Senin, 01 Juni 2015

Tentang Menasihati Saudara Kita

Ahad sore, ditengah hutan, ditemani rintik hujan. 

Sedang santai-santainya jalan sembari menggandeng tangan teman yang tengah kesakitan, kami bertemu segerombolan anak cowok sesama pendaki yang sedang jongkok mengerubungi carriernya. Mereka membelakangi jalan setapak yang akan kami lalui. 

Niatnya mau sekedar basa-basi negur atau numpang permisi seperti yang biasa dilakukan oleh umumnya pendaki ketika saling mendahului, eh kami malah dihadapkan dengan 'pemandangan' yang kurang menyenangkan. 

Sorry to say, tapi emang kebanyakan cowok suka kali ya make celana diplorotin ke bawah -_-". 

Dan dengan bodohnya, bukannya diem aja trus langsung permisi dari situ, ini mulut malah berkhianat dengan menggelontorkan kata;
"Mas celananya"
*sambil nyelonong dan nyaris membekap mulut sendiri. 

Krik krik krik

Mereka diam, tidak melanjutkan aktivitas mereka, dan kita berdua pun berusaha pergi menjauh secepat mungkin, meskipun itu sia-sia karena orang di sebelah hanya bisa tertatih, berjalan pelan menapaki setiap anak tangga. 

Tak lama tawa mereka pun pecah

"Celengan." Ujar salah seorang dari mereka

"Dia mah orangnya gitu teh"

Ish Ish Ish... entah apalagi yang mereka ucapkan. 

"Gue salah ya ngebilangin?" tanyaku ke teman di sebelah. Dia cuma cengar-cengir nahan sakit kakinya, sementara gue pingin nyari cangkul dan ngumpet dalam tanah saat itu juga, sampe mereka pergi. 

Yah, silahkan salahin atau benerin kakak gue. Karena kelakuan gue yang begini ini ya karena dia juga. Dulu setiap pergi sama dia, dan ngeliat cewek pakai celananya melorot dan memamerkan 'perhiasannya' (entah di motor, di pantai, atau dimana pun) biasanya dengan sok polosnya akan disamperin dan dikasih tahu secara langsung olehnya. 

Pernah suatu ketika gue dan dia naik motor, kami melihat celana seorang wanita melorot, sementara kaos ketat yang terbungkus jaket mininya naik, sehingga auratnya terbuka, kakak langsung mensejajarkan motornya dan memberitahukan hal itu kepada orangnya langsung. 
"Mbak, celananya melorot." Orang itu dan pasangannya pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

"Ya jujur kan lebih baik, dari pada dia malah malu sendiri." begitu menurutnya.

Gue rasa dia benar, dan selagi bisa, gue juga mencoba untuk mengingatkan tentang hal-hal sepele semacam itu jika Allah beri kesempatan. Melihat situasi dan kondisi juga tentunya, nggak mungkin juga kan di depan umum negor orang?. Nggak sopan namanya. Menegur atau mengingatkan orang kan juga ada adab-adabnya, dan salah satunya adalah tidak di depan umum, agar orang itu tidak tersinggung dan merasa terhina atas teguran kita. 

Iya lho, sehalus apapun kita mengingatkan orang, tapi kalau dilakukan di depan umum, itu sama artunya dengan melempari dia dengan sebuah kotoran, tapi kalau dilakukan face to face, pasti lebih mak jleb! 

Meskipun awalnya gue juga sempet protes sama kakak gue, dan awalnya juga gue ragu-ragu buat negor orang yang begitu, pokoknya serba nggak enaklah. Tapi setelah dipikirkan lagi dengan seksama, kalau setiap kali ada orang yang salah di jalan, dan kebetulan kita yang ngeliat tapi kita nggak negor atau ngingetin, kok jadi kayak gimana gitu. Padahal bisa jadi orang itu mengulangi kesalahan yang sama bukan karena sengaja, melainkan karena selama ini nggak ada yang ngingetin atau ngasih tahu dia bahwa yang sedang dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan.

Sebagai contoh lagi, sesuatu yang sering gue alami di sekitar gue. Ada ibu-ibu atau mba-mba yang berjilbab tapi pakaiannya alamak jang. Secara naluriah pasti gue pribadi ikutan melotot dan beristighfar, pingin ngingetin orang itu segera. Tapi sayangnya orang-orang begini ketemunya di tempat ramai seperti halte, pasar, dan stasiun. Gue sendiri karena ngerasa nggak bisa ngingetin akhirnya memilih diam dan mencoba mencari pemandangan lain, tapi nggak jarang juga yang malah bisik-biaik membicarakan penampilan ibu tersebut. 

Mengingat seringnya momen untuk mengingatkan saudara seiman di tempat umum sering terlewat, sekarang gue pun selalu membawa alat tulis di dalam tas, jadi nggak ada alesan untuk tidak mengingatkan saudara kita yang mungkin khilaf. Dengan begitu juga, berharap semoga Allah juga akan selalu mengingatkan gue sebagai hamba-NYA yang dhoif yang sering banget khilaf ini dengan berbagai cara. 

"Eh itu jangan-jangan orang yang tadi gue tegur ya mbe?" tanyaku kepada teman yang sakit tadi. 

"Lah iya, emang lo baru sadar?."

"Iya, gue mana tahu kalau itu mereka, ngeliat mukanya juga kagak, pantes dari tadi mereka pada senyam-senyum nggak jelas setiap mereka lewat duluan atau kita gantian melewati mereka."

Kami pun melanjutkan perjalanan. Langit sudah semakin gelap. Tidak ada cahaya rembulan, tidak ada gemerlap gemintang, hanya ada cahaya headlamp yang talinya sudah copot, dan senter yang sinarnya semakin lama semakin meredup, pertanda bahwa batrenya tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi. Tidak ada yang tersisa di dalam tas, kecuali bersachet-sachet madu rasa jeruk. 

Masih tentang Mt. Gede via Cibodas kala itu. 

Sabtu, 23 Mei 2015

Rohingnya: Bukan antara Budha dan Islam, tapi...

Tentang Rohingnya: Ini bukan tentang Budha, tapi tentang seorang biksu radikal yang mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya agar mau turut membantai umat muslim Rohingnya di Myanmar sana. Bedakan!

Sakit dan perih, ketika mengetahui bahwa saudara-saudara seiman etnis Rohingnya di Myanmar harus dibantai, bahkan sampai harus melarikan diri dari kebrutalan para biksu radikal. Para pelarian itu jumlahnya tak sedikit, puluhan, bahkan ratusan. Setelah beberapa lama terombang-ambing di tengah laut, ditolak sana-sini (Thailand, bahkan Malaysia yang notabene juga negara yang nilai keislamannya bisa dibilang kuat), dan yang terakhir Indonesia, negara yang katanya mayoritas penduduknya adalah muslim (meskipun saat ini Pemerintah Indonesia menerima sementara para pengungsi). Meskipun pemerintah sempat menolak para pengungsi, rakyat Aceh justru menerima dengan tangan terbuka para pengungsi itu.

Malu kepada Turkye, yang dengan suka relanya mengirimkan armada AL untuk menjemput para pengungsi, bahkan kabarnya mereka juga sudah menyiapkan 200.000 tempat untuk pengungsi.

Kecewa, kepada para agen perdamaian dunia, atau mereka yang telah menerima nobel perdamaian tapi hanya bungkam setiap melihat muslim tertindas. Ke mana mereka, orang-orang yang kemarin berteriak-teriak HAM?. Ketika melihat narapidana mati terkait kasus Narkoba yang akan dieksekusi beberapa waktu yang lalu, dunia seakan-akan heboh, bahkan mereka sampai dibuatkan surat terbuka oleh salah satu artis negeri ini, kematiannya seolah-olah adalah sebuah kesalahan dan kejahatan. Tapi ketika melihat kematian saudara-saudara muslim Rohingnya, Pembantaian terhadap saudara-saudara kita di Suriah oleh Rezim Assad, atau pembantaian besar-besaran terhadap muslim di Afrika Tengah sana, Dunia justru bungkam, seolah-olah kejahatan itu adalah sebuah kebenaran, sehingga mereka tidak perlu lagi repot-repot membela hak asasi manusia.

Majalah Time dan media-media barat mengatakan, bahwa si biksu Ashin Wirathu adalah Osamah bin ladennya Budha, seolah mereka sedang menggiring opini publik untuk mempercayai bahwa kiblat teroris adalah Osamah bin laden, yang notabenenya seorang muslim, atau secara tidak langsung, Barat ingin menyatakan bahwa Islam adalah Teroris!

Tapi ada lagi yang tak kalah membuat miris. Yaitu ketika membaca komentar-komentar beberapa orang di dunia maya. Beranda saya dipenuhi dengan ucapan kegeraman karena saudara seiman mereka terluka. Tentu ini hal yang wajar, karena setiap muslim adalah saudara, dimana jika ada salah satu dari mereka yang sakit, maka yang lain pun merasakannya, jadi mereka memang berhak marah, bahkan murka, tapi tidak harus dengan cara mengeluarkan kata-kata yang sarkastik.

Komentar-komentar yang beberapa waktu belakangan muncul di beranda Facebook saya:
"Si botak ini nih yang aslinya teroris."

"Alah, agama Budha cuma baik di tipi-tipi doang, aslinya mah mereka pembunuh."

"Cuma Biksu Tong di film Kera Sakti aja tuh biksu baik, aslinya mah..."

Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang menurut saya tidak pantas di ucapkan. Entah apa yang ada di dalam benak mereka, hingga kalimat-kalimat seperti itu muncul. Apakah mereka tidak berfikir bahwa yang botak itu bukan hanya biksu-biksu itu?, bukannya laki-laki yang sepulang umroh dan haji juga biasanya mencukur rambut mereka, bahkan tak jarang juga yang membotakkan kepalanya?

Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah...

Pada dasarnya semua agama mengajarkan kasih sayang. Islam, Budha, Kristen, dan lainnya, semua sama mengajarkan kebaikan. Jika ada yang salah atau menyimpang, jangan lantas men-judge bahwa Budha, Kristen, Islam, atau agama manapun salah, yang salah adalah perorangannya, pemeluknya!

Coba bayangkan, seandainya pembantaian itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya adalah muslim?, bukankah nantinya juga akan menyakitkan untuk umat muslim karena Islam yang dicela hanya karena perilaku segelintir orang?, bukankah kita juga tidak mau di judge seperti itu?, bukankah sudah jelas juga bagaimana Firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Hujarat:11)

Coba lihat lingkungan sekitar, bukankah ada dari mereka yang selama ini, meskipun berbeda namun mereka tetap bisa menjaga hubungan agar tetap rukun dan damai satu sama lain?

Pun sejauh ini saya memang belum bisa membantu apa-apa, hanya do'a, semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagi setiap hamba-NYA di mana pun mereka berada.

Jangan mudah terpancing dan latah ikut mencela, karena bisa jadi, momen seperti ini akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah kedamaian yang selama ini sudah terjalin di Indonesia. Jangan sampai.

Wallahu a'lam bishawab... 

Selasa, 19 Mei 2015

About "Warriors Area" : May Our Friendship never Die

Karena SMP gue dulu jauh dari rumah dan angkot beroperasi cuma sampe sore, jadi gue gak bisa ngikut ekskul selama SMP, padahal gue udah ngincer pramuka waktu itu. Makanya pas SMA, karena jarak rumah-sekolah sangat dekat, gue pun balas dendam dengan mengikuti semua ekskul yang ada. Mulai dari Pramuka, OSIS, PMR, sempet ikut Voli juga meskipun hingga lulus gue gak bisa main voli dengan benar, beberapa kali ikut Qiro'ah yang na'asnya gue tetep kagak bisa ngaji dengan indah sampai ekskul itu gak berjalan lagi, dan di penghujung waktu yang tersisa gue ikut pencak silat (meskipun baru mengenal beberapa jurus yang mana sekarang gue udah lupa apa aja namanya).

Di tahun pertama gue cuma aktif di Pramuka dan PMR, Qiro'ah, waktu itu OSIS gue belum berhasil lolos seleksi, mayoritas pengurus OSIS memang anak-anak Paskibraka, yang notabenenya bertubuh tinggi menjulang, bukan makhluk imut-imut semacem gue ini, belum lagi kamampuan gue untuk berorasi dan berargumentasi di bawah standar, itu semua gue yakini sebagai faktor utama yang menyebabkan gagalnya gue dalam proses seleksi. Anak paskib memang banyak yang masuk OSIS tanpa harus menghadapi serangkaian seleski dan birokrasi berbelit. Barulah di tahun kedua gue mendaftar lagi dan aktif di OSIS.

Alhamdulillah nya di sekolah gue ekskulnya gak banyak, kalau ada mungkin gue bakal cobain satu-satu. FYI, di sekolah gue gak ada yang namanya Rohis.

Ngomong-ngomong berorganisasi,gue punya sahabat-sahabat kece selama selama berada disebuah kepengurusan. Karena Mayoritas pengurus OSIS, Pramuka, PMR adalah orang yang sama, jadi ya komunikasi intens sama orang itu-itu juga.

Banyak sebenernya kalau ngeliat struktural, hanya saja, seringnya dengan orang-orang inilah gue menjalankan kehidupan di sekolah:

Harto Gunari: Biasa dipanggil gugun. Si Ketua OSIS, sekaligus Pradana (ketua pramuka) dan juga ketua kelas saat kelas X. Si cuek yang ngeselin, humoris, terkadang cildish tapi juga sewaktu-waktu bisa jadi orang paling tua sedunia, disaat-saat seperti itulah dia cocok buat diajak diskusi, selain itu? NO! atau lo bakal tersesat. Suka ngomong tanpa ayakan, cenderung terlalu polos yang disengaja. Hobinya ngeles dan sering pura-pura galau atau bikin geer anak orang, pemikirannya juga susah ditebak. Orang yang akan tahan banting dari gelitikan ketika dia sedang tidak ingin geli, tapi akan blingsatan seperti cacing kepanasan ketika dia bilang sedang geli. Sungguh orang yang aneh!. Setelah lulus kita memang jarang komunikasi, tapi kadang gue sama yang lain suka nyamperin ke rumahnya, meskipun ujung-ujungnya dia kagak di rumah.  Ish...  tapi alhamdulillah dia telah melepas kegalauannya sekitar tahun 2014 kemarin dengan menikahi bidadari pilihannya. #eaaa

Doni Prasetyo Utomo: Gue kenal dia sejak SMP, kita pernah satu kelas waktu kelas VII. Anak pak polisi ini menjabat sebagai wakil ketua OSIS (kalau gak salah) dan di pramuka dia jadi sekertarisnya (kalau gak salah juga). Pernah gabung di PMR meskipun akhirnya gak aktif. Jangan ditanya seberapa encer otak dia, yang jelas dia biasa menjadi juara umum. Sosok yang relijius dibandingkan personil yang lain. Dia juga lawan yang tangguh buat berantem dan berdebat, kalau lagi debat sama dia, bikin gontok dan pingin nelen orang hidup-hidup. Saat ini do'i tengah fokus berkarir di Angkatan Laut dan menjadi orang paling sombong sedunia. Mungkin karena di tengah laut kagak ada sinyal, jadi kagak pernah ngasih kabar ke temennya ini. hiks.

Hendrawan Dwi Harsono : Bejo nama bekennya. Si jangkung yang satu ini juga anak paskib. Koordinator Sie Pendidikan Pendahuluan Bela Negara waktu di OSIS, di pramuka entah sebagai apa, mungkin tukang ngusir preman?,  ah bukan, itu pekerjaan gue. Dulu meskipun suka ngeyel, tapi do'i juga nurut kalau dikasih masukan. Soulmate (teman berantem) sekaligus partner in crime buat bolos di hari senin dengan dalih ngurusin anak yang pada bolos Pramuka hari sabtu, tiga tahun berturut-turut menempati kelas yang sama dengannya. Hobinya main komputer dulu. Nah dia ini paling bisa ngebully orang, sebelas-dua belas sama gu2n dan kicik. Gak ada yang lebih nyebelin dari dia selain karena temennya kebanyakan orang seblek, dan entah kenapa dia sering banget digosipin (deket) sama cewek-cewek, maksud gue, dia jadi sok kayak casanova gitu.
Selain sibuk dengan cewek dan mobilnya, entah apalagi pekerjaannya saat ini. Karena belum lama dia baru lulus kuliah.

M. Qornul Manazil: Dia itu teman sekaligus musuh. Tiada hari tanpa berdebat dan berantem sama dia (bukan cuma gue ya). Pokoknya, setiap kali dia bilang iya, maka gue dan rekan cewek akan bilang tidak, begitu terus, pokoknya kita nyaris selalu bertolak belakang. Playboy cap teri yang selalu bikin rame dengan banyolan-banyolan yang seringkali mengandung hal-hal mesum. Jangan tanya berapa seringnya kita gontok-gontokan, tapi itu cuma sementara, setelah kesandung pasti lupa. Sebenernya dia itu baik, hanya seringkali dia itu tengil dan suka TP-TP, apalagi sama adik kelas.
Mungkin saat ini do'i lagi sibuk ngemong anak-anaknya. Entah sudah berapa permata hatinya saat ini, yang jelas si playboy cap teri pun menikah tak lama setelah lulus sekolah. hehehe.

M. Mustofa: Koordinator Sie Kerohanian. Di acara apapun, ya dia ini pak ustadz nya. Rekan seperjuangan di Qiro'ah juga selain di OSIS dan Pramuka. Kalau ngomong sering muter-muter gak jelas, bikin keder orang yang belum mengenalnya. Gak bbanyak tingkath, tapi kalau lagi galau, udah kayak babon abis lahiran, galak dan bikin gue pingin nyambit pake sendal. Sebenernya dia dan Nazil ini juga temen SMP gue, cuma kita kagak pernah satu kelas, jadi ya masa bodo. Barulah di SMA kita dipersatukan. Halah. Setelah menikah di tahun 2014 kemarin, gue emang belum komunikasi lagi sama dia. Tapi sebelumnya dia memang sibuk dengan bisnis prophertynya.

Prayoga Fatahillah/Kicik: Setiap ada Nazil, maka secara otomatis di situ juga ada Kicik, dan Mustofa juga sih kadang-kadang. Kalau lagi bareng-bareng mereka lebih mirip pasangan aneh. Si kicik ini orang yang gak kalah unik dengan hemmi, dia lebih sering dijadikan sebagai obyek bullyan, dan dengan senang hati biasanya dia akan tertawa-tawa ketika hal itu terjadi. Jangan salah ya, biar gitu-gitu juga kicik ini termasuk orang yang sangat bisa di andalkan lho. Apalagi kalau kita lagi prepare buat acara sekolah, cowok-cowok inilah yang pada nginep. Gue dan cewek-cewek nya paling banter ba'da maghrib udah pada balik. Kecuali pas kemah atau sedang cari rute buat diklat, gue wajib ikut.
Si kicik ini yang ngebawa kabur Doni sebelum doni berlayar awal tahun 2015. Alhasil, setiap kali janjian mau ketemu sama Doni, pasti dia lagi bareng sama kicik. Ke Tanah abang lah, ke Tangerang lah, ke Kota tua malem-malem. Hadeuhhh kicik racun... anak baik-baik diajak klayapan terus. Ya Maklumlah, cuma kicik soulmatenya yang tinggal di jekardah.

David Yoga Hardiyanto: Sekilas namanya mirip pak Hadi, Pembina Pramuka pertama yang tercinta sekaligus guru mapel kesenian. Entah sejak kapan, karena sebelumnya David ini kurang aktif di sekolah, yang jelas seinget gue, tiba-tiba dia sudah menjadi partner gue saat apel dan upacara pramuka. Yaks, Gue sebagai pembaca Tri Satya dan David sebagai pembaca Dasa Dharma pramuka. Meskipun kita kagak terlalu akrab karena do'i anak IPA, tapi hampir disetiap kegiatan dia menjadi orang yang selalu bisa diandalkan, terlebih saat KPTA di pagilaran waktu itu. Kalau pos to pos, Dia biasa di tempatkan di pos kerohanian. Sekarang entah apa kesibukannya, gue pikir dia jadi pak guru.

Istika Nursari Utami : Cewek jangkung yang bisa dibilang cukup dikenal oleh penghuni sekolah ini adalah temen SD sekaligus temen sekelas gue. Lupa jabatan dia di OSIS sebagai apa, yang jelas dia ini Pradani (ketua putri) Pramuka. Dikenal juga sebagai playgirl yang hobi TP-TP ke siapa aja. Temen berantem cewek yang akan kegirangan ketika berhasil ngebully gue. Keganjenannya itu sering banget gue protes dan berhasil bikin kita ribut. Yang paling rese adalah ketika dia pake nama gue buat ijin ke neneknya pas mau pacaran, dan tanpa ijin ke gue sebelumnya.
Setelah petualangannya selama bertahun-tahun di ibukota, akhirnya dia kembali ke kamhal. Dibandingkan dengan kami, dialah yang paling kaya. Karena anaknya sudah dua. hahaha

Anita Setiani : Kalau cowok ada doni, cewek ada Nita. Mereka sama-sama anak IPA, meskipun kagak sepinter doni juga sih. Eh, Nazil juga IPA ding. Kalau gue ini emak di pramuka, dia ini emaknya anak-anak OSIS. Butuh duit?, ya minta aja ke kita. Si keras kepala yang paling susah kalau dikasih tahu, apalagi kalau menyangkut tentang hubungannya dengan mantan kekasihnya. Seseorang yang ngakunya vegetarian tapi tetep doyan ayam kalau udah berbentuk bukan ayam lagi, misalnya risole ayam. Aneh kan?, emang!. Makanya gue sering ngatain dia Vegetarian palsu. Paling gak doyan sama susu putih, tapi kalau dipaksa tetep mau juga. Karena anak semata wayang jadi kepekaannya kurang. Terkadang karena hal sepele bisa jadi ribut sama dia. Yah pokoknya ngalah terus deh sama dia mah.
Alhamdulillah sekarang dia sudah menikah dan dikaruniai seorang bayi tampan bernama Nabil. Dan coba tebak siapa suaminya?
Ahaha, mantan kakak kelasnya yang pernah pedekatein dia waktu SMP. Kak Andhika. Orang yang irit omong. Gue pertama ngeliat dan dikenalin sama dia pas lagi ada kemah, waktu itu gue malah gak sengaja melengos pas dia ngajak salaman, hal itu sukses bikin nita manyun-manyun. Lah, padahal salah dia kan, yang ngajak kenalan kayak orang lagi komat-kamit. mana gue tahu!

Hemmy Aristina : Mrs. Humoris yang hampir disetiap momen saat perkemahan, mencari jejak, jerit malam, selalu satu pos dengan gue dan doni. Iyuh, biasanya kita bertiga dapet jatah di pos kedisiplinan, dan lokasinya gak pernah jauh-jauh dari tempat horror yang biasa disebut dengan kuburan. Dia ini cewek yang paling mempunyai jiwa keibuan dibandingkan kami. Meskipun ngocol, tapi dia tetap selalu menjaga sopan santun, tutur bahasanya juga halus. Mungkin karena dia punya gen darah keraton, bapak-ibunya juga sangat halus saat berbicara.
Dia bisa berubah menjadi orang yang tegas, kemudian ngocol, kemudian galak, dalam waktu yang singkat. Yang jelas dia adalah pribadi yang hangat, supel, dewasa, cekatan, dan bisa diandalkan dalam banyak hal. Dia juga termasuk anak yang cerdas di jurusan IPS, meskipun tidak terlalu menonjol. Jago Volly seperti nita dan fari, juga pandai membaca puisi. Yang gak enak dari dia adalah, paling susah di kepoin, apalagi disuruh curhat, lebih seneng memendam perasaannya ke kita-kita. Barulah setelah lulus sekolah dia mau ngobrol ini-itu. Sekarang dia sedang hamil muda lho... do'ain semuanya baik-baik saja ya...

Fari Rosa Sylviani Fauzi : Penggemar anaknya pak fauzi ini juga gak sedikit. Cantik, kaya, anak paskib, membuatnya cukup famous bagi warga sekolah. Selalu terkesan acuh tak acuh terhadap orang, terutama lawan jenis yang tidak dikenalnya. Pun gue baru deket sama dia dan nita saat mengikuti ekskul voly, dan di tahun ke dua ternyata gue sekelas sama dia, di osis dan pramuka pun kita satu kepengurusan, jadilah kita sering pergi bareng kemana-mana. Bersamanya jugalah hampir setiap jum'at sepulang sekolah kita berwisata kuliner di pasar doro. Berpindah-pindah tempat untuk mencicipi makanan setiap minggunya. Dan Bakso Kerikil terminal pun menjadi lokasi favorit kita, dengan catatan fari lah yang membayar tagihannya. Hehehe.
Well, punya teman famous itu nyebelin juga, maksud gue, gue capek setiap ada yang nanya ini dan itu ke gue. Kenapa coba pada gak gentle dan nanyain hal-hal yang pingin mereka tahu ke orangnya langsung?  kan biar mereka puas dan gak bawel ke gue. Mama-Papanya juga baik, tidak pernah alpa untuk memberikan oleh-oleh ketika pulang ke rumah. Papanya yang insinyur itu memang sibuk di kalimantan. Jadilah setiap ada acara di rumahnya, mamanya yang akan menyambut kami dengan suka cita. Yang bikin gak betah itu kalau manja, keras kepala, dan ambekannya lagi kumat, dih... ngegemesin bener... bikin pingin nyubitin pake tang. Saat ini dia masih dibuk kuliah dan... pacaran!


Masih adalagi sih soulmate-soulmate jaman berorganisasi di SMA
Ada Kartini si wonder woman,  Bagus Pambudi si calm yang senantiasa bersedia membantu kapan saja ketika dimintai pertolongan, Suby yang tangguh dan cerewet, Tyo yang meskipun suka ngedumel tapi tetap mau membantu, dll nya

Kalian selalu punya tempat tersendiri di hatiku

#Eaaa

Jangan lupain gue ya guys,
sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan kita, selalu inget gue dalam do'a-do'a kalian...

Kamis, 07 Mei 2015

Ketika Gebetan Menikah; Berarti Bukan Jodoh. Udah Gitu Aja!

Mending Main layangan apa main Hati?

Main layangan mah jelas, narik-ulur benang
Main perasaan, yang ditarik-ulur bukan benang lagi,  tapi udah main hati

Jiahhh, hati lagi... hati lagi, salah terus dah yak?

Jadi, elo (gue) atau siapapun yang udah berani mainin hati
Flirting-flirting-in anak orang dan dijadiin gebetan
Ngasih - ngasih harapan tanpa kejelasan
Narik-ulur hati kayak layangan dalam waktu berkepanjangan

Jangan sakit hati, marah dan kecewa pula,
Kalau suatu saat nanti mainannya lepas dan diambil orang lain
itu sudah resikonya

Jangan salahkan bapak-Ibu mu
Jangan juga salahkan takdir yang belum memihakmu
Karena, seseorang yang kamu jadiin mainan itu, lambat laun, mereka juga akan menyadari bahwa ternyata selama ini mereka hanya tinggal di dunia khayalan
Dunia yang menawarkan berjuta keindahan namun ternyata hanya hal-hal semu yang didapatkan

Gebetan-gebetanmu itu...
Mereka juga manusia biasa yang membutuhkan kepastian, bukan janji-janji palsu!
Mereka juga pasti akan lelah dan jenuh jika terus ditarik ulur
*Lu kate kampanye apa?!
#ehh

Jangan marah dan menyalahkan siapapun!

Hadapi kenyataan bahwa kau (aku) Salah dan Kalah
Hiduplah sebagaimana kau (aku) hidup sebelum merasakan sakit karena ulahmu (ku) sendiri

Sebagaimana anak-anak di Afghanistan yang berlomba menerbangkan layangan, ketika benang layangan itu putus dan terbang bebas,

maka mereka harus mengikhlaskan layangan itu untuk dimiliki oleh orang lain yang berhasil memutuskan benang layangan mereka ketika laga berlangsung

Siapapun yang berani memulai, juga harus berani mengakhiri
Sesakit apapun itu!

Buat elo (gue), dan elo (gue lagi), yang mungkin saat ini sedang patah hati, terluka, kecewa, merana karena seseorang yang lo harepin itu akan atau sudah menjadi milik orang lain, Keep strong, Keep fight and just Move on!

Gak usah pacaran kalau emang gak mau sakit hati
Jangan PHP in anak orang kalau emang belum siap dan gak mau suatu saat nangis-nangis karna ditinggal nikah
dan bersyukurlah kalian para jomblo-jomblo berkualitas,
Yang senantiasa memperbaiki diri dalam perjuangan dan penantian

Kita gak berhak nyalahin siapapun atas setiap peristiwa yang kita alami, kita hanya perlu percaya bahwa Ketetapan-NYA adalah yang terbaik. Dan mengambil hikmah dari hal itu, agar kita tidak melakukan hal yang sama.


*PS: Gue biasa ngeliat orang yang patah hati
Nangis-nangis sambil mikirin sang mantan
Tapi belakangan ini gue baru tahu, kalau dampak ditinggal nikah itu bisa membuat seseorang menjadi menyebalkan sekaligus mengenaskan disaat yang bersamaan!



PHP

Selasa, 28 April 2015

2nd Time at Gede Mt.

Dari dulu gue selalu berprinsip, bahwa sekali gue mendaki sebuah gunung, maka gue gak akan mengulanginya untuk yang kedua atau ketiga kali. Bukan karena gue puas dan gak suka dengan gunung itu, tapi gue harus nabung lagi buat bisa mendaki ke gunung yang lain, jadi gue pikir, semakin gue mengulang mendaki sebuah gunung, maka semakin kecil kesempatan gue buat bisa melanglang tempat lain.

Tapi April 2015 ini gue dibuat galau. Banyak open trip yang menawarkan pendakian ke beberapa gunung, diantaranya ke Ciremai, Papandayan, dan Gede. Secara pribadi gue bakal milih Ciremai, karena gue belum pernah kesana, tapi karena teman-teman muncak gue ada rencana ke sana juga, dan ada salah seorang teman pemula yang pingin ikut muncak, akhirnya pilihan gue jatuh pada gunung gede, karena menurut gue, gunung gede adalah salah satu gunung yang cocok untuk pemula.

Jum'at malam, dengan gusi yang mendadak bengkak sebelah karena paginya baru saja mengunjungi dokter gigi, gue pun berangkat bersama temen-temen kece. Gue udah sedikit parno, mengingat riwayat sakit gigi yang pernah bikin gue guling-guling di kasur, padahal waktu itu cuma kena udara dingin di kawasan puncak bogor, lha ini kalau kena udara dingin puncak gunung apa yang akan terjadi ya?. Ah sudahlah, nangis pun percuma, bismillah saja. Hingga bus dari Terminal Kp Rambutan sampai di Ciawi, kerjaan gue cuma ngelus-ngelus pipi kanan, dan berharap dia akan berdamai dengan alam.

Sesampainya di Cibodas, Bang Hen dan Bang Bay ngurus simaksi, sementara gue dan sepuluh orang yang lain melanjutkan perjalanan sampai ke Cipanas. Karena lama bang bay dan bang hen gak sampai-sampai, gue pun telpon mereka, dan ternyata... mereka sedang makan!

Hellooowwww... jam dua pagi, dan mereka malah makan!, sementara temen-temen yang lain luntang-lantung kayak orang ilang dipinggir jalan. 
Ngajak ribut tuh bedua!
*sing-singkan lengan baju

Barulah beberapa waktu kemudian mereka datang, dan kami pun segera naik mobil pick up yang sudah menanti untuk ke Kampung gunung putri. Jam empat lewat kami tiba dan beristirahat sembari menunggu adzan subuh. Gue lebih memilih menunggu di masjid yang dekat dengan rumah yang dulu gue tumpangi selama ekspedisi pendidikan di sini, dengan harapan gue bisa ketemu teh nita sebelum muncak, apa daya ternyata dia sudah ikut suaminya. *hiks.

Ada satu hal yang bikin gue bahagia pagi ini, yaitu karena ngeliat banyak pendaki shalat subuh berjama'ah. Meskipun gue gak berani ngeliat itu muka cowok-cowok, tapi gue berani jamin bahwa kadar kegantengan mereka sudah bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya karena basuhan air wudhu.
*jiahaha, lebay

Ba'da Shalat subuh kami pun sarapan di salah satu warung di pinggir jalan. Pilihan kami jatuh pada nasi dan soto daging. 
"Minumnya tiga teh manis dan satu teh anget tawar ya." pesen kami ke ibu nya. Ternyata yang datang adalah tiga teh anget manis dan segelas air putih tawar. Mba nina, mba wi dan nadmbe sampe cekikikan ngeliat segelas air putih di hadapan mereka.

"Baru tahu teh tawar warnanya putih mba" mba wi cekikikan

Usai sarapan kami pun bersiap-siap untuk berangkat 

***

Awal perjalanan


Mengintip yang akan kami daki
Gue sempet kaget waktu ngeliat ada seorang pendaki cowok yang tengah ditangani oleh rekan-rekannya. Kalau dilihat dari kaosnya, dia salah satu peserta open trip. Wajahnya sudah pucat dan dia sudah diberi oksigen buatan. Akhirnya kita mewanti-wanti, bahwa kalau ada yang kelelahan harus bilang, dan jangan ada yang memaksakan diri.

"Bang, ini jalur berubah yak?, kayaknya diputer jauh deh dari yang dulu." Sudah lebih dari enam jam tapi kita belum juga sampai.

"Iya bu kos" jawab bang bay singkat

Alhamdulillah, meskipun terbilang lambat, tapi kami sampai juga di Alun-alun surya kencana Timur pukul  14.00 WIB (kurang lebih delapan jam perjalanan, karena kami berangkat sekitar pukul 06.30/07.00 WIB)



Sayangnya Edelweis sedang tidak berbunga, tapi itu tidak mengurangi semangat gue dan yang lain untuk berfoto ria.
Alun-alun surken

Mba Nina di Surken
Surken We're Coming
Tahun 2012 lalu air sulit didapat karena kekeringan, alhamdulillah kali ini air mengalir cukup deras, sehingga kami tidak perlu mengantri untuk mengambilnya, kami bahkan bisa berwudhu tanpa khawatir akan kekurangan air, alhamdulillah kan?
Usai masak, makan, dan shalat, gue dan cewek - ceweknya gak mau berlama-lama tinggal diluar tenda, melainkan langsung pasang posisi tidur. Sejatinya tenda yang diperuntukkan untuk empat orang, malam ini dengan terpaksa diisi oleh enam orang, jadilah kami para wanita tidur bak ikan pindang yang dijejer. Bahagianya adalah gue terjepit diantara yang lain, kepala gak kepenyet aja sudah syukur alhamdulillah, pun kaki juga sudah gak jelas posisinya. Nasib serupa dialami mba wi, bedanya dia dipojok dan gue di tengah.
*Highfive dulu mba. Tosss!!!

Pukul tengah malam mba Anita yang notabene sudah mendapatkan tempat yang lebih nyaman dari gue malah blingsatan karena sesak napas katanya, dan dia lebih memilih untuk keluar tenda. Setelah memastikan dia aman di luar, mata yang udah sepet pun tidur kembali.
Breakfast (Mbe, Eni, Anita, Andi)

Pecicilan itu perlu




Berdo'a sesuai kepercayaan masing-masing

See You Surken


Well, sejujurnya gue gak terlalu excited seperti pertama kesini beberapa tahun yang lalu, sehingga waktu paginya bang bay bilang kita ke puncaknya agak siangan karena kita bakal pulang lewat jalur Cibodas, gue ok ok saja. Dalam keadaan normal mungkin gue bakal ngedumel berkepanjangan karena gak bisa menikmati sunrise/sunset, tapi gue tetep calm karena sudah pernah menikmatinya 2012 silam. Hehehe.

Menuju Puncak


Trek ke Puncak
Cuaca berkabut ketika kami berhasil menginjakkan kaki di puncak, sehingga puncak pangrango sama sekali tidak nampak. FYI kalau sedang beruntung, dari atas sini biasanya puncak pangrango dan bukit-bukit disekitarnya akan terlihat, menampilkan pemandangan yang sangat indah.


Mengulangi kenarsisan saat di Gunung Prau


Reunian di Puncak

Pukul 11.00 WIB kami memutuskan untuk turun via jalur Cibodas. Prediksi gue waktu itu, jam empat sore maksimal sudah sampai bawah. Tapi prediksi tinggallah prediksi, karena Allah telah menyiapkan rencana lain yang lebih indah untuk kami.
Perjalanan pulang
prepare turun
Jalur Cibodas
Awalnya jalanan sangat lancar, meskipun turunan, tapi tidak semuanya curam. Kami lebih memilih jalur yang relatif aman. 'Tanjakan setan' tidak kami lalui karena selain antrian panjang juga jalurnya terlalu curam untuk dilalui, jadi kami lebih memilih jalur alternatif.

"Bang, masih jauh?" Tanya gue ke bang hen waktu kita baru sampai di Pos Kandang Badak

"Yah, ini mah baru separuhnya bu kos."

"Hah?" Melongo. Sudah jam satu lewat dan baru separuhnya?!

Kita istirahat sebentar di pos Kandang Badak, mengambil air karena persediaan air sudah mulai habis. Bang Andi yang sudah kelaparan beberapa kali meminta waktu untuk membeli makan siang dulu, tapi entah siapa yang menyarankannya agar makan di pos berikutnya saja, sehingga bang andi pun nurut. Tapi emang dasar belum rejeki, karena ternyata pos kandang badak adalah pos terakhir yang ada pedagangnya. Di situ bang andi pasti merasa sangat sedih, begitu pula yang lain. Apalagi mengingat persediaan logistic kami yang sangat menipis. Setelah semua berkumpul dan beristirahat sejenak, kamipun melanjutkan perjalanan.

Setelah pos Kandang badak, ternyata ada bonus, jalanan yang datar, bahkan gue bisa berlari-lari kecil, sayangnya itu gak lama, karena berikutnya kami disambit, eh, disambut oleh turunan berbatu.

"Mbe, kalau gak kuat ngomong aja ya, jangan dipaksain." pesan gue ke nadmbe.

"oke sip."

Kami pun melanjutkan perjalanan. Mungkin mbe seharusnya menjadi tanggung jawab gue, karena dia ikut ke sini bareng gue. Tapi melihat sudah ada mba nina yang ngejagain, gue berfikir bahwa nanti bisa gantian buat jaga dia. Akhirnya gue berpisah lagi dengan mbe dan mba nina. Rombongan memang terbagi menjadi tiga; depan, tengah, belakang, jadi gue juga gak terlalu khawatir.

Air terjun kandang batu
Satu jam kemudian rombongan pertama (Gue, mb wi dan bang bay) sampai di Pos Kandang batu, Disusul Mba Eni, bang Andri. Sembari menunggu yang lain sampai, kami memutuskan untuk shalat. Alhamdulillah kami tidak kekurangan air untuk membersihkan diri karena air melimpah juga di sini. Sementara gue dan mba wi shalat, bang bay memasak air untuk membuat air hangat dan menyeduh pop mie yang hanya tersisa dua gelas.
 
Seperti biasa, setelah semua kumpul dan beristirahat kami melanjutkan perjalanan kembali. Semua sudah nampak kelelahan, dan perjalanan masih jauh, kami pun bergegas sebelum petang datang.

Jam empat lebih kami sampai di air terjun panas. Di sini lah tantangan dan kekoplakan berawal. Jalanan berbatu licin, di mana sebelah kanan adalah air terjun yang kadar kepanasan airnya tidak perlu diragukan lagi, sangat cukup untuk merebus telur, sementara sebelah kiri adalah jurang yang kalau jatuh, sangat diragukan tingkat keselamatannya. Pengaman untuk melalui jalur ini adalah tali jiwa yang jika kita berjalan dan tidak kuat-kuat memeganginya maka badan kita akan ikut terayun ke kanan dan ke kiri. Gue bahkan sempat terpeleset, alhamdulillah gue pegang kenceng itu tali. Tiada henti gue bersyukur pas berhasil melewati jalur maut itu.

"Loh, bang Ricky kemana?" Tiba-tiba kami tersadar bahwa bang Ricky yang tadi berbaris di paling belakang dalam rombongan kami belum sampai. Karena memang tadi antrian panjang di jalur maut, kami mencoba berfikir positif dan memutuskan untuk menunggu terlebih dahulu.

Lima menit, sepuluh menit, bang ricky belum nampak batang hidungnya. Sementara sedari tadi sudah banyak pendaki lain yang berhasil lewat. 

"Bang, samperin aja gimana?" usul gue

"Tungguin aja sampe dateng. Kali tadi ketemu temennya." Jawab bang bay

Setelah kira-kira lebih dari lima belas menit lebih bang ricky belum muncul juga, akhirnya gue dan mba wiyah ijin untuk mengecek keberadaannya dengan balik arah dan kembali melewati jalur setan yang sekarang antriannya sudah sangat padat. Beruntunglah kami melawan arus, jadi kami diijinkan untuk lewat oleh mereka yang hendak turun.

Setengah was-was gue dan mba wi ngeliatin wajah-wajah para pendaki yang tengah mengantri, tapi tak juga ada bang Ricky. Hati semakin deg-degan karena sudah di atas tapi bang ricky belum juga ketemu. Hingga setelah jembatan kecil, disebelah kanan jalan gue ngeliat seseorang yang rambutnya mirip bang ricky.

"Bang Ricky! bang ricky, woi, psst! pssst!" mba wi manggil-manggil. Ternyata bang Ricky ada di depan orang yang gue pikir adalah dia.

Antara lega dan kesel. Lega karena dia masih hidup dan baik-baik saja, gak kecemplung ke jurang atau kesiram air panas, juga kesel pas tahu bahwa dia meninggalkan rombongan hanya karena iming-iming sepiring mie instan yang ditawarkan temennya. Grrrrrr!!!!

"Tadi ngantri banget, jadi gue makan dulu, lagian bukannya jalan duluan aja." Kilahnya yang justru membuat gue dan mba wi melotot

"Ya lo kalau ngomong juga udah kita tinggal dari tadi kali bang. Makanya kalau mau misah ngomong-ngomong. Kita udah khawatir, eh lo malah enak-enakan makan!" gue dan mba wi gemes bukan main. Akhirnya bang ricky ikut turun bersama kami, setelah sedikit kita omeli dan dibully oleh teman-temannya tentunya.

"Tuh, sekarang jauh lebih ngantri dari tadi. Tadi mah masih bisa jalan bang." Gue nunjuk antrian yang bener-bener stuck. Dan tiba-tiba saja bang bay sudah ikutan nongol di antrian, nyusulin kita karena yang gak nyampe-nyampe katanya.


Ahhhhhh..... hari sudah semakin gelap, dan kaki mbe sudah mulai oleng sehingga harus sedikit dituntun. Menjelang maghrib belum ada tanda-tanda bahwa kami akan segera sampai, jadi gue lebih memilih diam dan menahan diri untuk bertanya; 'masih jauh bang?'. Berdasarkan pengalaman, semakin sering bertanya maka akan semakin lama sampainya.

Menuntun orang dengan kondisi badan sendiri sudah tidak layak dikatakan baik-baik saja, ditambah jalan turunan berbatu yang menjadi sangat menyakitkan untuk dilalui, membuat kami tertinggal jauh dari rombongan. Hanya ada gue, mba nina, mbe, bang hen, dan bang ricky. Berulang kali kami harus berhenti dan secara mendadak gue menjadi tukang urut. Kami jalan pelan, cukup jauh berhenti, ngurut kaki, jalan lagi berhenti, ngurut lagi, begitu terus sampai kami tiba di sebuah gazebo. #Mbe, lo harus bayar mahal atas jasa urut gue ini *smirk smile mode on

Perjalanan dilanjutkan. Awalnya kita kompak, jalan berduyun-duyun kayak orang mau imigrasi, tapi lama-ama ribet juga, ngalangin jalan orang yang mau lewat, apalagi kalau cara berjalan kami seperti lagunya kerispatih yang 'tertatih', jadi tim pun dipecah seperti tadi. Gue, mb nin, mbe, bang hen dan bang ricky kembali di belakang.

Sebenernya gue udah was-was waktu bang hen mulai minta counterpain buat ngurut kakinya. Ini pertanda buruk, karena seharusnya do'i baik-baik saja. Bukan apa-apa, tapi carrier dia gede bo', kalau dia teler duluan siapa yang mau bawain itu tas?. Hadeuuhhhh... padahal bang hen tadi sempet menawarkan diri untuk membantu bawa tas yang di gue.

Sudah jam sembilan lebih, dan perjalanan yang harus kami tempuh masih jauh. Alhamdulillah, meskipun sangat lama akhirnya kami tiba di Pos Panyangcangan atau persimpangan Cibeureum. Di sana rombongan kami yang lain sudah menunggu.

Pundak gue udah panas akibat terlalu lama ngegendong daypack 40 liter, asam lambung juga sudah mulai naik karena dari pagi cuma terisi sarapan dan beberapa teguk air. Yah, ceritanya gue lagi belajar itsar, mendahulukan orang lain yang lebih membutuhkan. Jadi gue sengaja gak makan dan hanya sedikit minum supaya bekal air yang tersisa cukup untuk orang lain yang beban hidupnya lebih berat dari gue.
*Tsaaahhh

Padahal pas sampai di Gazebo gue langsung nyamber coklat kacang batangan dan melahapnya sampai habis setelah yang lain gue kasih sepotong-sepotong. wkwkwk

Di pos ini semua sudah mulai terlihat kelelahan, ralat; sangat-sangat kelelahan. Meskipun persendian kaki gue gak sakit seperti pendakian ke Cikuray, tapi perjalanan panjang tanpa asupan makanan membuat gue kelelahan luar biasa, belum lagi persediaan air semakin menipis.

Cukup lama kami berhenti di pos panyangcangan. Gue berharap ada ranger datang yang nantinya bisa membawa mbe dengan tandu. Bilang gue primitif, tapi selama ini gue mencoba berprinsip, selagi bisa berjalan dengan kaki  gue sendiri, gue bakal tetep milih jalan meskipun pelan, dan sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan lawan jenis. Yah tapi gue sadar, gue gak bisa maksain kehendak gue ke si Mbe ini, jadi gue cuma bisa ngasih usulan, bahwa selagi kakinya masih kuat, lebih baik dipapah. Tapi kalau enggak, ya mau gak mau digendong.

Lagipula, gue juga mikirin yang lain, semua cowok sudah membawa carrier dan daypack masing-masing, mereka juga pasti lelah, jadi alangkah kasihannya kalau mereka harus menggendong si mbe. Dalam keadaan normal mungkin mereka akan dengan mudah ngegendong dia, tapi dengan fisik seperti ini, belum lagi jalanan berbatu yang licin, Gue gak yakin mereka mampu.

Setelah diskusi panjang apakah Mbe digendong atau dipapah selesai, barulah kami melanjutkan perjalanan. Mba Wi dan mba nina fix mapah mbe. Sementara gue dan bang andi positif membawa dua daypack; depan-belakang.

"Bu kos, sini tukeran aja daypacknya." Tawar bang andi
"Gak usah, gue kuat kok bang." gue mengibas-ngibaskan tangan di depannya dengan lemah.

Mati-matian gue menahan diri supaya gak mengeluh sakit, apalagi nangis, padahal pundak udah panas, pinggang pegel, kaki juga udah gak bisa diajak kompromi. Jalanan berbatu memang tidak nyaman untuk dilalui. Kami melewati sebuah jembatan panjang yang sepertinya terbuat dari cor-coran semen atau beton. Katanya tempat tersebut namanya telaga biru.

"Gak ada yang mau foto-foto nih?" celetuk bang bay, yang disambut dengan cengiran khas dan omelan pelan yang lain.

Kami kembali beristirahat karena mbe sudah mulai kepayahan berjalan. Bang andi menawarkan diri untuk menggendongnya. Saat kami sedang bersiap, barulah kami bertemu dengan tiga anggota Ranger yang hendak naik untuk memberikan pertolongan kepada pendaki yang sudah mengontaknya terlebih dahulu. Kami menjelaskan keadaan mbe kepada ranger tersebut, dan dengan HP mba eni, ranger tersebut menghubungi rekannya yang ada di pos.

"Ini teh udah di KM 15. Satu setengah kilo lagi sampe." Ucap salah seorang ranger.

Sembari menunggu bala bantuan datang, Mbe pun diwawancara dan direkam oleh ranger untuk dijadikan sebagai bukti. Belakangan kami tahu, bahwa mereka adalah organisasi di kampung, sementara yang seharusnya bertanggung jawab adalah ranger milik pemerintah yang sudah mendapatkan gaji. Tapi selama ini yang bergerak adalah ranger kampung ini.

"Nama saya ....., saya sakit dari ....., saya simaksi di kantor, tapi tidak ada ranger yang bertanggung jawab...."

Kami cekikikan karena hal itu, bang hen juga di foto sebagai penanggung jawab tim kami, karena dia dan bang bay yang mengurus simaksi.

"Misi bang... misi..." Pendaki lain yang tengah turun dengan gagahnya melewati kami, menyapa kami dengan sopan. Suara gemerincing kerincingan mereka menggema di tengah kesunyian.

"Heh!, masukin gantungannya, masukin!. Berisik aja!" Salah seorang ranger berteriak garang. Terlihat para pendaki yang tadi nampak gagah berani, sedikit syok dan menuruti perintah ranger.

"Bang hen..."
"Bang..."

Gue dan yang lain memberi kode ke bang hen yang sedang membawa tas bang bay yang ada gantungannya untuk menyembunyikannya. Bersyukur karena the ranger tidak sempat mendengar gemerincing kerincingan tas bang bay.
*Fiuuhhhh

Ketika tengah menunggu, ada satu rombongan yang menginformasikan bahwa rekannya juga sakit dan harus di tolong menggunakan tandu. Akhirnya mbe pun digendong oleh seorang ranger, sementara dua ranger yang lain melanjutkan perjalanan ke puncak.

Alhamdulillah, gue gak harus lagi membawa dua daypack depan-belakang, mba wi dan mba nina sudah bisa membawa tas mereka sendiri. Semua berjalan kilat, hingga akhirnya tinggal gue, bang hen, dan bang ryan. Bang hen yang tadi sudah oleh beberapa kali terpeleset dan sering berhenti. Rombongan yang lain sudah tidak nampak. Bang hen sudah gak kuat, dan bang ryan tidak bisa diharapkan karena dia juga membawa tas, dan kakinya sudah oleng dari atas.

Oya, dari 13 orang cuma bang andri yang sudah jalan terlebih dahulu. Jadi sudah dipastikan dia sudah sampai di pos bawah.

"Coba telpon bayu dong."

"Kenapa bang?"

"Buat bawain carrier gue, gue gak kuat nih."

Gue ngotak-atik hp yang qadarullah sinyalnya ada tapi gak mau buat nelpon.

"Gak bisa bang." Gue masih mencoba untuk menelepon, tapi hasilnya nihil.

"Lo tunggu di sini aja dah yak, jangan kemana-mana. Gue turun duluan buat manggil bang bay." Gue mencoba menawarkan diri, meskipun dalam hati ketar-ketir karena jalanan gelap gulita. Tapi cuma itu satu-satunya ide yang terlintas di kepala gue.

"Ngga dah, ayo bareng aja." jawab bang hen sambil bangkit.

Kami pun kembali berjalan pelan-pelan, sekitar pukul 23.30 atau 00.00 WIB kami akhirnya sampai di pos akhir. Yang gue lihat pertama kali adalah bang andri yang sedang nyengir di pinggir jalan, kemudian bang bay. Gue langsung ke posko di mana mbe, mba wi, dan mba nina berada. Mbe terlihat lebih segar karena kakinya sudah diurut. Gue pun ngantri untuk bersih-bersih dan ganti baju.

"Mba wi, aku shalatnya selonjoran aja ya, kakiku gak bisa ditekuk."

"Yah, jangan bu kos, kita pake kursi aja deh ya."

Kami berdua pun shalat menggunakan kursi. Ya Allah... udah kayak nini-nini gini dah. Padahal buat jalan jauh bisa dipaksain, eh giliran buat ibadah malah gak total. Bahkan bacaan Al-Qari'ah gue langsung nyambung ke surat Al-Bayyinah, dan mba wi bukannya ngebenerin imam abal-abalnya, tapi malah diem aja. *Pingin ngejitak mba wi saat itu juga.

Petugas sudah memperingatkan kami untuk pindah tempat karena pasien kesurupan akan segera tiba. Jadi kami sudah bergegas untuk pergi ke warung dan makan. Baru kami duduk di ruang tamu depan, pasien yang kesurupan itu tiba, matanya nyalang menatap ke arah kami.

"Jangan diliatin mba." sebelumnya mba wi sudah mengingatkan. Cuman yang namanya penasaran, malah gue liatin dia. Sejenak pandangan kita bertemu, hingga dia dibawa ke ruang tengah.

"Kesurupan di air terjun panas." Kata salah seorang rekannya menjelaskan kepada ranger yang bertugas.
"Ajak ngomong ya. Jangan sampai pikirannya kosong." Ucap si ranger.


Kami pun pergi ke warung. Sebelumnya gue meminta tolong supaya daypack gue dan mbe dibawain bang ryan ke warung.

"Eh, ada yang meninggal tahu." entah siapa yang mengatakannya.

"Oh ya? yang mana?" tanya gue penasaran

"Itu, yang kemarin kita ketemu di jalur putri dia pakai oksigen buatan." jawab bang andi

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." jawab kami serempak. Sejenak, kelebatan sosok yang kemarin terbaring lemah dengan wajah pucat dan mata melotot pun hadir dalam pikiran.

"Itu yang kesurupan juga temennya mba eni tahu." timpal gue
"oya?"
"Iya. Gue sempet ngeliat mba eni cipika-cipiki di puncak. Oya, btw kita masih dapet angkot gak nih buat balik?" Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB

"Kita pulang besok aja. Nanti tidur di warung di bawah, tadi dikasih tahu sama kenalan." jawab bang bay

Sebenernya gue pingin balik pagi itu juga, tapi ngeliat temen-temen yang lain pada tepar, gue turunin ego gue dan mengikuti mau mereka. Mati gue, bos gue bakal nyap-nyap kalau tahu anak buahnya kagak masuk kerja karena naik gunung.

"Tapi besok berangkatnya pagi-pagi ya bang, gue gawe soalnya."

"Iya, mau sebelum apa abis subuh?" tanyanya lagi

"Ini aja udah jam segini, abis subuh aja, tapi jangan pada ngaret."

"Iye."

Gue pikir perjalanan ke bawah itu cuma sebentar, lah kagak tahunya... sampai di pasar cibodas masih harus jalan lagi untuk sampai ke homestay (Sebuah warung yang meyediakan tempat/aula untuk menginap). Sudah banyak pendaki lain yang juga sedang beristirahat di dalam. Kami langsung mencari tempat yang masih kosong, tanpa di komando pun semua bersiap tidur. sepanjang pagi itu, pikiran gue udah balik ke jakarta.

Selama ini gue memang gak pernah ijin bolos kerja hanya karena naik gunung, karena gue tahu, bos utama gue paling anti sama cewek yang naik gunung. Jadi selama ini gue selalu kerja meskipun baru sampai rumah jam tiga, jam empat. Bahkan senin ini pun gue harus langsung ke kantor dan bekerja seperti biasa. Gue sempet gondok karena teman-teman masih santai padahal sudah jam enam pagi.

"Gue kerja woi gue kerja!" rasanya pingin berteriak-teriak histeris, tapi yang ada adalah gue keluar dari homestay, menghirup udara pagi banyak-banyak dan menghembuskannya pelan. Perlahan kaki bergerak menuju setitik jingga di ufuk timur. Langit biru dengan riasan warna-warni awan karena pantulan cahaya mentari pagi pun sedikit mengurangi emosi.

sunrise


Sunrise justru gue dapatkan di sini. Ah... indahnya...

"Harus memahami orang lain." Gue mencoba tersenyum untuk menguatkan diri sendiri.

Mungkin, suatu saat (Na'udzubillahi min dzalik) gue akan berada di posisi mereka. Mba Eni pun ikut keluar dan jalan-jalan melihat sunrise.



http://c00022506.cdn1.cloudfiles.rackspacecloud.com/10_5.png







10:6 





"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya orbit-orbit (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak (benar). Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa."(QS. Yunus: 5-6)

Ya Allah, semoga kami senantiasa dapat mentadabburi alam yang telah Engkau ciptakan, untuk kemudian mengambil hikmah atas segala yang telah KAU beri kepada kami. Menjadikan kebesaran yang KAU tunjukkan sebagai sarana kami dalam mengenal-MU, mencintai-MU tanpa tapi.

http://c00022506.cdn1.cloudfiles.rackspacecloud.com/23_80.png

"Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?" (QS.Al-Mu'minun:80)

Betapa kematian itu dekat, maka matikanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah ya Rabbi, bukan su'ul khotimah. Bukan dalam keadaan di mana kami melalaikan kewajiban kami.








Jumat, 24 April 2015

My First Climbing at Mt.Gede

Kalau ditanya pendakian mana yang paling berkesan buat gue, dengan yakin gue akan jawab bahwa itu adalah Gunung Gede. Ya meskipun belum banyak puncak yang berhasil gue gapai sih.

Kenapa?

Karena Gue punya cerita-cerita seru disana. Gn Gede adalah gunung pertama yang gue daki, November 2012 silam, bareng temen-temen Expedisi Pendidikan 25 Th kampus gue, yang mana temen-temen gue itu, mereka juga baru pertama naik gunung, keren gak tuh?. Jadi lima dari enam orang yang mendaki saat itu adalah para newbie, empat laki-laki dan dua perempuan.

Waktu itu, kita gak punya apa-apa buat muncak, hanya baju, kaos kaki, sarung tangan dan tas ransel buluk, jas hujan yang hanya berupa plastik lebar yang kita potong, hasil belanja di pasar cipanas sehari sebelum berangkat. Boro-boro sleeping bag, sarung aja kagak punya. Matras cuma beberapa biji, dan tenda juga carrier adalah hasil pak Ojan (guru MI Al-Ikhlas Kampung Gunung Putri, Cipanas, Bogor, yang juga sekaligus sebagai tour guide kami dalam pendakian) minjem ke temennya. Pak Ojan ini katanya juga anak dari sang guru kunci di sana.

Setelah mempersiapkan sesuatu yang bisa disiapkan untuk dibawa ke atas, berangkatlah kami ba'da shalat jum'at (jam satu atau setengah dua-an). Kita berangkat lewat gang rumah penduduk, jalur yang berbeda dengan pendaki lain. Ada sih, beberapa kelompok yang lewat sana juga, tapi gue masih belum ngerti apa bedanya jalur belakang dengan jalur depan yang banyak dilewati pendaki.

Awalnya kanan-kiri jalan adalah perkebunan penduduk, kemudian semakin lama nanjak, perkebunan sayur pun berubah menjadi pepohonan rindang.

"Kak... aku gak kuat, aku balik aja ya..." Ana ngos-ngosan. Napasnya putus-putus

"Yah... ayo kuat pasti kuat. Kita jalan pelan-pelan aja."

Setelah dirayu dengan berbagai macam cara akhirnya Ana sepakat untuk melanjutkan perjalanan, dengan catatan jalan lima menit, istirahat sepuluh menit, kurang lebih begitu.

Perjalanan yang kata Pak Ojan bagi pemula bisa memakan waktu lebih dari delapan jam, ternyata kita bisa lebih cepat dari prediksinya, karena sekitar jam tujuh kami sudah sampai di Alun-alun Surya Kencana. Pak Ojan bilang sih kita hebat, bisa menyamai orang-orang yang biasa muncak.

*yeee ye yeeee.... horeee....

Jangan ditanya gimana excitednya gue pertama kali menginjakkan kaki di Alun-alun Surya Kencana (Surken). Gue yang baru beberapa hari sebelum muncak sempet denger soal pesona edelweis langsung heboh pas ngeliat padang edelweis. Padahal udah malam dan hanya kelihatan putih-pıtihnya aja, belum tahu wujud aslinya gimana. Gue gak peduliin wajah gue yang berasa ditampar-tampar angin malam yang dinginnya sungguh kebangetan. Alhamdulillah encok gue gak kumat di sana.

Gue pikir sesampainya di Surken berarti kita bakal segera bangun tenda dan istirahat, oh ternyata kita harus mengelilingi alun-alun ini untuk menemukan spot yang bagus buat bangun tenda. Udara yang dinginnya kagak ketulungan, ditambah baju basah akibat hujan saat perjalanan, membuat gue menggigil, begitupun yang lain.  Alhamdulillahnya pak ojan ini udah biasa naik, jadi kami gak perlu susah-susah nyari lokasi. Jalannya cukup jauh dari depan tadi, karena posisi kita mendekati jalan ke arah puncak.

Tenda baru berhasil dibangun pukul 21.00 WIB. Kami segera ganti baju dan shalat dalam tenda karena gerimis belum reda juga. Jangan dipikir gampang bangun tenda disaat seperti ini. Baju kuyup, badan menggigil, tangan gemeteran, dan juga perut keroncongan, membuat kita kesusahan. Sampe-sampe gue megang tali aja lepas mulu.

Sementara gue dan Ana ganti baju dan shalat, pak Ojan memasak air untuk menyeduh jahe dan juga memasak mie instan. Usai makan gue dan Ana bermaksud istirahat. Tapi boro-boro bisa tidur, yang ada semakin kedinginan karena kurang gerak, padahal udah pake double celana, double Rok, kaos kaki juga, tapi tetep aja.

brrrrrrr!

Gue pun cuma krusak-krusuk di dalam tenda, pingin cepet - cepet ketemu sang surya.

"Ma shaa Allah. Ya Allah....  aaaakkkkk...  bagus banget."

Tiada henti gue memuji kebesaran Allah yang telah menciptakan keindahan yang bermacam-macam. Alhamdulillah, gue bersyukur karena DIA mengijinkan gue menginjakkan kaki di puncak gunung gede, gunung yang katanya tertinggi kedua se jawa barat. Bisa ngeliat sunrise, ngeliat puncak pangrango, bisa deket dengan langit dan awan. Ah....  Speachless lah, pokoknya, Big thanks to Allah kayaknya gak pernah cukup hanya sebatas dengan kata-kata.

Bahkan ana yang kemarin tepar menjadi sangat antusias dan semangat waktu melihat keindahan alam ini.

"Terbalas sudah semua perjuangan kemarin!"

Berulangkali kami mengambil gambar dari kamera hp sampai capek, bukan bosen. Karena dekat dengan alam itu tidak akan pernah membosankan!

Pak Ojan cengar-cengir waktu bilang bahwa sumber air ternyata sedang kekeringan, dan hanya mengalir kecil. Padahal sebelumnya beliau dengan yakin mengatakan bahwa ada air yang membentuk kolam yang bisa digunakan untuk mandi. Benarlah, pas gue ngeliat memang ada air dalam kolam yang warnanya kuning kecoklatan, tapi itu bukan air mengalir, melainkan air sisa genangan air hujan. Dan sumber air yang dimaksud pak ojan, kecilnya kebangetan. Kita bahkan harus mengantri untuk mengambil air. Tapi alhamdulillah masih mengalir, coba sama sekali gak ada?, bukan gak mungkin para pendaki bakal dehidrasi dan sekarat di sini.

Rencana kami akan pulang ahad pagi, karena hari senin sudah harus ngajar. Jadi kami masih punya satu malam untuk kami manfaatkan. Gue sih pingin ngeliat sunset dari puncak, jadi gue udah ngerencanain bakal ke puncak lagi sore nanti. Tapi apa daya, rencana tinggallah rencana, karena dari siang langit sedang tak bersahabat. Yang ada malah hujan... terus. Malam kedua kami tidak lebih baik dari malam pertama. Tenda bocor, rembes dalam tenda, kaos kaki yang gue angin - anginin dekat api unggun kecil depan tenda kebakar, air bersih habis, oh oh oh... gue cuma bisa istighfar dan ngelus dada. Alhamdulillah ada warga yang tengah membangun tanggul di puncak, mereka juga membuat semacam rumah-rumahan, tempat untuk mereka beristirahat. Pak ojan menghampiri mereka, dan pulang dengan singkong mentah, tanpa babibu kita langsung merebusnya. Meskipun setelah matang rasanya aneh, karena tidak dikasih garam, tapi habis juga. Hehehe.

Sementara Yusuf dan temennya berteduh di tempat istirahat warga, gue, ana, Bagus, dan pak Ojan tetap di tenda yang terpisah. Dan malam ini pun lagi-lagi gue gak bisa tidur, hanya gluntang-gluntung di dalam tenda.

Emang dasar rejeki anak sholeh ya, disaat kami sedang memasak sarapan, ada rombongan pendaki yang mau turun memberikan beberapa kaleng kornet sapi, kami pun menerima dengan sepenuh hati. Hehehe. Dan pas banget kita selesai masak, gas habis. Gapapalah gak minum air anget, yang terpenting perut keisi makanan berat buat modal turun gunung.

Baru sekitar jam sepuluhan kami turun. Gue yang sudah bertekad bakal tetep pake rok pas muncak, sangat bersyukur, karena ternyata Allah mempermudah semuanya. Bahkan tak sedikit pendaki lain yang papasan dengan rombongan kami mengacungi jempol pas ngeliat rok gue.
*Benerkan, kalau udah niat pasti Allah permudah!

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah

Alhamdulillah, hanya butuh waktu sekitar empat jam-an hingga kami sampai bawah dengan selamat. Ana juga tidak banyak berhenti karena jalanannya turunan, sehingga kami tidak sering berhenti.

Oya, sebenernya gue iri pas ketemu pecinta alam yang lagi mungutin botol bekas dll, sampah hasil ulah para perusak alam yang berkedok pecinta alam. Gue yang sepanjang perjalanan naik ngeliat sampah cuma menggerutu dan sedih dengan ulah para perusak alam, iya cuma sebatas itu. Gak berinisiatif ngelakuin sesuatu yang lebih bermanfaat dari ngedumel, gak kepikiran kayak mereka. Gue malu banget ngeliat aksi mereka, akhirnya gue,ana, dan yang lain turut mungutin sampah yang gak seberapa dibandingkan mereka. Ya setidaknya kita bisa membantu menjaga alam, bukan malah merusaknya.

Talkless do more emang selalu lebih baik ya... 

"Pak Ojan, itu apa? kenapa kita gak lewat sana?" tanya gue sambil menunjuk arah para pendaki yang berjalan ke sebuah bangunan.
"Oh... itu pos buat laporan, kalau lewat sana harus bayar."
 "oh gitu... terus bedanya apa pak?"
"ya kalau ilang mereka dicari, kalau kita engga." Jawabnya enteng
"Hah?!" Mlongo. 

Jadi perjalanan kemarin semacam uji nyali atau main lotre ya?, bisa balik alhamdulillah, kalau enggak wa syukurilah.

Sebelum Ana tepar




Penampakan puncak pangrango
Puncak

Ana & Me

Our Team


Perjalanan pulang



Rabu, 15 April 2015

Karena kata orang "Cinta Tak Harus Memiliki"

Terkadang kita perlu merasakan yang namanya patah hati
Menekan pilu yang menghujam dada
Merasakan sesak dan sakitnya meski hanya sekedar untuk bernafas

Terkadang kita perlu merasakan patah hati
Masuk ke dalam lembah hitam dan yang terkelam
Terjatuh untuk kemudian hancur sehancur-hancurnya

Namun cukup sampai disitu saja
Cukup kita tahu dan merasakannya
Jangan pernah lupa untuk bangkit setelah hancur
Menghimpun yang terserak dan Merajut yang terkoyak
cukup hati pernah merasakannya

Jika tak DIA satukan kita bersama seseorang yang kita ingini, atau
Jika seseorang yang selalu kita sebut dalam tiap bait do'a dimalam sepi tak jua melihat kita
Bukan berarti DIA tak adil dan tak meyayangi kita
Juga tidak berarti bahwa kehidupanmu akan berhenti sampai disitu

Sejenak, coba kita tanyakan kembali kepada hati kita
Sebesar itu kah cinta kita kepada makhluk ciptaan-NYA?
Dan sebesar apa cinta yang telah kita siapkan dan berikan untuk Sang Pencipta?
Sudah adilkah kita kepada Sang Pemilik Jiwa dan kehidupan?

Jika kita cemburu seseorang yang kita kagumi bersama orang lain,
bukankah DIA juga berhak untuk cemburu?

Ah bukan itu,
Ini bukan tentang ketidak adilan Tuhan
Tapi tentang diri kita

Seringkali kita hanya tak yakin akan banyak hal
Apa yang DIA titipkan, tak pernah melebihi batas kemampuan hamba-NYA
Apa yang DIA berikan, tak pernah bertujuan untuk memberatkan hamba-NYA
Yakinlah, bahwa Allah tidak pernah keliru
DIA akan memberikan sesuatu dari apa yang hamba-NYA usahakan
Baik keburukan maupun  kebaikan

Sebuah hikmah dari patah hati,
Jika seseorang yang membuatmu merasakan hancur dan membawa sekeping hatimu pergi itu juga dapat menemukan cintanya yang baru, begitupun dirimu

Patah hati bukanlah akhir
Ia adalah awal bagi seseorang untuk mengganti masa lalunya dengan sepotong hati yang baru

Kita hanya harus yakin
Bahwa kebahagiaan telah DIA siapkan di hadapan kita
Hanya saja kita belum menyadari
Hanya saja masih sibuk merutuki malangnya diri

Kita hanya harus yakin
Bahwa skenario-NYA lah yang paling sempurna dan tanpa cela

Kita hanya harus yakin kepada-NYA