Rabu, 15 April 2015

Allah: "Yahudi dan Nasrani, Mereka tidak akan pernah berhenti sampai..."


http://c00022506.cdn1.cloudfiles.rackspacecloud.com/2_120.png








"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Qs. Al-Baqarah:120)


Sekilas tentang makna ayat ini. ولن (artinya: tidak akan) di awal kalimat disini, menunjukkan sebagai sesuatu yang bersifat terus menerus, dari dulu, sekarang bahkan hingga berakhirnya kehidupan di dunia ini. Artinya, Orang-orang Yahudi dan Nasrani, tidak akan berhenti mengajak, mengganggu, bahkan memaksa kita (Umat Islam) untuk mengikuti ajaran mereka, sampai akhirnya mereka sanggup membuat umat muslim berpaling dari ajaran Rasulullah dan mengikuti kemauan (ajaran, kebiasaan, dll) mereka, dalam hal apapun!

Sebagai contoh dalam perekonomian. Jelas, Allah mengharamkan Riba, tapi bagaimana kenyataan di lapangan saat ini?, mayoritas Muslim sudah tidak mempedulikan lagi larangan Allah, mereka memakan uang hasil riba dan mengikuti berbagai macam praktik riba, seperti kredit rumah yang ternyata tidak menggunakan sistem syari'ah, leasing motor, kredit hp, dan lain-lain. Juga dalam hal perdagangan, banyak pedagang yang tidak lagi menggunakan prinsip syari'ah yang Rasulullah contohkan. Alhasil, praktik Riba yang Allah sendiri melaknatnya, menjadi hal yang biasa dimata manusia.

Allah Azza Wajalla berfirman:
http://c00022506.cdn1.cloudfiles.rackspacecloud.com/2_275.png
http://c00022506.cdn1.cloudfiles.rackspacecloud.com/2_276.png



"orang-orang yang makan [mengambil] riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran [tekanan] penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata [berpendapat] sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. padahal Allah telah meng halalkan jual beli dan meng haramkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya lalu terus berhenti [dari mengambil riba] maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [sebelum datang larangan] dan urusannya [terserah] kepada Allah. orang yang kembali [mengambil riba], maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. mereka kekal didalamnya. Allah memusnakan riba dan menyuburkan orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa." (Al Baqarah:275-276)

Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari. Bagi umat muslim, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar dan diabaikan begitu saja. Allah sudah mengatur hubungan antar manusia (habluminannas) antara laki-laki dan perempuan. Ada larangan bagi muslimah agar tidak menampakkan auratnya (seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan), bukan untuk mengekang atau mendiskriminasikan wanita, melainkan untuk kebaikan bagi muslimah itu sendiri, untuk memuliakan wanita. Bahkan berdasarkan penelitian para ahli kesehatan, berhijab ternyata memiliki berbagai macam manfaat. Begitupun dengan lelaki,  mereka diajarkan untuk selalu menjaga pandangannya, menahan nafsunya,karena jika seseorang mengumbar nafsunya justru akan berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Tapi bagaimana faktanya saat ini? Muda-mudi tanpa malu bergandengan tangan, hiha-hihi di pinggir jalan, bermesraan di depan umum tanpa tahu malu. Orang tua yang anaknya tidak memiliki pacar dianggap memalukan dan tidak laku-laku, sementara yang berpacaran dianggap membanggakan. See? ukannya ini juga sudah bisa dikatakan bahwa umat muslim sudah mulai mengikuti budaya BYahudi dan Nasrani? Belum lagi dengan adanya ajang mimisan #ehh, miss-miss-an. yang mana seringkali kemolekan tubuh dianggap sebagai modal utama yang dijadikan sebagai bahan penilaian. Aneh bukan? Padahal pertama kalinya dulu ajang sejenis diselenggarakan untuk kontes anjing, tapi sekarang justru digunakan untuk mengeksploitasi wanita, dan amazingnya lagi, jika ada ulama yang memprotes dan mengecam kontes-kontes sejenis justru dianggap sebagai orang kuno, primitif, anarkis, kampungan, bahkan tak jarang berakhir dengan pembulian dan mengecapnya sebagai orang yang munafik.

Andai mereka tahu bahwa dulu, ketika pertama kali Rasulullah menyampaikan wahyu tentang kewajiban berhijab, banyak muslimah yang waktu itu hidup berkecukupan (cukup makan sehari atau berhari-hari sekali), mereka langsung menyambar kain apa pun untuk menutupi kepala mereka. Mulai dari kain gorden, selimut, dll, sementara sekarang? Duit mah banyak, tapi buat beli baju aja masih kekurangan bahan.

Cukup itu saja sebagai contoh, sekarang coba kita renungkan, berapa banyak lagi perintah Allah yang kita abaikan?

Di akhir ayat dijelaskan kembali, bahwa petunjuk Allah itulah yang benar dan terbaik, karena DIA tidak mungkin menjerumuskan hamba-Nya. Hanya saja kita yang enggan mencari kebenerannya, padahal Allah sudah memberikan ilmu di depan mata.

adakah nikmat-NYA itu terlalu sedikit, atau memang hati kita yang benar-benar sudah mati, hingga petunjuk dan perintah-NYA pun tak kita pedulikan?


Rabbana dzalamna anfusana, waillam taghfirlana, watarhamna, lanakunana minal khosirin...

"Wahai tuhan kami,kami telah bersalah(menganiyaya diri kami sendiri).Dan sekirannya engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami,niscaya dan pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi"

Minggu, 12 April 2015

Mr.Pemberi ft Mrs.Penerima Harapan Palsu (PHP)

Dua jenis orang yang gak mempan meskipun lo nasihatin sampe bibir dower, memble, bahkan nyesek mau mati (oke mungkin ini lebay)

Yang pertama adalah pendukung capres nomor urut dua yang sekarang sudah sukses menjadi pemimpin negara ter- apa ya?, bisa kalian deskripsikan sendiri mungkin

Yang kedua adalah orang yang sedang jatuh cinta.

Kabar baiknya, gue selalu berada disekitar orang-orang berpenyakit kedua ini. Jadilah gue orang yang selalu dimintai pendapat tapi tak pernah didengarkan.

How funny I'am

Dulu jaman putih abu-abu, ada seorang sahabat yang minta pendapat gue. Setelah sms basa-basi, akhirnya dia ngomong tujuan utamanya.

S: "Dia minta lipkiss sama gue, menurut lo gimana?"

*Melongo

"NO!, Big NO!, Hell NO!. Alesannya apa?"

W: "Dia minta bukti cinta gue"

*langsung mau muntah

"Sebagai sahabat, gue gak setuju. Seperti yang lo liat, gue mungkin preman yang gak tahu banyak tentang agama, tapi yang gue tahu hal-hal begitu kan belum boleh dilakukan oleh kita, kalian belum menikah, kalian CUMA Pacaran."

S: "Tapi... dia belum percaya kalau gue belum ngasih itu ke dia."

"Oya?, kalau dia gak percaya ngapain kalian pacaran?. lagian ya, pembuktian cinta gak melulu harus dilakukan dengan hal-hal semacam itu. Menurut gue, kalau dia cowok baik-baik, gue yakin dia gak akan maksa lo melakukan hal semacam itu."

Hening, cukup lama sebelum akhirnya dia membalas sms

S: "Gue bingung. Kalau gue gak kasih, dia bakal mutusin gue."

Ya udah si putusin aja!, Arrgghhh!!!!

"Emang lo yakin hubungan kalian bakal langgeng bahkan sampai ke ke jenjang pernikahan?"

S: "Dia udah janji bakal setia."

Bullshit!, gue cuma bisa memaki dalam hati. Gue gak mungkin marah-marah dalam keadaan seperti ini.

"Oya?, Kita gak pernah tahu siapa jodoh kita kelak. Mungkin, kita bisa berencana, tapi DIA juga yang menetapkan."

send, tapi dia gak bales-bales

"Gue sayang sama lo, dan gue gak mau lo menyesali apa yang lo lakuin dikemudian hari. Gue udah kasih tahu apa yang menurut gue harus gue kasih tahu. Selebihnya terserah lo mau gimana. Udah malam, baiknya kita tidur"

S: "Ok gue rasa lo bener. Thanks ya..."

"Apapun untuk sahabat"

Gue pikir dia udah ngerti dengan itu. Tapi ternyata, bagaikan disambar petir, setelah beberapa hari dia malah menceritakan tentang first kiss nya dengan rasa bersalah dan wajah penuh permintaan maaf. Gue cuma speachless.

See?, percuma ngomong sama orang yang sedang jatuh cinta!

Semenjak itu, gue gak mau terlalu ikut campur dengan orang yang sedang kasmaran, apalagi belum lama ini gue juga sempat dianggap musuh oleh seseorang hanya karena gue ngingetin tentang hubungan dia dengan seorang pria yang belum semestinya dia lakuin. Padahal waktu itu gue udah ngingetin dengan cara paling alus.... banget, eh disalah artikan juga, ya sudahlah!

Well, gak semua niat baik itu ditanggapi dengan respon baik pula. Terkadang malah kita yang mendapat cap buruk dari mereka.

Kalau bukan karena Islam yang mengajarkan umat-NYA agar saling menasihati dan tolong-menolong dalam kebaikan, mungkin gue udah menjauh dari temen-temen gue yang kasmaran, bersikap bodo amat, entah mereka mau pacaran, bunting duluan kek, atau apalah terserah mereka. Tapi kenyatanya gue gak bisa semudah itu berpaling. Gue masih tetep berkewajiban untuk mengingatkan.

Seperti beberapa hari yang lalu, gue tengah menyidang sekaligus disidang oleh dua orang cewek, yang satu pasang muka garang dan yang satunya lagi mesam-mesem asem jawa. Mereka adalah korban PHP seseorang yang gue kenal, dan kabar baiknya lagi, gue adalah salah satu orang yang tahu hal ini sebelum masing-masing dari mereka sadar. Binggo... Lagi-lagi, mereka yang kasmaran, gue yang kena imbasnya.

Sambil sesekali menyendok sop duren keju di depan gue, gue melihat kearah mereka satu persatu.

"Jadi, coba jelasin ke gue sekarang, sejak kapan kalian tahu bahwa kalian di PHP in oleh orang yang sama?" Seperti biasanya, straight to the point.

A: "Ckk lo kenapa gak ngomong langsung di depan kita langsung aja sih kalau udah tahu lama."

"Hahaha. Gue bukan orang bego kali mpok. Ngingetin orang yang lagi Fallin in Love itu gak ada bedanya sama ngomong sama tembok, gue ngomong fakta dan kebenaran pun, yang ada semua nasihat atau usaha gue buat ngingetin pasti dibalik-balikin, di mentahin, atau tragisnya lagi, gue bakal dimusuhin sama kalian"

A: "Hah, maksud lo?"

B: "Intinya percuma ngomong sama orang yang sedang jatuh cinta." Nah, istri pertama ikut berkomentar

A: "Sial!" Mengumpat adalah kebiasaan istri kedua

"Jadi gimana ceritanya?"

B: "Risti inget pas lagi kumpul kita berdua gak ikut gabung tapi malah menyendiri?"

Berfikir sejenak. "Iya gue inget."  inget banget malah, asal kalian tahu, saat itu gue pingin makan kalian berdua karena udah ngilang seenaknya.

B: "Nah, saat itulah semuanya terbongkar. Awalnya gue sengaja-gak sengaja stalking-in WA nya si A dan si dia. Feeling aja, padahal kan selama ini gue gak pernah kepoin hp orang. Pas buka percakapannya gue langsung syok. Ya udah akhirnya langsung aja gue sama A buka-bukaan."

"Disitu kadang saya merasa sakit ya? hehehe (teringat chit-chattan gue sama si B waktu pertama kali dia bilang udah tahu lagi di PHP in).

"Kalian sadar gak sih, terkadang gue capek main kode-kodean ke kalian?, nyindir dari cara yang paling halus, sampe akhirnya gue manggil kalian dengan sebutan istri pertama dan kedua?"

"Waktu itu, gue berharap kalian akan segera sadar. tapi ternyata gak sadar-sadar juga." *pasang muka lelah.

A: "Sebenernya gue udah lama nebak-nebak, lo pasti tahu. Cuma gue belum yakin, sekarang gue udah yakin bahwa lo tahu dari awal, dan lo kenapa gak langsung ngomong aja di depan kita?"

"Elah.Gue bukan orang suci yang bisa menghakimi orang secara langsung kali, gue juga punya banyak pertimbangan. Kalian tahu nggak, kalau otak gue lagi korslet, gue suka ngebayangin, seandainya si dia nantinya menikah dengan si A, gimana ya nasib si B, atau sebaliknya. Gue terkadang juga mikir, walaupun kemungkinannya kecil, mungkin gak kalian bakal jambak-jambakan, saling diem, atau yah... kemungkinan terburuknya mutusin silaturahim pas tahu si dia nge PHP in kalian mungkin? hehe." gue nyengir kuda poni

A: "Dih sorry ya, ngapain sampe kayak gitu, lagian sebelum semua terbongkar gue udah nge-cut dia kok"

"Nge-Cut tapi ngarep maksudnya? Hahahaha. Lo bisa ngomong kayak gini itu sekarang mpok. kalau dulu gue bilang langsung ke lo, gue jamin reaksi lo beda, yang ada juga lo bedua musuhin gue nanti. Gue gak mau mengulang kesalahan yang sama."

B: "Dia masih ngejaga perasaan kita mpok."

Hening

"Setelah itu apa yang terjadi?"

A: "Kita tanya langsung lah ke orangnya, maksudnya apa PHP in kita berdua?"

"Trus?" gak ada adegan tampar-menampar, atau guyurin air keran mungkin?, ah tapi bkan muhrim ya gak bisa nampar."

B: " Tadinya A udah mau nampar dia, tapi gak jadi."

"Wooo, itu pasti seru." gue tersenyum menggoda. "Kenapa gak jadi?" tambah songong

A: "Tadinya emang gue udah napsu, tapi setelah dipikir-pikir lagi, ngapain gue ngotor-ngotorin tangan gue?"

"Anggaplah itu pengendalian diri lo. Respon dia gimana saat itu?"

A: "Dia kayak orang innocent tau gak. Diem aja!" Gue manggut-manggut

"Trus setelah itu kalian gimana?"

B: "Kita blokir semua sarana komunikasi sama dia. FB, WA, BBM, dll"

"Kalian tahu ada cewek lain yang sedang di PHP in sama dia selain kalian gak?"

B: "Pastinya gak tahu, tapi kemungkinan besarnya sih ada lagi."

Istri pertama dan kedua lirik-lirikan

"Udah deh gak usah pake kode, siapa?, dan tahunya dari mana?"

B: "Si Fulanah. Biasanya dia akan kasih sesuatu ke targetnya, dan gue pernah liat si fulanah ini dikasih sesuatu itu sama dia"

"Oh begitu... apa setelah itu dia sama sekali gak pernah minta maaf?"

A:"Minta maaf, SMS, dan isinya sama persis apa yang dia kirim ke gue dan ke B, isinya Copas doang."

"Ya sudah, semoga akhirnya dia sadar. Eh, tapi...  orang tua kalian gak ada yang tahu tentang dia kan?"

B: "He-heh-he. Tau. Kan dia pernah maen ke rumah tanpa kalian-'sendirian'."

"Hah?!, Ap-pa?!, ngapain?" mata gue sukses melotot

B: "Ngerjain tugas, dll"

*bilang aja ngapel!

"Dan Lo ngijinin?, Ckk! parah. Gue pusing sekarang." Pingin ngelemparin gelas sop buah yang kosong ke mereka berdua

B:"Ya kan gue gak tahu kalau dia gitu ke cewek lain."

"Udahlah, udah berlalu, trus ke rumah lo juga?" pandangan gue beralih ke si A

"Enggaklah!, rumah gue mah dirahasiakan dari siapapun kecuali cewek. Tapi gue sempet bilang ke nyokap si tentang dia."

"Yassalam. Ada hal apa lagi yang gue gak tahu?"

B:" Dia pernah ngasih coklat ke kita."

"Hah?!, coklat?!" mulai geli. "Jangan bilang coklat enteng jodoh?"

A, B: "Iya emang itu"

"Widih, ternyata. Dalam rangka apa dia ngasih-ngasih coklat. Kok gue gak dapet?"

B: "Pas dia abis mudik. Ya kan lo bukan targetnya."

"Gue juga tahu itu. Dih, geli banget. Bisa ya sampe lama baru ketahuan, pinter banget mainnya."

B:"Kata temen gue, orang kayak gitu punya bakat buat poligami."

"What, Poligami?. Ish... dapet satu yang shalihah aja harusnya dia bersyukur tuh, lagak pake poligami segala."

B: "Gue malu, dan merasa gue gak layak."

A: "Iya sama, makanya gue juga sering berniat untuk pergi karena gue pikir gue gak pantes."

"Hahaha. Kalian berdua gak usah pada lebay. Kalian pikir gue apa?, berkali-kali juga udah gue bilang, yang baik itu cuma Allah, Allah yang nutup aib-aib kita selama ini. Kalau DIA jadiin aib-aib hamba-NYA itu berbau, gue yakin, bau yang terbusuk dari yang terbusuk adalah bau gue, kalian cuma gak tahu. Kalaupun saat ini Allah ngijinin gue tahu masalah ini, pasti Allah punya maksud lain yang pingin disampein ke gue."

B: "Hiii, serem. Allah emang maha baik ya."

"Gue tulis ya kisah kalian ini di blog."

B:"Ih jangan, entar dia baca gimana?"

"Ya bagus, itu tujuan gue. Kalau habis baca ini dia masih PHP in anak orang ya kebangetan. Jadi sekarang coba kasih testimoni dong buat di blog. 'gimana rasanya dipoligami sebelum di nikahin?', hahaha"

A:"Sialan!" *dilemparin mukena

B: "Rasanya tuh sakit. Kita berharap cukup dia ngelakuin ini ke kita aja dan gak ada korban lain diluar sana. Cukup hati kita aja yang hancur."

"Cie yang merana..., ya udah, kita minta dan do'akan yang terbaik aja sama Allah. Semoga dia taubat dan kita bisa mengambil 'Ibrah dari ini semua."

A, B : "Aamiiin""  ucap mereka bersamaan.

"Oya gaes, kisah kalian itu kayak di film-film gitu ya?, cuman kalau di film mereka nyewa orang ketiga buat ngehancurin hati si cowok."

B: "Gue gak mau ngorbanin orang lain dalam masalah ini. Seperti yang tadi gue bilang, cukup hati kita yang dibikin ancur"

"That's good!. Kalian udah bijak dalam masalah ini. Mungkin suatu saat kisah kalian perlu di filmkan juga, agar spesies PHP berkurang dari muka bumi."

Dan kami pun tertawa, merasa bersyukur, lega karena satu masalah telah kembali terpecahkan.

*Halah, Sherlock Holmes aja gak pernah selebay ini.

Gue gak bisa nyalahin si PHP ini aja, melainkan si ceweknya juga. Si PHP gak akan nerusin modusnya kalau si cewek juga bisa  tegas dan gak kasih lampu hijau ke si PHP.
Tapi dasar yang namanya cewek ya, dikasih perhatian dikit... aja, hati udah berbunga-bunga, dipuji dikit langsung terbang ke awan-awan saking GR nya. Emang udah jadi sifat dasarnya cewek kali.

Allah berfirman:
24:30

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nur: 30)


 

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” (An-Nur:31).


Baik laki-laki dan perempuan, Allah wajibkan untuk saling menjaga kehormatannya, pandangannya. Karena itulah yang tebaik di Mata Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Wallahu a'lam bishawab 
Semoga Allah Azza Wajalla menjauhkan kita asemua dari fitnah dunia. 

Aamiiin Aamiiin ya Rabbal 'alamiiin



Rabu, 01 April 2015

Sahabat Jinggaku

Benarkah dia sedang menunggu seseorang yang tengah jauh di mata, atau hanya sekedar prasangkamu saja?

Bukankah wajar saja jika dia menanti sahabatmu yang dicintai dan digilai oleh nya sejak dulu?

Jika itu mampu membuat sahabatmu bahagia, mengapa kau selalu mengatakan
"Ingin dia mendapatkan yang jauh lebih baik dan lebih baik lagi, yakinkah kau akan alasanmu itu?"

Lalu siapa, siapa yang kau maksud yang lebih baik dari dirinya?
dirimu?

ini gila!

Kau bahkan selalu mengisi waktu luangmu dengan hal-hal bodoh dan tidak berguna, bagaimana kau berfikir bahwa kau lebih baik dari penggila sahabatmu itu?

Kau gila!

Mengapa tak kau katakan bahwa hatimu terluka karena kau tak rela harus berbagi kasih sahabatmu dengan orang lain?

Mengapa kau selalu mencari berjuta alasan hanya untuk menutupi rasamu?

Dan dimana janjimu dulu?
Dimana dirimu yang dulu yang selalu berteriak bahwa sahabat adalah sahabat, dan selamanya akan tetap menjadi sahabat

Ya Tuhan....
kenapa tak sekalipun kau berbuat sesuatu yang benar?

Kenapa sekalipun kau tak pernah bisa mencintai orang yang tepat?

Dalam seumur hidupmu, lakukanlah hal yang berguna sekali saja, Jinggaku

Selasa, 31 Maret 2015
23.36 WIB

Kos39hjTen

Kamis, 05 Maret 2015

Agar Perbedaan tetap Indah





Di kotak-kotakkan atau hanya sekedar "merasa" di kotak-kotakkan menjadi hal yang biasa dalam setiap hubungan antar individu. Yang membedakan keduanya adalah, kalau di kotak-kotakkan itu, jelas ada orang yang secara terang-terangan membedakan kita ke dalam kelompok satu dengan kelompok lain, sementara "merasa" di kotak-kotakkan adalah keadaan dimana semua orang menganggap kita biasa saja, tapi diri sendiri merasa dijauhi dan dibedakan, akhirnya diri sendiri lah yang justru menjauhi

Di suatu tempat sendiri gue di masukkan ke dalam kategori anak muda yang kurang fashionable, kalem, dan penurut, atau lebih sering dikatakan "Jadul", sementara ditempat lain orang menganggap gue ini bawel, galak, begini dan begitu.

Well, seringnya kalau ada orang yang mau ngomong begini dan begitu gue sih gak suka ambil pusing. Karena kebanyakan orang menilai dari apa yang mereka lihat, mereka belum tentu memahami apa yang kita lakukan, jadi ya whatever lah gimana orang mau nilai.

Menurut gue, orang berperilaku berbeda di suatu tempat dan tempat lain itu bukan hanya karena sekedar cari muka, munafik agar terlihat baik dimata orang lain atau sejenisnya. Contoh kecilnya, di kantor gue emang gak suka banyak ngomong karena gue menghargai orang-orang di kantor, entah itu atasan maupun teman-teman yang usianya jauh lebih tua, jadi setiap kali ngomong gue jaga nada, intonasi, bahasa, dll, gue menyebut itu sebagai cara gue bersopan dan santun. Sementara kalau lagi di kampus atau ketemu teman-teman di luar, gue jarang diem kalau bukan karena lagi laper atau bete. Nah dari sini orang terkadang salah menilai.

Gue di pernah dianggap munafik hanya karena seseorang yang menilai gue kalem itu tau gue suka naik gunung. Masalahnya adalah "anak gunung" versi pemikiran orang itu adalah sejenis orang-orang kurang kerjaan yang nyia-nyiain waktu dan tenaganya untuk hal-hal yang gak penting, juga anak gunung laki-laki dan perempuannya itu gak bisa dipercaya di gunung gak bakal "ngapa-ngapain". Pokoknya isi kepalanya hal negatiflah tentang anak gunung. Orang-orang kayak gini ini, mau dijelasin sampe bibir dan mata kedutan, bakal gak ada hasilnya. Alhasil gue cuma diem dan sering dianggap gak ada sama itu orang meskipun kita bernafas di tempat yang sama. Nunggu waktu Allah yang kasih jalan aja. Ngotot gak ada gunanya.

Memaknai perbedaan emang gak mudah kalau kita masih menganggapnya sulit. Di kantor, gue juga ketemu orang dengan karakter yang berbeda. Berbedaan pendapat juga pasti pernah ada, tapi kaita juga punya beberapa persamaan. Seperti bakal segera napsu setiap ngeliat air bahkan kuat berendem bersama selama berjam-jam di kolam renang, kita juga suka gak suka ngeliat potograper nganggur, heheh. Alhamdulillah kita bisa hidup beriringan.

Tinggal dilingkungan dengan berbagai macam perbedaan itu sesuatu banget. Kudu bener-bener saling ngertiin, saling ngehargain, saling ngejaga, dan kudu-kudu yang lainnya.

Sesuatu itu indah ketika kita menganggapnya indah, dan sesuatu itu buruk ketika kita menganggapnya buruk

Perbedaan itu rahmat, anugrah, berkah. Buat apa saling sikut, tendang, mencaci, berprasangka buruk, dan melakukan hal-hal negatif lain?

Toh setiap perbuatan bakal balik lagi ke diri sendiri, ye kan?



Jumat, 13 Februari 2015

Bukan Patah Hati

Jangankan melihatnya, mendengar suaranya saja, hatiku sudah ngilu, sakit

padahal untuk mendapatkannya aku harus berkorban besar,
tapi baru beberapa waktu berlalu, hatiku sudah dibuatnya hancur
dua minggu!  dan kita harus berpisah

aku tahu ini salahku
karena lupa dan ceroboh
tak menjaganya

berpisah dengannya selama tiga bulan, hanya membuatku frustasi

aku ingin menunggunya kembali disini, tapi orang-orang sekitarku seakan tak peduli dengan perasaanku, mereka mencibir dan memojokkanku

akhirnya aku "terpaksa" mencari penggantinya

aku sudah nyaman dengannya, dia sudah menemaniku ke tempat-tempat indah

hatiku mencelos mengingatnya lagi

Tujuh bulan berlalu, dan akhirnya dia benar-benar kembali

tapi aku gamang

tak mungkin aku memiliki keduanya, terlalu berlebihan. Aku hanya boleh memilih salah satu, dia atau yang sekarang kumiliki

Mungkin dia lebih bagus dan famous, tapi aku tak bisa kembali memilihnya
aku harus belajar setia

akan kubiarkan dia bersama yang lain, meski sakit dan ngilu itu masih ada

aku akan belajar, menjaga apa yang aku miliki sekarang

belajar untuk bersyukur


Xiaomi vs Lenovo

maaf aku pilih Xiaomi
selamat tinggal Lenovo kuh

#purapurategar

Senin, 09 Februari 2015

Dear my Lovely Bro...

Harus mengatupkan gigi ini rapat-rapat dan berusaha untuk tidak mendongakkan kepala, tidak memandang lelaki disebelah yang tengah menunaikan shalat maghrib (kau tahu?, ini sangat susah!)

teringat beberapa waktu silam, bertahun-tahun yang lalu tepatnya, ketika kami masih sama-sama usil

dia akan tertawa terbahak dan membatalkan shalatnya hanya karna ku dongakkan kepalaku, memandang kearahnya dengan puppy eyes dan senyum devil,  menggodanya saat shalat. Dia akan tertawa, mengusirku atau pindah ke kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.

Lelaki yang dulu suka marah-marah ketika adik perempuannya ini bertingkah seperti layaknya laki-laki. Memanjat pohon, masih keluyuran menjelang maghrib, tertawa terbahak dan menyanyi dengan suara keras di pinggir jalan, main di sawah, menunggang kerbau, memanen tebu dan singkong di kebun orang, ikut mencari uang tambahan dengan memanen melinjo dikebun simbah bahkan nyaris sekarat karna terjatuh dari pohon setinggi dua-sampai tiga meter sampai membuat waiyem pucat-pasi, ketakutan setengah mati, dan seketika itu juga dia mijitin aku yang sesak nafas (ini rahasia aku dan waiyem sebenarnya)

adiknya yang selalu menjadi kepala suku bagi anak-anak kecil dan memimpin petualangan-petualangan kecil ketengah kebun yang tak pernah kami lewati, dan bersusah-payah mencari jalan pulang!

Dia akan marah, menyuruhku diam dan menjadi anak perempuan baik-baik, meskipun dia tahu dia gagal. Karena aku hanya akan bungkam ketika dia sudah memandangku dengan mata merahnya, tak marah dengan memaki

Dia, keras hanya di luar, tapi lembut dan penuh perhatian di dalam.

Dia pernah menyogok ku dengan fried chicken pinggir jalan (waktu itu makanan ini sangat istimewa), ketika dia tak menjemputku yang pulang kesorean lantaran mengikuti mencari jejak ketika SMP (lebih tepatnya dia sudah menjemputku, hanya tak mau sedikit menunggu lebih lama karena dia sudah punya janji dengan kawannya). Aku mendiamkannya, tapi dia terus tersenyum dan meminta maaf, berulangkali mencoba menjelaskan semuanya

sudah lama ya mas, kita  tak lagi naik sepeda bersama (aku duduk di stang sepeda, sementara kau mengemudi kencang dengan adikmu yang lain membonceng dibelakang. Dan saat melewati  jundalan atau jalan tak rata, bahkan tanah becek, kita akan berteriak bersama, atau jika beruntung, terjungkal dari sepeda entah dengan posisi bagaimana, dan kemudian akan disambut dengan tawa yang tak dapat diartikan. antara sakit dan bahagia

terimakasih mas, abang, kakak, atau apapun namanya

terimakasih pernah mengantarku ke sekolah dengan motor butut, bahkan sampai kuliah disini pun tak jarang aku menyusahkanmu. Menembus hujan lebat, ban motor bocor, dan kedinginan di bawah halte saat mengantarku untuk mengejar dosen pembimbing.

Terimakasih atas curahan kasih sayang yang meski tak pernah kau tunjukkan, namun selalu membuatku merasa wajib untuk selalu bersyukur. Bersyukur karena Allah mentakdirkanmu menjadi keluargaku, kakakku.

Meskipun ku tak tahu, kau entah kapan akan membaca ini, tapi aku ingin mengatakan ini,
"Aku Menyayangimu"

meskipun kasih sayangku tak sebesar kasih sayang yang kau miliki dan berikan kepadaku.

Semoga sampai kelak, kau tak akan pernah kecewa padaku, apapun yang terjadi.

tak peduli rendahnya pendidikanmu, apa pekerjaanmu

Aku ingin selalu menyayangimu

Mas,
Jadilah suami dan ayah yang shalih lagi men shalihkan anak dan istrimu suatu saat nanti

Minggu, 01 Februari 2015

Pagi ini bahkan dimulai terlalu pagi dari jadwal biasa.
Pukul 06.00 sudah berangkat ke kantor. Bukan, gue bukan pegawai rajin yang rela masuk dihari libur. Meskipun faktanya tak jarang juga ke kantor hari sabtu atau ahad. Pagi ini gue ke kantor untuk menitipkan motor, dan selanjutnya gue naik metromini ke lampu merah Matraman, janjian sama sama temen untuk mengikuti pelatihan memanah di Pasar Rebo.

"grek.. ng..  grek" gue menoleh ke belakang dan mendapati bibir sebuah mobil sport silver nempel dibelakang si Ojan (Fauzan;motor bokap).

Dengan pelan gue majuin motor, sementara si empunya mobil memundurkan mobilnya. Segera gue pinggirin motor buat "ngobrol" dengan bapak atau kakek dalem mobil, karena Qadarullah spakboard  (maaf kalo salah sebut) motor sama plat-platnya masuk kedalem (mblesep)  ke atas ban.  Ibarat hidung mancung berubah pesek gara-gara kena bogem keras. Tapi baru gue turun dan mendekati mobil, dia malah komat-kamit baca mantra sambil tancap gas.

Astagfirullah...

beberapa orang sampe ngeliatin, untung masih sepi, jadi belum banyak orang dan gak mengundang keramaian. Gue hanya dapat memandangi mobil itu berlalu, sampai benar-benar menghilang (mirip orang yang lagi patah hati melepas kekasihnya pergi) #korbanfilm

Kejadian pagi itu sudah menghilangkan sebagian mood gue. Dengan pelan gue lanjut jalan ke kantor. Sesuai rencana gue langsung nitipin motor dan balik ke jalan raya buat nunggu metromini.

Di tengah perjalanan...

"Bawa helm kan, ane cuma bawa satu?"

Yassalam, kenapa gue malah lupa sama helm ya?

"gak." sambil liat jam
"ya udah duluan aja deh, ane ikut next time aje." langsung tutup hape dan balik ke kantor.

"Bagus, beneran ilang mood gue!" ngomong sama aspal

Gue abaikan beberapa sms berikutnya dari temen gue itu, karena kalau diterusin percuma, kepala gue masih berasep, mending nanti dibicarakan pas ketemu.

Sambil nunggu siang dateng, gue pun asik ngurusin dagangan di kantor. Rencana besar ke dua gue hari ini adalah, besuk ibu temen gue di RS Serang.

Setelah beberapa hari sebelumnya mendiskusikan "waktu yang tepat" menurut kita, akhirnya diputuskan kumpul  sabtu, 31 Januari 2015 pukul 16.00 WIB di Stasiun Manggarai.
Jam empat lewat gue ketemu sama Nadbee di peron lima. aturan kita pergi berempat, ade akan menunggu di Stasiun Tanah Abang, sementara yang satu cowok mendadak ngebatalin karena ada urusan "Penting" dengan orang "Penting" nya juga. (padahal tadi dia sendiri yang bilang udah di Stasiun Depok mau beli tiket)
ah sudahlah, mungkin dia lelah.

Cukup lama menunggu, keretapun datang. Setelah sebelumnya menguping pertanyaan ibu-ibu ke petugas di dalam gerbong, dengan mantap kami yakin bahwa ini adalah kereta yang tepat, menuju Tanah Abang (sebelumnya ibu-ibu yang duduk disebelah kami dengan tujuan yang sama pun terlihat cukup antusias dan langsung menuju kereta yang kami naiki ini).
Ketika di dalam, seorang cewek manis bersikap ramah dan mencoba membuka pembicaraan. Lebih tepatnya dia sedang bingung.

"ini ke tanah abang kan?"
"iya" jawab nadbee
"emang lewat cikini ya?" tanyanya lagi
"emang lewat cikini?" giliran nadbee nanya ke gue
"hmm?, ehm..." gue liat gambar rute di atas pintu
"kayaknya iya deh" jawab gue dengan senyum tak kalah manis
*ueeggg

setelah melewati beberapa stasiun, gue mulai curiga.

"Stasiun Juanda, Jayakarta, kok kayak mau ke...., apa mungkin kita...?, tapi kok petugas tadi?. Ah mungkin gue salah. Liat nanti aja." batin gue.

Ternyata cewek tadi juga terlihat curiga. Pas gue beradu pandang sama dia, akhirnya kita berdua tertawa, sementara si nadbee masih bengong.

"Tuh kan bener, makanya kok tadi gak ngelewatin Stasiun Sudimara, Kebayoran." ucap cewek tadi

"Iya sama, tadi juga mikir kok gak sampe stasiun yang biasa ya?"

Kami bertiga pun berbagi tawa. Kami segera mencari kereta ke Manggarai, namun malang tak dapat ditolak. Kereta harus antri untuk bisa masuk Manggarai, karena di perlintasan Stasiun UI terdapat pohon tumbang. terjadilah antrian sampai di stasiun juanda (kereta kami berhenti disana. Padahal jika normal, Jakarta Kota-manggarai tak sampai 30 menit, begitu juga sebaliknya.

Ya Allah, kasian si Ade udah lama nunggu di Tanah Abang. Mana sandalnya putus. (bukan cuma pasangan manusia aja yah yang putus, sandal gak mau kalah)

Dua jam kemudian (19.00 WIB) barulah kita sampai kembali di Manggarai, dan disambut oleh rintik gerimis yang semakin lebat.

Hujan!
*Super Girang

"Allahumma Shayyiban Nafi'an"

Kita (gue dan nadbee) berpisah dengan cewek tadi, karena dia langsung menunggu kereta yang ke Tanah Abang, sementara kita mengejar waktu Shalat Maghrib.

Ade masih aktif bertanya via WhatsApp Messenger, sementara kita berdua sesekali membalas karena terkendala signal.

"Kereta sore ke Serang lewat jam empat tadi, ada lagi jam sebelas malem." kabar "baik  dari ade kami terima usai shalat maghrib.

"gimana nih?" tanyanya lagi.
"coba tanyain, lama perjalanan berapa?, trus kereta paling pagi Serang-Tanah abang jam berapa?"

"2-3 jam, besok 07.15" balasnya

"wah, gue gak keburu mbe. kumpul di kantor jam setengah sepuluh pagi besok."

"iya gue juga."

"jadi gimana?" kami belum balas chatt ade

"kata gue sih lanjut" komentar nadbee

"gue juga pinginnya iya. Gini, kita tanya jadwal keretanya lagi, kalau petugas bilang terpagi jam enem, malam ini kita jalan." gue mencoba menawarkan pilihan

"ok." nadbee segera memberitahu ade. Tapi ade gak bisa karena sudah banyak agenda ahad nya

"Ba'da Isya kita tanya ke Informasi."

***
"Disini gak ada jadwal, kalau mau tahu harus ke Tanah Abang." nadbee menjelaskan jawaban dari petugas stasiun

"jadi?"

"Ke tanah abang sekarang"

"hayuklah kita malam mingguan"

Entah kenapa kereta Tanah abang muncul di peron dua, padahal biasanya di peron lima.

Kereta ini baru berhenti di satu stasiun, dan tidak ada informasi apapun dari petugas melalui pengeras suara, anehnya, kami sudah tiba di Stasiun Duri!

"Astagfirullah mbe......., Tanah abang udah kelewat." kami sama-sama terkekeh, mengikuti penumpang yang sudah turun terlebih dahulu.

"asem banget tiap pergi ame lo ris"

"heh, nyalahin aja. Ada juga gue yang apes mulu jalan sama lo"

"eh gue coba tanya petugas dulu"

"sekalian tanya arah balik ke Manggarai ys mbe"

"iye" nadbee segera berbicara dengan petugas peron

"Kereta adanya berangkat jam enem pagi, sama jam enem sore ke serang. kalo dari serang paling pagi jam 7.15"
*lemes

"ya sudah balik?"

"balik" nadbee mengangguk mantap

kami tak bisa segera pulang, harus cukup lumutan baru kereta arah Bogor datang.

"kok palangnya gak mau kebuka ya?"
"pinalti lebih dari satu jam" gue baca keterangan di layar tempelan kartu tiket kereta.
"oh iya, tiket gue harusnya sampai Tanah abang, tapi tadi sampai Stasiun Duri." Batin gue lagi

"Mas-mas, ini tiket saya kenapa ya?"
*pasang muka polos
"wah ini pinalti mba, kartunya ditahan ya?" ucapnya sambil membukakan pintu dengan kartunya. Gue liat nadbee yang cekikikan. Dasar!

karena sudah malam, nadbee akhirnya nginep di kosan.

"kenapa sih lo senyum-senyum" tanya gue ngeliat nadbee yang dari tadi makan nasi goreng sambil cengengesan sendiri
"tadi bilang laper."

"nggak papa. Hihihi" jawabnya

Gue lirik Abang Nasi goreng, cuma mastiin dia gak curiga. khawatir gue dikira bawa orang gila.

"Ini kesekian kalinya gue nyasar karna ada lo. pas ini, pas itu, pas itu juga. "

" ish ish ish. pulang lo, jangan tidur di kosan!"

"wkwkwk"

kami tertawa, menikmati malam minggu seru.
Tawa itu seketika berubah menjadi beban seketika. Ngilu-ngilu ditubuh akibat kecelakaan kecil tadi pagi juga turut terabaikan.
Kami  membaca pesan dari teman-teman yang sudah mempercayakan kami untuk membesuk.
Untaian do'a-do'a tulus yang mereka berikan untuk kami yang nyatanya batal melaksanakan misi mulia, menjalankan salah satu Sunnah Rasul "mengunjungi saudara yang sakit."

"Maaf untuk semua"

Semoga Allah angkat sakitnya, menjadikannya penggugur dosa, dan penguat keimanan.

Syafahallahu syifa'an

dan butiran-butiran hikmah dari perjalanan hari ini, biarkan kami yang merasakan. Karena besar nikmat-NYA tak mampu di tuliskan.