hijriah. Dilatarbelakangi atas kekalahan kaum kuffar Quraisy pada Perang Badar Kubra. Dibantu dengan harta yang besar kafilah dagang Abu Sufyan, dan didukung oleh Al-Habisy (suku-suku di sekitar mekah yang terlibat perjanjian dengan kaum Quraisy) mereka membentuk pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wasallam. Dalam Perang Uhud, tidak hanya kaum laki-laki saja yang turut berperang, melainkan kaum wanita pun juga ikut, mereka di pimpin oleh Hindun bin Utbah untuk memberi semangat pasukan kuffar, dan juga bertugas menghalau apabila ada pasukan kuffar akan melarikan diri. Saking dendamnya kepada kaum muslimin, Hindun bahkan sengaja menyuruh Habsyi (budak Habasyah yang terkenal pandai menombak) untuk membunuh Hamzah, paman Nabi untuk mwmbalas dendam kematian pamannya, Thu'aimah bin Adi.

Mendengar kabar itu, Rasulullah segera melakukan musyawarah dengan kaumnya. Rasulullah bersabda:
"Jika kalian mau, tetaplah tinggal di Madinah dan biarkan mereka di tempat mereka kini berada. Jika mereka di tempat itu, maka ia menjadi tempat yang paling buruk bagi mereka. Jika mereka menyerang balik kita, maka kita akan menyerangnya dari dalamnya."

Ya, Rasulullah memang lebih condong agar kaum muslimin tetap tinggal di Madinah, menunggu kaum kuffar datang menyerang, dan hal ini didukung oleh golongan tua, yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul, salah satu pemuka/pemimpin kaum yahudi pada masanya. Tapi golongan muda dan mereka yang waktu itu tidak berkesempatan untuk mengikuti Perang Badar, mereka protes dan mendesak agar mereka lebih baik menyerang kaum kuffar di tempat mereka berada, agar kaum muslimin tidak cap sebagai orang yang pengecut. Mendengar itu Rasulullah masuk ke dalam rumah dan memakai rompi perangnya. Menurut Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq syarah Ibnu Hisyam, waktu itu adalah hari jum'at, dan ada seorang kaum Anshar yang bernama Malik bin Amr wafat, beliau keluar setelah menshalatinya.

Melihat Rasulullah keluar dari rumah dengan rompi perangnya, para golongan muda yang tadi meminta untuk keluar dari Madinah dan menyerang pasukan musuh yang berjumlah 3000 orang, mereka menyesali apa yang mereka lakukan. Mereka berkata: "Kita telah lancang memaksamu untuk keluar, dan itu tidak sepatutnya kami lakukan. Bila mau silahkan duduk kembali, mudah-mudahan Allah mencurahkan shalawat kepadamu."

Kemudian Rasulullah Salallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Apabila seorang Nabi telah mengenakan rompi perang, maka tidak patut baginya melepaskannya kembali, hingga ia berperang." (HR. Bukhari)
Rasulullah pun berangkat dengan 1000 kaum muslimin. Ketika mereka sudah sampai di sebuah lembah antara Madinah dan Uhud, kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul yang berjumlah 300 orang berpaling/melarikan diri dan kembali ke Madinah. Abdullah bin Amr bin Haram menyuruh agar Pasukan  munafik itu kembali, tapi tidak dihiraukan oleh mereka. Abdullah bin Ubay bin Salul berpaling dengan alasan karena Rasulullah tidak mau mendengarkan usulnya untuk tetap tinggal dan lebih memilih usulan golongan muda. Akhirnya, dengan 700 pasukan yang tersisa, termasuk diantaranya adalah 50 pasukan pemanah, mereka melanjutkan perjalanan untuk berperang di Gunung Uhud.


to be continued

Senin, 01 Juni 2015

Tentang Menasihati Saudara Kita

Ahad sore, ditengah hutan, ditemani rintik hujan. 

Sedang santai-santainya jalan sembari menggandeng tangan teman yang tengah kesakitan, kami bertemu segerombolan anak cowok sesama pendaki yang sedang jongkok mengerubungi carriernya. Mereka membelakangi jalan setapak yang akan kami lalui. 

Niatnya mau sekedar basa-basi negur atau numpang permisi seperti yang biasa dilakukan oleh umumnya pendaki ketika saling mendahului, eh kami malah dihadapkan dengan 'pemandangan' yang kurang menyenangkan. 

Sorry to say, tapi emang kebanyakan cowok suka kali ya make celana diplorotin ke bawah -_-". 

Dan dengan bodohnya, bukannya diem aja trus langsung permisi dari situ, ini mulut malah berkhianat dengan menggelontorkan kata;
"Mas celananya"
*sambil nyelonong dan nyaris membekap mulut sendiri. 

Krik krik krik

Mereka diam, tidak melanjutkan aktivitas mereka, dan kita berdua pun berusaha pergi menjauh secepat mungkin, meskipun itu sia-sia karena orang di sebelah hanya bisa tertatih, berjalan pelan menapaki setiap anak tangga. 

Tak lama tawa mereka pun pecah

"Celengan." Ujar salah seorang dari mereka

"Dia mah orangnya gitu teh"

Ish Ish Ish... entah apalagi yang mereka ucapkan. 

"Gue salah ya ngebilangin?" tanyaku ke teman di sebelah. Dia cuma cengar-cengir nahan sakit kakinya, sementara gue pingin nyari cangkul dan ngumpet dalam tanah saat itu juga, sampe mereka pergi. 

Yah, silahkan salahin atau benerin kakak gue. Karena kelakuan gue yang begini ini ya karena dia juga. Dulu setiap pergi sama dia, dan ngeliat cewek pakai celananya melorot dan memamerkan 'perhiasannya' (entah di motor, di pantai, atau dimana pun) biasanya dengan sok polosnya akan disamperin dan dikasih tahu secara langsung olehnya. 

Pernah suatu ketika gue dan dia naik motor, kami melihat celana seorang wanita melorot, sementara kaos ketat yang terbungkus jaket mininya naik, sehingga auratnya terbuka, kakak langsung mensejajarkan motornya dan memberitahukan hal itu kepada orangnya langsung. 
"Mbak, celananya melorot." Orang itu dan pasangannya pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

"Ya jujur kan lebih baik, dari pada dia malah malu sendiri." begitu menurutnya.

Gue rasa dia benar, dan selagi bisa, gue juga mencoba untuk mengingatkan tentang hal-hal sepele semacam itu jika Allah beri kesempatan. Melihat situasi dan kondisi juga tentunya, nggak mungkin juga kan di depan umum negor orang?. Nggak sopan namanya. Menegur atau mengingatkan orang kan juga ada adab-adabnya, dan salah satunya adalah tidak di depan umum, agar orang itu tidak tersinggung dan merasa terhina atas teguran kita. 

Iya lho, sehalus apapun kita mengingatkan orang, tapi kalau dilakukan di depan umum, itu sama artunya dengan melempari dia dengan sebuah kotoran, tapi kalau dilakukan face to face, pasti lebih mak jleb! 

Meskipun awalnya gue juga sempet protes sama kakak gue, dan awalnya juga gue ragu-ragu buat negor orang yang begitu, pokoknya serba nggak enaklah. Tapi setelah dipikirkan lagi dengan seksama, kalau setiap kali ada orang yang salah di jalan, dan kebetulan kita yang ngeliat tapi kita nggak negor atau ngingetin, kok jadi kayak gimana gitu. Padahal bisa jadi orang itu mengulangi kesalahan yang sama bukan karena sengaja, melainkan karena selama ini nggak ada yang ngingetin atau ngasih tahu dia bahwa yang sedang dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan.

Sebagai contoh lagi, sesuatu yang sering gue alami di sekitar gue. Ada ibu-ibu atau mba-mba yang berjilbab tapi pakaiannya alamak jang. Secara naluriah pasti gue pribadi ikutan melotot dan beristighfar, pingin ngingetin orang itu segera. Tapi sayangnya orang-orang begini ketemunya di tempat ramai seperti halte, pasar, dan stasiun. Gue sendiri karena ngerasa nggak bisa ngingetin akhirnya memilih diam dan mencoba mencari pemandangan lain, tapi nggak jarang juga yang malah bisik-biaik membicarakan penampilan ibu tersebut. 

Mengingat seringnya momen untuk mengingatkan saudara seiman di tempat umum sering terlewat, sekarang gue pun selalu membawa alat tulis di dalam tas, jadi nggak ada alesan untuk tidak mengingatkan saudara kita yang mungkin khilaf. Dengan begitu juga, berharap semoga Allah juga akan selalu mengingatkan gue sebagai hamba-NYA yang dhoif yang sering banget khilaf ini dengan berbagai cara. 

"Eh itu jangan-jangan orang yang tadi gue tegur ya mbe?" tanyaku kepada teman yang sakit tadi. 

"Lah iya, emang lo baru sadar?."

"Iya, gue mana tahu kalau itu mereka, ngeliat mukanya juga kagak, pantes dari tadi mereka pada senyam-senyum nggak jelas setiap mereka lewat duluan atau kita gantian melewati mereka."

Kami pun melanjutkan perjalanan. Langit sudah semakin gelap. Tidak ada cahaya rembulan, tidak ada gemerlap gemintang, hanya ada cahaya headlamp yang talinya sudah copot, dan senter yang sinarnya semakin lama semakin meredup, pertanda bahwa batrenya tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi. Tidak ada yang tersisa di dalam tas, kecuali bersachet-sachet madu rasa jeruk. 

Masih tentang Mt. Gede via Cibodas kala itu. 

Sabtu, 23 Mei 2015

Rohingnya: Bukan antara Budha dan Islam, tapi...

Tentang Rohingnya: Ini bukan tentang Budha, tapi tentang seorang biksu radikal yang mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya agar mau turut membantai umat muslim Rohingnya di Myanmar sana. Bedakan!

Sakit dan perih, ketika mengetahui bahwa saudara-saudara seiman etnis Rohingnya di Myanmar harus dibantai, bahkan sampai harus melarikan diri dari kebrutalan para biksu radikal. Para pelarian itu jumlahnya tak sedikit, puluhan, bahkan ratusan. Setelah beberapa lama terombang-ambing di tengah laut, ditolak sana-sini (Thailand, bahkan Malaysia yang notabene juga negara yang nilai keislamannya bisa dibilang kuat), dan yang terakhir Indonesia, negara yang katanya mayoritas penduduknya adalah muslim (meskipun saat ini Pemerintah Indonesia menerima sementara para pengungsi). Meskipun pemerintah sempat menolak para pengungsi, rakyat Aceh justru menerima dengan tangan terbuka para pengungsi itu.

Malu kepada Turkye, yang dengan suka relanya mengirimkan armada AL untuk menjemput para pengungsi, bahkan kabarnya mereka juga sudah menyiapkan 200.000 tempat untuk pengungsi.

Kecewa, kepada para agen perdamaian dunia, atau mereka yang telah menerima nobel perdamaian tapi hanya bungkam setiap melihat muslim tertindas. Ke mana mereka, orang-orang yang kemarin berteriak-teriak HAM?. Ketika melihat narapidana mati terkait kasus Narkoba yang akan dieksekusi beberapa waktu yang lalu, dunia seakan-akan heboh, bahkan mereka sampai dibuatkan surat terbuka oleh salah satu artis negeri ini, kematiannya seolah-olah adalah sebuah kesalahan dan kejahatan. Tapi ketika melihat kematian saudara-saudara muslim Rohingnya, Pembantaian terhadap saudara-saudara kita di Suriah oleh Rezim Assad, atau pembantaian besar-besaran terhadap muslim di Afrika Tengah sana, Dunia justru bungkam, seolah-olah kejahatan itu adalah sebuah kebenaran, sehingga mereka tidak perlu lagi repot-repot membela hak asasi manusia.

Majalah Time dan media-media barat mengatakan, bahwa si biksu Ashin Wirathu adalah Osamah bin ladennya Budha, seolah mereka sedang menggiring opini publik untuk mempercayai bahwa kiblat teroris adalah Osamah bin laden, yang notabenenya seorang muslim, atau secara tidak langsung, Barat ingin menyatakan bahwa Islam adalah Teroris!

Tapi ada lagi yang tak kalah membuat miris. Yaitu ketika membaca komentar-komentar beberapa orang di dunia maya. Beranda saya dipenuhi dengan ucapan kegeraman karena saudara seiman mereka terluka. Tentu ini hal yang wajar, karena setiap muslim adalah saudara, dimana jika ada salah satu dari mereka yang sakit, maka yang lain pun merasakannya, jadi mereka memang berhak marah, bahkan murka, tapi tidak harus dengan cara mengeluarkan kata-kata yang sarkastik.

Komentar-komentar yang beberapa waktu belakangan muncul di beranda Facebook saya:
"Si botak ini nih yang aslinya teroris."

"Alah, agama Budha cuma baik di tipi-tipi doang, aslinya mah mereka pembunuh."

"Cuma Biksu Tong di film Kera Sakti aja tuh biksu baik, aslinya mah..."

Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang menurut saya tidak pantas di ucapkan. Entah apa yang ada di dalam benak mereka, hingga kalimat-kalimat seperti itu muncul. Apakah mereka tidak berfikir bahwa yang botak itu bukan hanya biksu-biksu itu?, bukannya laki-laki yang sepulang umroh dan haji juga biasanya mencukur rambut mereka, bahkan tak jarang juga yang membotakkan kepalanya?

Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah...

Pada dasarnya semua agama mengajarkan kasih sayang. Islam, Budha, Kristen, dan lainnya, semua sama mengajarkan kebaikan. Jika ada yang salah atau menyimpang, jangan lantas men-judge bahwa Budha, Kristen, Islam, atau agama manapun salah, yang salah adalah perorangannya, pemeluknya!

Coba bayangkan, seandainya pembantaian itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya adalah muslim?, bukankah nantinya juga akan menyakitkan untuk umat muslim karena Islam yang dicela hanya karena perilaku segelintir orang?, bukankah kita juga tidak mau di judge seperti itu?, bukankah sudah jelas juga bagaimana Firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Hujarat:11)

Coba lihat lingkungan sekitar, bukankah ada dari mereka yang selama ini, meskipun berbeda namun mereka tetap bisa menjaga hubungan agar tetap rukun dan damai satu sama lain?

Pun sejauh ini saya memang belum bisa membantu apa-apa, hanya do'a, semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagi setiap hamba-NYA di mana pun mereka berada.

Jangan mudah terpancing dan latah ikut mencela, karena bisa jadi, momen seperti ini akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah kedamaian yang selama ini sudah terjalin di Indonesia. Jangan sampai.

Wallahu a'lam bishawab... 

Selasa, 19 Mei 2015

About "Warriors Area" : May Our Friendship never Die

Karena SMP gue dulu jauh dari rumah dan angkot beroperasi cuma sampe sore, jadi gue gak bisa ngikut ekskul selama SMP, padahal gue udah ngincer pramuka waktu itu. Makanya pas SMA, karena jarak rumah-sekolah sangat dekat, gue pun balas dendam dengan mengikuti semua ekskul yang ada. Mulai dari Pramuka, OSIS, PMR, sempet ikut Voli juga meskipun hingga lulus gue gak bisa main voli dengan benar, beberapa kali ikut Qiro'ah yang na'asnya gue tetep kagak bisa ngaji dengan indah sampai ekskul itu gak berjalan lagi, dan di penghujung waktu yang tersisa gue ikut pencak silat (meskipun baru mengenal beberapa jurus yang mana sekarang gue udah lupa apa aja namanya).

Di tahun pertama gue cuma aktif di Pramuka dan PMR, Qiro'ah, waktu itu OSIS gue belum berhasil lolos seleksi, mayoritas pengurus OSIS memang anak-anak Paskibraka, yang notabenenya bertubuh tinggi menjulang, bukan makhluk imut-imut semacem gue ini, belum lagi kamampuan gue untuk berorasi dan berargumentasi di bawah standar, itu semua gue yakini sebagai faktor utama yang menyebabkan gagalnya gue dalam proses seleksi. Anak paskib memang banyak yang masuk OSIS tanpa harus menghadapi serangkaian seleski dan birokrasi berbelit. Barulah di tahun kedua gue mendaftar lagi dan aktif di OSIS.

Alhamdulillah nya di sekolah gue ekskulnya gak banyak, kalau ada mungkin gue bakal cobain satu-satu. FYI, di sekolah gue gak ada yang namanya Rohis.

Ngomong-ngomong berorganisasi,gue punya sahabat-sahabat kece selama selama berada disebuah kepengurusan. Karena Mayoritas pengurus OSIS, Pramuka, PMR adalah orang yang sama, jadi ya komunikasi intens sama orang itu-itu juga.

Banyak sebenernya kalau ngeliat struktural, hanya saja, seringnya dengan orang-orang inilah gue menjalankan kehidupan di sekolah:

Harto Gunari: Biasa dipanggil gugun. Si Ketua OSIS, sekaligus Pradana (ketua pramuka) dan juga ketua kelas saat kelas X. Si cuek yang ngeselin, humoris, terkadang cildish tapi juga sewaktu-waktu bisa jadi orang paling tua sedunia, disaat-saat seperti itulah dia cocok buat diajak diskusi, selain itu? NO! atau lo bakal tersesat. Suka ngomong tanpa ayakan, cenderung terlalu polos yang disengaja. Hobinya ngeles dan sering pura-pura galau atau bikin geer anak orang, pemikirannya juga susah ditebak. Orang yang akan tahan banting dari gelitikan ketika dia sedang tidak ingin geli, tapi akan blingsatan seperti cacing kepanasan ketika dia bilang sedang geli. Sungguh orang yang aneh!. Setelah lulus kita memang jarang komunikasi, tapi kadang gue sama yang lain suka nyamperin ke rumahnya, meskipun ujung-ujungnya dia kagak di rumah.  Ish...  tapi alhamdulillah dia telah melepas kegalauannya sekitar tahun 2014 kemarin dengan menikahi bidadari pilihannya. #eaaa

Doni Prasetyo Utomo: Gue kenal dia sejak SMP, kita pernah satu kelas waktu kelas VII. Anak pak polisi ini menjabat sebagai wakil ketua OSIS (kalau gak salah) dan di pramuka dia jadi sekertarisnya (kalau gak salah juga). Pernah gabung di PMR meskipun akhirnya gak aktif. Jangan ditanya seberapa encer otak dia, yang jelas dia biasa menjadi juara umum. Sosok yang relijius dibandingkan personil yang lain. Dia juga lawan yang tangguh buat berantem dan berdebat, kalau lagi debat sama dia, bikin gontok dan pingin nelen orang hidup-hidup. Saat ini do'i tengah fokus berkarir di Angkatan Laut dan menjadi orang paling sombong sedunia. Mungkin karena di tengah laut kagak ada sinyal, jadi kagak pernah ngasih kabar ke temennya ini. hiks.

Hendrawan Dwi Harsono : Bejo nama bekennya. Si jangkung yang satu ini juga anak paskib. Koordinator Sie Pendidikan Pendahuluan Bela Negara waktu di OSIS, di pramuka entah sebagai apa, mungkin tukang ngusir preman?,  ah bukan, itu pekerjaan gue. Dulu meskipun suka ngeyel, tapi do'i juga nurut kalau dikasih masukan. Soulmate (teman berantem) sekaligus partner in crime buat bolos di hari senin dengan dalih ngurusin anak yang pada bolos Pramuka hari sabtu, tiga tahun berturut-turut menempati kelas yang sama dengannya. Hobinya main komputer dulu. Nah dia ini paling bisa ngebully orang, sebelas-dua belas sama gu2n dan kicik. Gak ada yang lebih nyebelin dari dia selain karena temennya kebanyakan orang seblek, dan entah kenapa dia sering banget digosipin (deket) sama cewek-cewek, maksud gue, dia jadi sok kayak casanova gitu.
Selain sibuk dengan cewek dan mobilnya, entah apalagi pekerjaannya saat ini. Karena belum lama dia baru lulus kuliah.

M. Qornul Manazil: Dia itu teman sekaligus musuh. Tiada hari tanpa berdebat dan berantem sama dia (bukan cuma gue ya). Pokoknya, setiap kali dia bilang iya, maka gue dan rekan cewek akan bilang tidak, begitu terus, pokoknya kita nyaris selalu bertolak belakang. Playboy cap teri yang selalu bikin rame dengan banyolan-banyolan yang seringkali mengandung hal-hal mesum. Jangan tanya berapa seringnya kita gontok-gontokan, tapi itu cuma sementara, setelah kesandung pasti lupa. Sebenernya dia itu baik, hanya seringkali dia itu tengil dan suka TP-TP, apalagi sama adik kelas.
Mungkin saat ini do'i lagi sibuk ngemong anak-anaknya. Entah sudah berapa permata hatinya saat ini, yang jelas si playboy cap teri pun menikah tak lama setelah lulus sekolah. hehehe.

M. Mustofa: Koordinator Sie Kerohanian. Di acara apapun, ya dia ini pak ustadz nya. Rekan seperjuangan di Qiro'ah juga selain di OSIS dan Pramuka. Kalau ngomong sering muter-muter gak jelas, bikin keder orang yang belum mengenalnya. Gak bbanyak tingkath, tapi kalau lagi galau, udah kayak babon abis lahiran, galak dan bikin gue pingin nyambit pake sendal. Sebenernya dia dan Nazil ini juga temen SMP gue, cuma kita kagak pernah satu kelas, jadi ya masa bodo. Barulah di SMA kita dipersatukan. Halah. Setelah menikah di tahun 2014 kemarin, gue emang belum komunikasi lagi sama dia. Tapi sebelumnya dia memang sibuk dengan bisnis prophertynya.

Prayoga Fatahillah/Kicik: Setiap ada Nazil, maka secara otomatis di situ juga ada Kicik, dan Mustofa juga sih kadang-kadang. Kalau lagi bareng-bareng mereka lebih mirip pasangan aneh. Si kicik ini orang yang gak kalah unik dengan hemmi, dia lebih sering dijadikan sebagai obyek bullyan, dan dengan senang hati biasanya dia akan tertawa-tawa ketika hal itu terjadi. Jangan salah ya, biar gitu-gitu juga kicik ini termasuk orang yang sangat bisa di andalkan lho. Apalagi kalau kita lagi prepare buat acara sekolah, cowok-cowok inilah yang pada nginep. Gue dan cewek-cewek nya paling banter ba'da maghrib udah pada balik. Kecuali pas kemah atau sedang cari rute buat diklat, gue wajib ikut.
Si kicik ini yang ngebawa kabur Doni sebelum doni berlayar awal tahun 2015. Alhasil, setiap kali janjian mau ketemu sama Doni, pasti dia lagi bareng sama kicik. Ke Tanah abang lah, ke Tangerang lah, ke Kota tua malem-malem. Hadeuhhh kicik racun... anak baik-baik diajak klayapan terus. Ya Maklumlah, cuma kicik soulmatenya yang tinggal di jekardah.

David Yoga Hardiyanto: Sekilas namanya mirip pak Hadi, Pembina Pramuka pertama yang tercinta sekaligus guru mapel kesenian. Entah sejak kapan, karena sebelumnya David ini kurang aktif di sekolah, yang jelas seinget gue, tiba-tiba dia sudah menjadi partner gue saat apel dan upacara pramuka. Yaks, Gue sebagai pembaca Tri Satya dan David sebagai pembaca Dasa Dharma pramuka. Meskipun kita kagak terlalu akrab karena do'i anak IPA, tapi hampir disetiap kegiatan dia menjadi orang yang selalu bisa diandalkan, terlebih saat KPTA di pagilaran waktu itu. Kalau pos to pos, Dia biasa di tempatkan di pos kerohanian. Sekarang entah apa kesibukannya, gue pikir dia jadi pak guru.

Istika Nursari Utami : Cewek jangkung yang bisa dibilang cukup dikenal oleh penghuni sekolah ini adalah temen SD sekaligus temen sekelas gue. Lupa jabatan dia di OSIS sebagai apa, yang jelas dia ini Pradani (ketua putri) Pramuka. Dikenal juga sebagai playgirl yang hobi TP-TP ke siapa aja. Temen berantem cewek yang akan kegirangan ketika berhasil ngebully gue. Keganjenannya itu sering banget gue protes dan berhasil bikin kita ribut. Yang paling rese adalah ketika dia pake nama gue buat ijin ke neneknya pas mau pacaran, dan tanpa ijin ke gue sebelumnya.
Setelah petualangannya selama bertahun-tahun di ibukota, akhirnya dia kembali ke kamhal. Dibandingkan dengan kami, dialah yang paling kaya. Karena anaknya sudah dua. hahaha

Anita Setiani : Kalau cowok ada doni, cewek ada Nita. Mereka sama-sama anak IPA, meskipun kagak sepinter doni juga sih. Eh, Nazil juga IPA ding. Kalau gue ini emak di pramuka, dia ini emaknya anak-anak OSIS. Butuh duit?, ya minta aja ke kita. Si keras kepala yang paling susah kalau dikasih tahu, apalagi kalau menyangkut tentang hubungannya dengan mantan kekasihnya. Seseorang yang ngakunya vegetarian tapi tetep doyan ayam kalau udah berbentuk bukan ayam lagi, misalnya risole ayam. Aneh kan?, emang!. Makanya gue sering ngatain dia Vegetarian palsu. Paling gak doyan sama susu putih, tapi kalau dipaksa tetep mau juga. Karena anak semata wayang jadi kepekaannya kurang. Terkadang karena hal sepele bisa jadi ribut sama dia. Yah pokoknya ngalah terus deh sama dia mah.
Alhamdulillah sekarang dia sudah menikah dan dikaruniai seorang bayi tampan bernama Nabil. Dan coba tebak siapa suaminya?
Ahaha, mantan kakak kelasnya yang pernah pedekatein dia waktu SMP. Kak Andhika. Orang yang irit omong. Gue pertama ngeliat dan dikenalin sama dia pas lagi ada kemah, waktu itu gue malah gak sengaja melengos pas dia ngajak salaman, hal itu sukses bikin nita manyun-manyun. Lah, padahal salah dia kan, yang ngajak kenalan kayak orang lagi komat-kamit. mana gue tahu!

Hemmy Aristina : Mrs. Humoris yang hampir disetiap momen saat perkemahan, mencari jejak, jerit malam, selalu satu pos dengan gue dan doni. Iyuh, biasanya kita bertiga dapet jatah di pos kedisiplinan, dan lokasinya gak pernah jauh-jauh dari tempat horror yang biasa disebut dengan kuburan. Dia ini cewek yang paling mempunyai jiwa keibuan dibandingkan kami. Meskipun ngocol, tapi dia tetap selalu menjaga sopan santun, tutur bahasanya juga halus. Mungkin karena dia punya gen darah keraton, bapak-ibunya juga sangat halus saat berbicara.
Dia bisa berubah menjadi orang yang tegas, kemudian ngocol, kemudian galak, dalam waktu yang singkat. Yang jelas dia adalah pribadi yang hangat, supel, dewasa, cekatan, dan bisa diandalkan dalam banyak hal. Dia juga termasuk anak yang cerdas di jurusan IPS, meskipun tidak terlalu menonjol. Jago Volly seperti nita dan fari, juga pandai membaca puisi. Yang gak enak dari dia adalah, paling susah di kepoin, apalagi disuruh curhat, lebih seneng memendam perasaannya ke kita-kita. Barulah setelah lulus sekolah dia mau ngobrol ini-itu. Sekarang dia sedang hamil muda lho... do'ain semuanya baik-baik saja ya...

Fari Rosa Sylviani Fauzi : Penggemar anaknya pak fauzi ini juga gak sedikit. Cantik, kaya, anak paskib, membuatnya cukup famous bagi warga sekolah. Selalu terkesan acuh tak acuh terhadap orang, terutama lawan jenis yang tidak dikenalnya. Pun gue baru deket sama dia dan nita saat mengikuti ekskul voly, dan di tahun ke dua ternyata gue sekelas sama dia, di osis dan pramuka pun kita satu kepengurusan, jadilah kita sering pergi bareng kemana-mana. Bersamanya jugalah hampir setiap jum'at sepulang sekolah kita berwisata kuliner di pasar doro. Berpindah-pindah tempat untuk mencicipi makanan setiap minggunya. Dan Bakso Kerikil terminal pun menjadi lokasi favorit kita, dengan catatan fari lah yang membayar tagihannya. Hehehe.
Well, punya teman famous itu nyebelin juga, maksud gue, gue capek setiap ada yang nanya ini dan itu ke gue. Kenapa coba pada gak gentle dan nanyain hal-hal yang pingin mereka tahu ke orangnya langsung?  kan biar mereka puas dan gak bawel ke gue. Mama-Papanya juga baik, tidak pernah alpa untuk memberikan oleh-oleh ketika pulang ke rumah. Papanya yang insinyur itu memang sibuk di kalimantan. Jadilah setiap ada acara di rumahnya, mamanya yang akan menyambut kami dengan suka cita. Yang bikin gak betah itu kalau manja, keras kepala, dan ambekannya lagi kumat, dih... ngegemesin bener... bikin pingin nyubitin pake tang. Saat ini dia masih dibuk kuliah dan... pacaran!


Masih adalagi sih soulmate-soulmate jaman berorganisasi di SMA
Ada Kartini si wonder woman,  Bagus Pambudi si calm yang senantiasa bersedia membantu kapan saja ketika dimintai pertolongan, Suby yang tangguh dan cerewet, Tyo yang meskipun suka ngedumel tapi tetap mau membantu, dll nya

Kalian selalu punya tempat tersendiri di hatiku

#Eaaa

Jangan lupain gue ya guys,
sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan kita, selalu inget gue dalam do'a-do'a kalian...

Kamis, 07 Mei 2015

Ketika Gebetan Menikah; Berarti Bukan Jodoh. Udah Gitu Aja!

Mending Main layangan apa main Hati?

Main layangan mah jelas, narik-ulur benang
Main perasaan, yang ditarik-ulur bukan benang lagi,  tapi udah main hati

Jiahhh, hati lagi... hati lagi, salah terus dah yak?

Jadi, elo (gue) atau siapapun yang udah berani mainin hati
Flirting-flirting-in anak orang dan dijadiin gebetan
Ngasih - ngasih harapan tanpa kejelasan
Narik-ulur hati kayak layangan dalam waktu berkepanjangan

Jangan sakit hati, marah dan kecewa pula,
Kalau suatu saat nanti mainannya lepas dan diambil orang lain
itu sudah resikonya

Jangan salahkan bapak-Ibu mu
Jangan juga salahkan takdir yang belum memihakmu
Karena, seseorang yang kamu jadiin mainan itu, lambat laun, mereka juga akan menyadari bahwa ternyata selama ini mereka hanya tinggal di dunia khayalan
Dunia yang menawarkan berjuta keindahan namun ternyata hanya hal-hal semu yang didapatkan

Gebetan-gebetanmu itu...
Mereka juga manusia biasa yang membutuhkan kepastian, bukan janji-janji palsu!
Mereka juga pasti akan lelah dan jenuh jika terus ditarik ulur
*Lu kate kampanye apa?!
#ehh

Jangan marah dan menyalahkan siapapun!

Hadapi kenyataan bahwa kau (aku) Salah dan Kalah
Hiduplah sebagaimana kau (aku) hidup sebelum merasakan sakit karena ulahmu (ku) sendiri

Sebagaimana anak-anak di Afghanistan yang berlomba menerbangkan layangan, ketika benang layangan itu putus dan terbang bebas,

maka mereka harus mengikhlaskan layangan itu untuk dimiliki oleh orang lain yang berhasil memutuskan benang layangan mereka ketika laga berlangsung

Siapapun yang berani memulai, juga harus berani mengakhiri
Sesakit apapun itu!

Buat elo (gue), dan elo (gue lagi), yang mungkin saat ini sedang patah hati, terluka, kecewa, merana karena seseorang yang lo harepin itu akan atau sudah menjadi milik orang lain, Keep strong, Keep fight and just Move on!

Gak usah pacaran kalau emang gak mau sakit hati
Jangan PHP in anak orang kalau emang belum siap dan gak mau suatu saat nangis-nangis karna ditinggal nikah
dan bersyukurlah kalian para jomblo-jomblo berkualitas,
Yang senantiasa memperbaiki diri dalam perjuangan dan penantian

Kita gak berhak nyalahin siapapun atas setiap peristiwa yang kita alami, kita hanya perlu percaya bahwa Ketetapan-NYA adalah yang terbaik. Dan mengambil hikmah dari hal itu, agar kita tidak melakukan hal yang sama.


*PS: Gue biasa ngeliat orang yang patah hati
Nangis-nangis sambil mikirin sang mantan
Tapi belakangan ini gue baru tahu, kalau dampak ditinggal nikah itu bisa membuat seseorang menjadi menyebalkan sekaligus mengenaskan disaat yang bersamaan!



PHP